
Dunia Bella seakan runtuh dalam sekejap, semua kebahagiaan yang tercipta antara ia dan William perlahan mengabur menjadi bayangan semu. Saat Deborah mengatakan bahwa William adalah calon suami wanita itu. Sumpah demi apapun, Bella tak dapat menerimanya. Karena selama ini William sangat peduli padanya.
Namun, Deborah justru menunjukkan bukti telak, yakni sebuah cincin yang melingkar di jari manis wanita itu. Ya, harusnya Bella sadar, bahwa benda kecil itu mirip sekali dengan milik William. Bahkan ia sangat yakin, bahwa parsel buah yang sempat ia beli pun William berikan untuk wanita ini.
Semua fakta itu tak bisa Bella tepis. Akan tetapi apa artinya cincin yang William berikan padanya? Apakah semua itu tak berarti apa-apa. Bahkan mereka sudah cukup lama bersama, apakah itu semua juga tak ada artinya?
"Kamu kenapa, Bell?" tanya Deborah saat melihat mata Bella memerah dengan bibir yang tergigit. Seperti sedang menahan tangis. Ya, bagaimana bisa Bella menyembunyikan perasaan terkejut sekaligus sedih saat mendengar pria yang dicintainya memiliki wanita lain, yang bahkan berstatus calon istri.
Bella tergagap dan nyaris tak sanggup bicara, karena ludahnya tercekat di tengah tenggorokan. Sakit, dadanya seperti sedang diremat oleh tangan tak kasat mata, hingga menyisakan lara yang begitu hebat.
"Kamu pasti tinggal di sebelah ya?" tanya Deborah, berpura-pura bodoh, seolah ia tak tahu kalau Bella dan William memiliki hubungan di belakangnya.
Bella tak berani untuk mengangkat kepalanya. Sungguh dia tak bisa menahan semuanya lebih lama, dia ingin menangis sekarang. Bahkan lututnya sudah gemetaran sejak tadi, seakan tak sanggup lagi menahan bobot tubuhnya.
Sementara Deborah begitu puas melihat pemandangan itu. Ya, seharusnya Bella bisa merasakan bagaimana sakitnya menjadi dia. Seseorang yang berstatus tunangan, tetapi dianggap saja tidak.
Deborah merogoh ponsel yang ada di dalam tas, seolah ia telah mendapatkan sebuah pesan. Dia menyalakan benda pipih itu sekilas, kemudian kembali menatap Bella yang terus menundukkan kepalanya dalam.
"Bel, calon suamiku merubah lokasi pertemuan kami. Kalau begitu aku pergi dulu ya. Jangan lupa belajar, kamu masih terlalu muda untuk menjadi seorang jalaang!" ucap Deborah dengan sindiran yang begitu menusuk. Sebelum melangkah pergi dia menepuk bahu Bella sekilas, kemudian berbisik. "Kamu harus tahu, apa yang kamu lakukan itu menjijikkan! Jadi, segeralah enyah dari sisi William, sebelum orang-orang tahu kalau kamu adalah seorang simpanan yang hanya menawarkan sebuah kepuasan."
__ADS_1
Setelah puas menginjak-injak harga diri Bella, Deborah segera pergi dari sana. Meninggalkan Bella dengan segala rasa sakit yang teramat hebat. Kenapa? Kenapa William tega membohonginya. Memberi dia harapan yang begitu tinggi, lalu menghempaskannya hingga ke dasar jurang yang paling dalam.
"Argh!" Bella berteriak kencang berusaha menguapkan semua sesak di dadanya. Sementara air matanya turun dengan begitu lancang. Bagaimana bisa dia terjerat dengan pesona William, padahal sedari awal ia tahu bahwa William tidak pernah menawarkan sebuah komitmen yang jelas untuknya.
Ya sepertinya dia yang salah. Dia yang salah mengartikan semua kebaikan pria itu. Karena nyatanya ia tidak memiliki arti apa-apa di sisi William.
Tubuh Bella ambruk karena lututnya terasa sangat lemas. Dia memukul-mukul dadanya, berharap rasa sakit itu segera menghilang. Namun, pada kenyataannya, dia hanya menyiksa dirinya sendiri. Luka yang William torehkan terlalu besar, hingga ia tak bisa menutupnya begitu saja.
"Kenapa kamu tidak jujur padaku? Apa kamu sengaja ingin menyiksaku?" tanya Bella sambil tergugu. Dia kembali berteriak, tanpa peduli suaranya akan mengganggu penghuni lain atau tidak. Yang jelas ia hanya menyuarakan perasaan yang menggumpal di dadanya.
Suara teriakan Bella terdengar hingga ke telinga Leo. Hingga membuat pria yang berada di dalam apartemen pun keluar, saat pintu terbuka, dia langsung bisa menyaksikan Bella yang terlihat begitu menyedihkan. Gadis itu terkulai di lantai sambil terus terisak.
"Kenapa Kakak tidak bilang kalau Tuan sudah memiliki calon istri. Kakak adalah saudaranya, kakak pasti tahu kan tentang ini!" ketus Bella menuntut jawaban. Dia yakin, selain dirinya, semua orang tahu kalau Deborah adalah calon istri William.
Mendengar itu, Leo pun terhenyak. Dari mana gadis itu tahu, kalau William sudah bertunangan?
"Bel, tolong jangan emosi dulu. Aku memang tahu, tapi—"
Tangis Bella kembali pecah, dia menggelengkan kepalanya. Dia salah, dia salah telah menaruh hati pada William, sementara pria itu tak pernah memberikan sebuah kejelasan untuknya.
__ADS_1
"Kalian jahat. Kenapa kalian jahat padaku!?"
Leo segera meraih tubuh Bella untuk dipeluknya, tetapi Bella terus meronta-ronta dengan air mata yang bercucuran. Saat ini dia seperti tak membutuhkan siapa pun. Karena semua orang tak ada yang dapat ia percaya.
"Bel, aku sudah berusaha memperingati William. Tapi dia sendiri yang memilih untuk menyembunyikan status pertunangannya. Aku tidak tahu jelas apa alasannya, tapi saat itu William benar-benar menyuruhku untuk tidak ikut campur," ucap Leo, mulai membicarakan fakta. "Bahkan, aku sempat mengancam dia, untuk membawa kamu kalau dia sampai membuatmu kecewa."
Di pelukan Leo, tangis Bella kembali pecah. Dia terisak kencang, hingga membuat dada Leo menjadi basah. Hingga beberapa saat waktu berlalu, Bella berkata suaranya yang mulai parau. "Kalau begitu bawa aku pergi, Kak."
Deg.
"Maksudnya bagaimana, Bell?" tanya Leo dengan raut kebingungan.
"Aku akan ikut Kakak ke luar negeri. Aku mau berangkat sekarang!" putus Bella, karena dia ingin menghindari William. Namun, tidak semudah itu, sebab semuanya perlu diurus terlebih dahulu.
"Bel, tidak semudah itu," ujar Leo, malah membuat Bella kembali ragu. Akhirnya Bella melepaskan diri dari pelukan Leo, karena sepertinya dia memang perlu pergi sendiri. Tak ada yang bisa ia andalkan.
"Kalau begitu aku akan pergi sendiri!" Bella berusaha bangkit, yang ada di otaknya sekarang hanyalah Lena. Ya, dia akan pulang ke rumah ibu tirinya.
"Bel—" Leo berusaha menahan gadis itu, tetapi Bella langsung menepisnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku tidak butuh Kak Leo maupun Tuan William! Aku tidak butuh kalian!" tegasnya dengan sorot mata penuh kekecewaan. Lantas dia segera melangkah pergi dari apartemen, dan dengan terpaksa Leo mengikutinya dari belakang. Karena ia tak mungkin membiarkan Bella sendirian.