Pemuas Sang Cassanova

Pemuas Sang Cassanova
Bab 50. Seperti Milik ...?


__ADS_3

Di hari libur seperti ini, Leo memutuskan untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya. Membuat Bella dan William seperti terbebas. Ya, mereka bebas bercinta di mana saja, karena hanya ada mereka berdua di apartemen.


Setelah kepergian Leo, William langsung mengajak Bella untuk berolahraga di sofa. Menciptakan suara decitan yang menggema, dan juga erangan yang melolong panjang. William menggeram, sambil terus mendorong tubuhnya agar menemui titik denyut milik Bella.


"Come on, Honey!" seru William, tanpa peduli pada cakaran yang diberikan oleh Bella di punggungnya. Gelombang itu nyaris datang, William mencengkeram sofa dengan kuat, selagi lelehan kenikmatan itu memenuhi rahim Bella.


Keringat mengucur deras, bukti bahwa gairah di antara keduanya begitu besar. Bella sampai terkulai lemas, karena belum juga sarapan William sudah membawanya terbang ke puncak nirwana.


Tubuh William ambruk dengan suara nafasnya yang terengah-engah, bersamaan dengan itu bel apartemen berbunyi dengan nyaring. Tanda ada seseorang yang datang, Bella langsung mendelik dan sedikit mendorong dada William.


"Tuan, ada orang di luar, jangan-jangan Kak Leo kembali," ucap Bella kalang kabut. Berbeda dengan William yang selalu bersikap santai. Pria itu bangkit dan melepas penyatuan, hingga tak sedikit cairan kental itu keluar dari liang kenikmatan Bella.


"Kau pergi saja dulu ke kamar, jangan keluar selagi aku tidak menyuruhmu!" ucap William sambil meraih celana yang sempat dia lempar.


Bella sempat tercenung, tetapi akhirnya mengangguk patuh, dengan tubuh yang masih cukup lemas, dia bangkit dan memunguti pakaiannya. Sebelum benar-benar masuk ke dalam kamar, William menahan Bella untuk sekedar memberikan lumataaan di bibir gadis itu.


"Babak pertama baru selesai, dan akan ada babak lain setelah ini," ucap William dengan ambigu, membuat pipi Bella langsung memerah seperti buah tomat.


"Sebaiknya anda membuka pintu dengan cepat. Atau bel akan terus berbunyi," balas Bella dengan salah tingkah. Bahkan dia sedikit mendorong William, agar pria itu berhenti memandangnya dengan tatapan buas.

__ADS_1


William hanya mengangkat sedikit bibirnya ke atas, dan menatap tubuh telanjang Bella yang sedang melangkah masuk ke dalam kamarnya. Saat berada di ambang pintu, Bella menoleh ke arah William hingga netra mereka saling tatap untuk sesaat.


Ada debaran yang sama, tapi seolah tak ada kata yang pas untuk menggambarkan debaran itu.


Setelah Bella hilang dari pandangannya, William segera membuka pintu apartemennya. Hanya dengan bertelanjang dada, bahkan keringat sisa percintaan yang masih begitu basah.


"Hai, Sayang," sapa Deborah yang kini sudah ada di hadapan William. Ternyata wanita itu yang datang untuk menemuinya. Saat Deborah ingin mencium bibir William, pria itu sedikit menghindar, hingga hanya pipi yang saja yang terkena.


Namun, Deborah tidak mempermasalahkan itu semua. Tanpa permisi Deborah langsung melenggang masuk, "kenapa lama sekali sih, Will? Kamu sedang apa tadi?" lanjutnya.


"Aku habis olahraga," jawab William, tidak benar juga tidak salah.


Setelah tiba di ruang tamu, Deborah membalik tubuhnya, menatap William dari atas sampai bawah. Keringat yang masih membasahi pria itu seketika membuatnya percaya. Deborah menggerakkan tangan, untuk sekedar menyentuh dada bidang William.


"Pantas saja tubuhmu sangat indah, Sayang, ternyata kamu rajin berolahraga," puji Deborah dengan nada genit, dia maju selangkah hingga nyaris tak ada jarak dengan William. Bahkan dengan berani mengalungkan tangannya di leher pria itu. "Lain kali kamu harus berolahraga denganku."


William berusaha melepaskan tangan Deborah. Hingga wanita itu mencebikkan bibir. "Katakan, untuk apa kau datang ke mari?"


"Tentu saja karena aku merindukanmu, Will. Kita kan jarang bertemu," ujar Deborah merengek. Bahkan di saat dia sakit pun, William sama sekali tak memiliki iba padanya.

__ADS_1


"Aku sibuk, dan kau tahu itu. Jadi, jangan mengeluhkan waktu kita, karena kau harus terbiasa!" jawab William, seolah memberikan harapan lebih pada Deborah.


William hendak melangkah ke arah dapur, tetapi Deborah tiba-tiba memeluknya dari belakang. Aroma tubuh William yang khas, Deborah hirup dalam. Dia tersenyum di balik punggung lebar itu. "Aku sudah mengatakannya pada Daddy, kalau aku ingin pernikahan kita segera dipercepat."


William mengangkat satu alisnya. "Kau yakin ingin menikah denganku?"


Deborah memiringkan kepalanya untuk melihat wajah tampan. "Tentu saja yakin. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Liem, dan melahirkan anak-anak yang lucu untukmu."


William mengangkat sudut bibirnya, seolah baru saja mendengar sebuah lelucon. "Baiklah, terserah kau saja. Sekarang lebih baik kita keluar! Aku ingin mencari udara segar."


Mendengar itu, Deborah langsung terlihat sumringah. Karena akhirnya William mau pergi berdua dengannya. "Kamu mau mengajakku ke mana?"


"Ke mana saja, asal tidak di sini!" balas William, kemudian menyuruh Deborah untuk duduk di sofa selagi menunggunya bersiap-siap. "Tunggu di sana, aku akan segera kembali!"


Deborah yang sudah terlanjur senang, langsung patuh pada perintah William. Dia duduk di sofa, tempat di mana Bella dan William menghabiskan waktu untuk bercinta.


Dia melihat sekeliling, karena ini adalah pertama kalinya ia masuk ke dalam apartemen milik sang tunangan. Hingga tiba-tiba dia mengernyitkan dahinya, saat ia melihat ada sepatu wanita, ya, tidak mungkin itu milik William.


Deborah langsung menghampiri rak sepatu dan meraih benda yang mencuri perhatiannya. "Seperti tidak asing." Gumam Deborah, kemudian melirik kamar yang baru saja dimasuki oleh William.

__ADS_1


"Seperti milik ...?"


__ADS_2