
Setelah terjadinya ledakan itu, Zack langsung berusaha untuk bangkit, dia sesekali meringis karena tubuhnya menerima tekanan yang cukup kuat. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat Leo yang terpental cukup jauh darinya, tanpa pikir panjang Zack langsung menghampiri sepupunya itu.
"Le," panggil Zack sambil membalik tubuh Leo yang sudah terlihat sangat lemah. Leo nyaris tak sadarkan diri, sehingga Zack segera membuka ikatan yang melilit tubuh pria itu.
Namun, mereka tak bisa langsung pergi begitu saja, sebab Zack belum melihat keberadaan Jo. Dia melirik ke sana ke mari, sementara api sudah mulai berkobar hebat. Jangan bilang kalau pria itu tak sempat menyelematkan diri.
"Tidak, Jo pasti selamat!"
Zack membantu Leo agar menjauh dari lokasi tersebut. Karena dia akan mencari keberadaan asisten saudara kembarnya itu. "Le, tunggu di sini sebentar. Aku harus mencari Jo dulu." Ujar pria itu, dan Leo hanya bisa menganggukkan kepalanya lemah.
Zack langsung berlari mengitari gedung yang sudah hancur itu. Namun, belum ada tanda-tanda keberadaan Jo. Zack merasa kalut, karena pria itu benar-benar berkorban untuk keselamatan Leo.
"Jo!" teriak Zack sekuat tenaga. Tubuhnya sudah gemetar, berpikir kalau Jo sudah mati terpanggang di dalam sana. "Jo, kau di mana??" Lanjutnya tak menyerah, sambil menyugar rambutnya yang basah oleh keringat.
Nafas Zack memburu, sementara matanya terus menelisik tiap sudut. Hingga tanpa diduga sosok yang ia cari muncul dengan langkah yang tertatih-tatih. Jo selamat, karena ia sempat melompat. Namun, ternyata gerakannya tak bisa dikondisikan, sehingga kepala Jo terbentur bebatuan dan terkena serpihan reruntuhan.
"JO!" panggil Zack seraya berlari menghampiri pria itu. Sementara Jo terus berjalan sambil memegangi pelipisnya yang mengeluarkan darah. Kini harapan Jo dan Leo, hanya pada Zack. Karena kondisi pria itu yang lebih baik di antara mereka berdua.
"Tuan," lirih Jo dengan pandangan yang sudah mengabur. Tenaganya sudah terkuras habis, hingga tak bisa lagi menahan semuanya. Masih di pertengahan jalan, akhirnya Jo pingsan.
__ADS_1
"JO!" teriak Zack dengan langkah yang semakin lebar.
.
.
.
William dan Bella dilarikan ke rumah sakit yang sama. Sebuah unit kesehatan yang paling dekat dengan tempat tersebut. Karena Caka ingin sang anak segera mendapat penanganan medis.
Kini pria paruh baya itu hanya bisa mondar-mandir di depan ruang operasi dengan perasaan gelisah, sebab William harus menjalani pembedahan akibat luka tusukan dan tembakan di beberapa bagian tubuhnya.
Namun, bukannya tenang Caka malah semakin tergugu. Dia tertunduk dalam sambil terisak-isak. Karena perasaannya benar-benar kalut. "Bagaimana aku bisa menjelaskan ini semua pada ibunya, An?" ujar Caka, tak dapat membayangkan bagaimana terlukanya hati Eliana saat melihat salah satu putra mereka terluka parah. Bahkan nyaris kehilangan nyawa.
"Ini jalan yang dipilih William, Ca. Dia sudah besar dan bisa bertanggung jawab atas semua tindakannya. Eliana tidak akan menyalahkanmu," ujar Aneeq, berharap penjelasannya bisa meredakan rasa bersalah Caka.
"Aku tidak peduli jika Eliana akan menyalahkanku. Aku hanya takut, An, aku takut tidak bisa melihatnya lagi," balas Caka sambil tersedu-sedu. Sebuah pemandangan yang baru Aneeq lihat lagi setelah sekian lama.
Ya, mau seperti apa pun kecewanya orang tua terhadap anaknya. Mereka tidak akan pernah rela jika buah hati yang selama ini sudah dijaga betul-betul, malah harus pergi, apalagi dengan cara yang mengenaskan. Dunia Caka seperti sedang runtuh sekarang.
__ADS_1
Aneeq meraih tubuh Caka dan membiarkan pria itu menangis di bahunya. Dia paham betul apa yang sedang dirasakan adik iparnya. "Jangan membicarakan sesuatu yang belum tentu terjadi. Kita hanya perlu berdoa sekarang."
Caka tak lagi menjawab. Sebagai seorang ayah, dia merasa lemah karena tak mampu melakukan apa pun untuk putranya. Dan keputus asaan itu tergambar jelas, hingga Lee yang sedang duduk di kursi tunggu juga bisa melihatnya.
.
.
.
Tak berapa lama kemudian, seorang Dokter yang menangani Bella, menghampiri ketiga pria itu. Atensi mereka langsung teralihkan, apalagi saat sang dokter bicara mengenai kondisi Bella yang mengalami keguguran.
Dan mereka semua yakin, kalau bayi itu adalah darah daging William.
Jantung Caka kembali mencelos, karena dalam satu waktu musibah terus berdatangan. Dia yang semula berdiri langsung tertunduk lemah, karena lututnya terasa sangat lemas.
Dan hal tersebut membuat Lee serta Aneeq merasa prihatin, setelah kepergian sang dokter, Aneeq ikut duduk di samping Caka yang terus menundukkan wajahnya.
"Ca," panggil Aneeq lagi, karena untuk pertama kalinya ia melihat sang asisten yang benar-benar tidak berdaya. Caka bagai orang yang sudah kehilangan arah hidupnya.
__ADS_1
"Bagaimana ini, An? Aku harus apa? Aku harus apa?" tanya Caka dengan tatapan nanar. Dia sudah menahan diri untuk tidak terlihat cengeng, tetapi kabar duka yang ia terima seolah merubahnya menjadi sosok yang lain. Ya, walau bagaimanapun dia memang hanya pria biasa.