
Setelah selesai berbicara dengan William, Ervin mengalihkan tatapannya lagi pada Bella. Karena dia ingin memberi informasi kalau Alland ada di rumahnya. Dia berencana untuk meminta izin mengasuh pria kecil itu, supaya dia tidak kesepian.
"Nona," panggil Ervin yang membuat Bella langsung mengangkat pandangannya. Dan William adalah orang yang paling tidak suka ketika ada pria lain yang mengajak Bella bicara.
"Uncle, aku tidak mengizinkan Uncle bicara dengan dia!" cetus William tanpa peduli tatapan semua orang, termasuk Bella. Eliana pun langsung menyentuh lengan putranya yang tiba-tiba sangat posesif itu.
"Mungkin ada sesuatu yang ingin Uncle Ervin katakan, jangan berlebihan seperti itu, Will!" tukas Eliana memberi pengertian kepada sang anak. Namun, William tetaplah William. Pria yang tidak memiliki toleransi, apalagi tentang wanitanya.
"Kalau ada yang ingin Uncle katakan, katakan saja padaku, biarkan dia beristirahat!"
Semua telinga yang mendengar kalimat itu mendadak merinding. Karena untuk pertama kalinya mereka melihat si wajah datar berubah menjadi bucin akut, sampai tak ada yang boleh bicara dengan Bella, selain dia.
Hih, andai boleh, Xania yang berada di dekat sang ibu ingin sekali memukul kepala kembarannya. Namun, sayang pria itu sedang sakit.
"Aku keluar dulu, aku mendadak mual!" putus Xania memberikan interupsi, dari pada dia harus melihat tingkah William yang lebih dari ini.
Namun, tidak ada yang menimpali ucapan wanita itu. Karena mereka sadar, itu semua bentuk sindiran untuk William. Sementara yang disindir mendadak tidak peka, dia senantiasa bungkam dengan mata yang menatap datar ke arah Ervin.
Ervin meneguk ludahnya dengan kasar. "Aku hanya ingin memberitahu dia, Will. Kalau adiknya ada di rumahku."
Mendengar itu, Bella langsung membulatkan kelopak matanya. Kemarin saat Zack menemuinya, dia sempat meminta pria itu untuk mencari keberadaan Alland. Namun, ternyata pria kecil itu ada di rumah ayah Deborah.
__ADS_1
"Tuan, apakah Alland baik-baik saja?" sambar Bella, tanpa menunggu izin dari William. Karena dia pun sangat mencemaskan adik bungsunya itu.
Sebelum menjawab Ervin melirik William yang tak memberi reaksi apa pun. Sama seperti beberapa saat lalu, wajah pria itu tidak pernah berubah, membuatnya sedikit was-was.
"Dia baik-baik saja kok, tapi kemarin dia sempat menangis terus saat tahu ibunya meninggal, karena dia tidak tahu harus pulang ke mana."
Wajah Bella berubah sendu, dia yakin kalau Alland pasti sangat sedih dan ketakutan. Sementara dia tidak bisa memberikan perlindungan apa pun. "Kasihan sekali dia. Dia pasti berharap aku datang. Tapi ternyata aku tidak bisa ke sana."
Dari tempatnya berbaring William bisa melihat perubahan raut wajah gadis itu. Akhirnya dia yang angkat bicara. "Biar aku suruh Jo menjemput adikmu."
Perhatian Bella langsung berubah haluan. Sampai detik ini dia terus merepotkan William, karena Ellen pun ada di rumah keluarga besar pria itu. Tadi pagi Ellen dibawa pulang oleh Caka, karena rumah sakit memang bukan tempat yang baik untuk anak kecil.
"Will, biar nanti Uncle datang lagi membawa Alland ke sini," ujar Ervin memotong ucapan Bella. Sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan rencana mengasuh Alland. Jadi, biarlah pria kecil itu bertemu dulu dengan kakaknya.
William mengangguk setuju, sementara jam besuk sudah habis. Jadi, orang-orang yang ada di dalam diharapkan untuk keluar, supaya William dan Bella bisa beristirahat.
Saat semua orang sudah pergi, William melirik ke arah Bella. Dia menggeser tubuh, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya, supaya Bella berbaring di sana.
"Nanti sempit," rengek Bella, tak ingin membuat William merasa tak nyaman, apalagi masih ada luka di tubuh pria itu.
Namun, William tetap keras kepala. Dia terus menggerakkan tangannya, sebuah isyarat kalau Bella tidak boleh membantah.
__ADS_1
"Mau kau yang ke sini? Atau aku yang ke sana?" tawar William, karena masih melihat Bella yang bergeming di tempatnya.
Bella menghela nafas panjang, tak ingin William banyak bergerak dia pun segera turun dari brankar dan berpindah ke sisi pria itu. William menyambutnya dengan suka cita, bahkan kecupan singkat di dahi langsung Bella dapatkan.
"Apakah Tuan nyaman kalau aku berbaring di sini?" tanya Bella dengan tatapan polosnya. Tatapan yang membuat William ingin mengambil kendali. Namun, sayang tubuhnya masih belum sanggup untuk merealisasikannya.
Cletak!
Satu sentilan di dahi Bella. Gadis itu berubah memberenggut, karena William malah menyakitinya.
"Kau memanggilku apa?" tanya William dengan tatapan tak suka. Bella pun langsung tersadar, karena William tidak ingin lagi dipanggil seperti itu.
"Maaf, tapi aku bingung harus memanggilmu apa," jawab Bella dengan jujur. Dia pun menggigit bibirnya sambil berpikir, tetapi tak ada satu pun panggilan yang pas.
"Apa?" tanya William yang memiliki kesabaran setipis kulit bawang dibelah tujuh.
"Aku tidak tahu," rengek Bella dengan otak yang mendadak blank. Karena tak ada satu pun kata yang melintas di sana. Lagi pula aneh saja kalau pria dengan tampang garang itu ingin dipanggil dengan panggilan yang manis.
"Sambil berpikir, kau harus menciumku! Kau tidak boleh berhenti sebelum menemukannya," cetus William, tiba-tiba memberikan sebuah ultimatum. Bella pun membulatkan mata, tetapi belum sempat memprotes bibir William sudah menyergap bibirnya lebih dulu.
Masih sama seperti dulu, ciuman pria ini tidak pernah berubah. Selalu membuatnya mabuk dan akhirnya terbuai juga untuk membalas. Sesaat decakan mengisi ruang kosong itu, hingga lidah mereka saling membelit satu sama lain.
__ADS_1