Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 65. Hukuman


__ADS_3

William terpaksa pulang ke rumah untuk memenuhi panggilan ayahnya. Dengan jantung yang senantiasa berdebar keras, William mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang begitu tinggi. Seperti angin berhembus, saat kendaraan roda empat itu melintas, dedaunan kering langsung berterbangan dan kembali berserak.


Hingga tak butuh waktu lama, akhirnya William tiba di mansion keluarga Tan. Seperti biasa, tak ada keraguan apa pun di dalam pria itu, seperti sudah siap dengan segala konsekwensinya. William langsung turun, dan kedatangannya disambut baik oleh pelayan maupun penjaga.


"Anda sudah ditunggu oleh Tuan Caka di ruang kerja, Tuan," ucap salah satu dari mereka. William mengangguk paham, ia yakin semua ini ada sangkut pautnya dengan keputusan yang ia buat untuk memutuskan Deborah.


William melangkah lebar, ia tidak memiliki waktu banyak sekarang, karena bisa saja Bella dalam bahaya. Karena Dimitri masih berkeliaran di sekitar mereka.


William mengetuk pintu ruangan itu, kemudian membukanya hingga ia bisa melihat sang ayah yang sudah menunggunya. Pria paruh baya itu tengah menghisap rokok, tetapi saat melihat putranya datang, dia langsung membuang benda itu dan mengusaknya kasar.


Sebuah tatapan tajam langsung menyambut William, sebuah tanda bahwa hari ini ia tidak akan keluar dari mansion dalam keadaan selamat.


"Ada perlu apa Daddy memanggilku?" tanya William tanpa basa-basi, dia berusaha bersikap layaknya seorang anak pada ayahnya. Karena tak ingin menambah kemurkaan Caka.


"Jangan berpura-pura bodoh! Kau masih bermain dengan para wanita setelah bertunangan dengan Deborah? Bahkan menyimpan salah satu dari mereka di apartemenmu?" tanya Caka seraya mengambil beberapa langkah supaya ia bisa lebih dekat dengan William. Dilihat dari mana pun, wajah putranya memang sangat mirip dengannya. Bahkan mereka memiliki sifat yang sama, yaitu irit bicara dan jarang tersenyum.

__ADS_1


"Aku sudah memutuskan pertunanganku dengannya." Alih-alih menjawab William justru memberitahu sang ayah, bahwa ia tidak lagi berhubungan dengan Deborah. Kemudian ia mengambil cincin yang ada di dalam saku jasnya, sebagai tanda bahwa semuanya memang sudah selesai. "Aku tidak bisa memakainya lagi."


PLAK!


Satu tamparan keras langsung melayang ke pipi William. Namun, pria itu masih berdiri tegak, seolah tak merasakan apa pun. Karena semua ini tak ada apa-apanya ketimbang murka sang ayah.


"Aku sudah membebaskanmu selama ini. Tapi bukan berarti kau bisa semena-mena. Apalagi sampai menghancurkan hati Ibumu!" sentak Caka dengan kemarahan yang begitu besar. Melihat putranya tumbuh menjadi seorang penjajah wanita, tentu membuat hatinya sakit. Apalagi William menyeret Deborah masuk ke dalamnya. "Apa tidak cukup selama ini kamu bermain-main? Hah? Lihat adik-adikmu, tidak kah kau berpikir untuk hidup normal seperti mereka?"


William menelan ludahnya kasar. Dia tahu dan sadar, apa yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Namun, sebuah rasa tak percaya akan adanya cinta yang suci, membuat dia membeku. Dia tidak ingin mengenal lebih dalam lagi tentang hubungan, karena baginya semua itu hanya status yang tidak penting.


"Alasan? Kau ingin membicarakan omong kosong apalagi?! Kau ingin bilang kalau pelayanan wanitamu sangat memuaskan?" cibir Caka seraya mencengkram kuat jas William. Dia tahu sang anak adalah orang yang keras, dan juga tangguh terhadap musuhnya. Maka dari itu pelajaran yang akan ia berikan pun tak main-main. "Buka pakaianmu dan berdiri di sana!"


Caka menyentak tubuh William hingga kaki pria itu sedikit bergeser. Tanpa bicara William langsung melucuti pakaiannya, dia berdiri di tempat yang Caka tunjuk.


"Ini akan menjadi hukuman untukmu!"

__ADS_1


William hanya mampu bergeming saat sang ayah menarik sabuk kulit dari pinggangnya. Dia seperti tak memiliki rasa takut, karena dia malah terkesan memerintah. "Dad, cepatlah. Jika memang ingin menghukumku, lakukan segera, aku tidak memiliki waktu banyak."


"KURANG AJAR!"


Mendengar itu kemarahan Caka semakin menjadi-jadi, dia langsung melayangkan sabuk tersebut ke arah tubuh William. Hingga menyisakan rasa sakit yang teramat sangat. Namun, sekali lagi William hanya mampu menerimanya dengan tangan yang terkepal dan gigi yang mengerat.


Crash!


Suara itu terus mengudara, hingga punggung William langsung dipenuhi oleh bercak kemerahan bekas sabetan yang diberikan oleh Caka. William menutup matanya dalam-dalam, sambil terus menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Sementara nafas Caka sudah terengah-engah, dengan tangan gemetar dia kembali menyabetkan sabuk tersebut. Hingga William mengerang keras dan ambruk tepat di depan kakinya.


Hah! Hanya ada suara nafas mereka yang beradu di ruangan itu. William berusaha mengangkat kepalanya untuk melihat wajah sang ayah, ia tahu Caka tidak benar-benar benci padanya, Caka hanya kecewa.


"Jika memang Daddy belum puas, Daddy boleh menghajarku lagi. Tapi tolong, biarkan aku pergi dulu, Dad. Ada sesuatu yang harus aku selesaikan. Setelah itu, Daddy bebas untuk melakukan apa pun pada tubuhku. Aku mohon, Dad ... biarkan aku pergi," mohon William kepada ayahnya dengan tatapan mengiba. Sesuatu yang tak pernah bisa ia lakukan terhadap orang lain.

__ADS_1


__ADS_2