
"Pak, kita mau ke mana?" tanya Bella lagi, karena tak kunjung mendapat jawaban. Sementara hatinya benar-benar dibuat was-was.
"Kita lewat jalan lain, Nona, karena di jam seperti ini, jalanan yang biasa kita lewati sedang macet," jawab sang supir akhirnya. Namun, Bella merasakan sebuah keanehan, sebab suara itu jelas berbeda. Apalagi kini wajah supirnya ditutup oleh masker. Jadi, dia tidak bisa memastikan.
Bella mencengkram jok mobil sambil mengernyitkan dahinya. Karena ia merasa bahwa bahaya akan segera datang. Namun, apakah mungkin ini semua hanya pikirannya yang salah? Mungkin iya, karena terlalu banyak memikirkan William, dia jadi tak bisa fokus.
Mungkin sebaiknya aku berhenti memikirkan pria egois itu. Aku harus fokus belajar.
Akhirnya Bella kembali berusaha untuk duduk dengan tenang, sementara sang supir yang diduduk di balik kemudi, menatap Bella dengan sebuah seringai. Bella tidak tahu kalau supir yang biasa mengantarnya sudah dibekukan. Kini berganti dengan anak buah orang yang tengah mengincar nyawanya.
Sementara sosok yang menjaga ia di belakang sana ikut dihadang, agar tidak menggagalkan rencana yang sudah tersusun. Motor yang dibawa oleh anak buah William langsung oleng, begitu diserang oleh sisi kiri dan kanannya.
Brak!
Bella terkejut dan langsung menoleh untuk melihat ke arah sumber suara. Dan ternyata di belakang sana ada sebuah kecelakaan. Namun, anehnya sang supir justru biasa-biasa saja. Berbeda dengan dia yang kalang kabut sendiri.
"Pak, tolong bawa mobilnya lebih hati-hati," ujar Bella, dan langsung mendapat anggukan.
Sementara itu anak buah William sudah dikeroyok oleh empat orang. Agar pria itu tak lagi mengikuti Bella, mereka lupa bahwa di mobil tersebut sudah dipasang alat yang bisa terhubung ke ponsel William. Apalagi ponsel Bella sudah disadap oleh pria itu tanpa Bella sadari, otomatis ke mana pun Bella pergi William akan tahu.
Dan karenanya William langsung pergi begitu saja meninggalkan acara. Dia meminjam motor sport saudaranya, agar lebih cepat mengejar Bella. Sedangkan di belakangnya Jo senantiasa mengekor, tetapi pria itu lebih memilih untuk memakai sebuah mobil.
"De, William mana? Setelah pertukaran cincin kok tiba-tiba dia tidak ada?" tanya Eliana mencari keberadaan putranya pada Deborah.
Deborah yang melihat William pergi setelah dibisiki oleh asistennya, hanya bisa menatap kepergian pria itu tanpa menahan sedikit pun. "William bilang tadi ada urusan mendadak, Aunty. Jadi, aku biarkan dia pergi."
__ADS_1
Kening Eliana langsung berkerut. "Pergi? Apakah dia tidak memberikan sedikit waktunya untuk hari penting kalian?"
"Aunty, William adalah pemimpin perusahaan. Sepertinya masalah ini sangat mendesak. Aku juga tidak masalah kok, yang penting malam ini acara pertunangan kita lancar," balas Deborah sambil memperlihatkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Dan hal tersebut membuat Eliana kembali merasa kagum. Deborah memang terlihat seperti menantu idaman.
***
William menggunakan kecepatan tinggi dan mengikuti arah gerak mobil yang membawa Bella. Hampir semua lampu lalu lintas dia terjang tanpa kenal takut, karena yang ada di pikirannya sekarang hanyalah menyelamatkan Bella.
Karena hanya memikirkan egonya sendiri, dia sampai memberikan peluang pada penjahat untuk kembali menyerang Bella.
"Bertahanlah selagi menungguku datang!" gumam William, sementara mata tajamnya terus fokus pada jalanan. Dia tidak peduli pada setiap klakson dan makian yang terlontar dari mulut orang-orang, karena tindakannya memang cukup membahayakan.
Sementara itu Bella semakin tersadar kala sang supir membawanya melewati jalanan yang sepi dari lalu lalang kendaraan. Dia menatap ke arah spion, dan netra mereka saling bertabrakan.
"Anda benar, Nona, malam ini kita akan pergi bersenang-senang dulu," ucap pria itu, membuat Bella langsung menelan ludahnya kasar.
Detik selanjutnya Bella meraih handle pintu, tetapi tentunya dia tidak mungkin bisa pergi begitu saja, sebab semuanya dikunci. "Anda siapa? Dan apa tujuan anda melakukan ini semua?" Tanya Bella, kembali berusaha kabur.
"Tidak ada, hanya ingin menikmati tubuhmu yang mungil itu. Sepertinya lebih menarik."
Pupil mata Bella semakin membesar, dia reflek menutup tubuhnya dengan kedua tangan. Jangan sampai pria yang ada di hadapannya ini mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Tidak! Tolong hentikan mobil ini!" teriak Bella dengan bibir yang bergetar, kemudian mengetuk-ngetuk pintu kaca, agar orang-orang yang lewat bisa melihat kode darinya.
__ADS_1
"Kalau anda ingin uang, aku akan berikan semua yang aku punya saat ini. Tapi aku mohon, hentikan mobil ini. Biarkan aku pulang!" ujar Bella memohon, dan pria yang ada di hadapannya menepikan kendaraan roda empat tersebut ke sebuah halaman kosong, gelap dan nyaris tak ada penerangan.
Bella sedikit merasa lega, karena ia berpikir bahwa pria itu akan melepaskannya. Namun, ternyata pikiran Bella salah, karena pria itu justru berpindah ke belakang dan duduk tepat di hadapannya.
"Anda mau apa?!" sentak Bella sambil beringsut dan meringsekkan tubuhnya.
Pria itu menyeringai lebar, kemudian menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Bella, tetapi Bella segera menepisnya dengan kasar.
"Jangan berani menyentuhku!" teriaknya dengan lantang dengan air mata yang mulai bercucuran. Dia menoleh ke belakang, untuk kembali berusaha membuka pintu. Namun, nyatanya pergelangan tangan Bella justru dicekal.
"Berani sekali kau menolakku, Nona? Padahal nasibmu malam ini ada padaku," ucap pria itu dengan mata yang menyalak tajam. Dia kembali menggerakkan tangan, hingga jemarinya menyentuh leher Bella.
Tepat pada saat itu Bella langsung meludah, hingga mengenai wajah pria itu. Hal tersebut tentunya mengundang amarah, hingga Bella mendapatkan sebuah tamparan keras.
Plak!
Sudut bibir Bella langsung mengeluarkan darah segar. Namun, jujur saja itu semua tak ada apa-apanya dibandingkan ketakutan yang sedang dia rasakan.
"Dasar gadis ingusan!" maki pria itu sambil mengusap ludah yang ada di wajahnya. Dia bertindak semakin kasar dengan menarik kerah baju Bella, tetapi Bella senantiasa memberikan perlawanan. Meski ia sadar semua itu tidak ada apa-apanya.
"Lepaskan aku, pria jahat!"
Bella terus meronta-ronta, tetapi pria yang ada di hadapannya justru merobek bajunya hingga dia terlihat compang-camping. Bahkan pria itu langsung menyeringai begitu melihat buah dada Bella yang menyembul.
Bella semakin ketakutan, sambil menangis dia terus memberikan perlawanan hingga tiba-tiba ada seseorang yang memecah kaca mobil dengan batu besar.
__ADS_1
Crank!!!