PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #10


__ADS_3

"Ini!! Minum obatmu," Henrietta memberikan obat pada Henry, setelah pria itu menghabiskan setengah buburnya.


Henry meminum obat yang di berikan oleh Henrietta, lalu dia berbaring kembali lagi.


Henrietta mencegah Henry yang akan menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut tebal.


"Jangan menutupnya, itu akan terasa semakin panas," ujar Henrietta.


"Jika panas-mu belum turun juga sampai besok aku akan memanggil dokter kemari, atau kau bisa pergi ke rumah sakit, mungkin kau terlalu lelah bekerja, kau bahkan selalu pulang larut malam, jangan terlalu memforsir tenagamu, kau manusia bukan robot," cerocos Henrietta.


"Kenapa kau cerewet sekali," ujar Henry lemas.


"Aku? Cerewet?" sahut Henrietta menunjuk dirinya sendiri.


"Aku hanya menasehati-mu, bukannya cerewet," sambungnya.


Tok ... Tok ...


"Nyonya," terdengar suara wanita dari balik pintu kamar Henry.


"Sebentar," teriak Henrietta dari dalam dan berjalan kearah pintu dan membukanya.


"Ini yang anda minta," ujar pelayan tersebut memberikan nampan yang berisi pesanan Henrietta.


"Terima kasih," ucap Henrietta.


"Iya nyonya?" ujar pelayan tersebut.


"Iya, ada apa?" sahut Henrietta.


"Sebaiknya anda juga segera sarapan nyonya, jangan sampai anda sakit," kata pelayan tersebut.


Henrietta tersenyum pada pelayan tersebut, selama sebulan dia berada di mansion Henry semua pelayan sangat memperhatikan dirinya.


"Aku akan sarapan nanti," balas Henrietta.


Pelayan tersebut pun pamit undur diri dan Henrietta kembali menutup pintu kamar Henry.


"Ini ... Minumlah, teh jahe bagus untukmu," ujar Henrietta.


"Taruh saja disana, aku akan meminumnya nanti," tungkas Henry.


"Tidak, kau harus meminumnya sekarang selagi hangat, setelah itu kau bisa tidur lagi," ucap Henrietta.


Dengan terpaksa Henry bangun dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.


Henry mengambil minuman itu daru tangan Henrietta dan meminumnya dengan perlahan.


Seketika rasa hangat dan segar mengalir di tenggorokannya.


"Sudah," ucap Henry dan menyerahkan gelas itu kembali pada Henrietta.


"Tidurlah lagi, aku akan ke bawah sebentar," ujar Henrietta.

__ADS_1


Henry hanya bergumam sebagai jawaban dan merebahkan dirinya lagi dan mulai menutup matanya.


Henrietta berjalan keluar sambil membawa mangkuk bekas bubur Henry, dia berjalan kearah dapur dan menaruh mangkuk itu di wastafel.


Henrietta berjalan kearah meja makan dan mendudukkan dirinya di sana, sarapan pagi untuknya sudah tersedia di sana.


Dia memakan makanannya dengan santai dan tak terlalu terburu-buru, mengingat Henry baru saja tidur.


Saat Henrietta menikmati sarapan paginya tiba-tiba ponselnya berbunyi dan itu adalah panggilan dari ibu mertuanya, karna nama yang tertera di layar ponsel.


"Halo mom?" sapa Henrietta.


"Sayang, kau sedang apa?" tanya Emma di sebrang telpon.


"Aku sedang sarapan," balas Henrietta.


Selama seminggu ini ibu mertuanya cukup sering menelpon-nya hanya untuk sekedar menanyakan kabar.


"Kapan kalian ke Kanada? Mommy sangat merindukanmu," ujar Emma.


"Maaf mom, aku belum bisa kesana, akhir-akhir ini Henry sangat sibuk, dia juga sedang sakit sekarang," ucap Henrietta.


"Henry sakit?" terdengar suara kaget dari ibu mertuanya.


"Iya mom," sahut Henrietta.


"Tak biasanya Henry sakit, dia gila kerja dan jarang sekali sakit, apakah pekerjaannya sebanyak itu?" tanya Emma di sebrang sana.


Karna memang pada dasarnya Henrietta tak tahu apapun tentang pekerjaan Henry dan apa yang Henry lakukan diluar sana.


"Rencana-nya aku akan meminta izin pada.Henry untuk kembali ke Swiss, karna harus mengecek restoran, sudah terlalu lama aku meninggalkannya," adu Henrietta pada ibu mertuanya.


"Tapi, sepertinya aku akan menundanya sampai Henry sembuh," sambung Henrietta.


"Jika, itu sangat penting pergilah sayang, mommy akan kesana untuk menemani Henry," ucap Emma.


"Tidak perlu mom, aku akan menjaga Henry sendiri, dan akan menunda keberangkatan-ku ke Swiss," tungkas Henrietta.


"Ohh ... Kau memang istri yang baik sayang," ujar Emma.


"Sayang, mommy tutup dulu telponnya daddy-mu memanggil," ujar Emma, dan memang terdengar suara keras dari ayah mertuanya yang memangil.


"Baik mom, jaga diri kalian," ucap Henrietta.


"Iya sayang," sahut Emma dan langsung menutup telponnya.


Setelah sambungan telpon berakhir Henrietta kembali melanjutkan acara makannya yang tertunda.


Saat Henrietta kembali melanjutkan sarapannya tiba-tiba Della lewat didepannya.


"Della, kau mau kemana?" tanya Henrietta.


"Saya mau ke minimarket yang ada di persimpangan jalan nyonya," jawab Della.

__ADS_1


"Kebetulan sekali, aku ingin menitip sesuatu," ujar Henrietta.


"Anda ingin menitip apa nyonya?" tanya Della.


"Aku titip ice cream vanilla," balas Henrietta.


"Baik nyonya," sahut Della.


Saat Della akan pergi, Henrietta baru teringat sesuatu.


"Ah ... Della!" kata Henrietta.


"Iya nyonya?"


"Aku lupa bilang padamu, besok kau boleh melihat-lihat universitas yang sudah aku daftarkan untukmu, akan ada yang menemanimu selama kau bersekolah disana, kau bisa bertanya apapun padanya, namanya Leo," ujar Henrietta.


"Dia sepupu jauh dari sahabatku Lucy, tenang saja, dia pria yang baik aku sudah pernah bertemu dengannya," lanjut Henrietta.


"Baik nyonya," hanya kata itu saja yang keluar dari mulut Della, dia tak berani menolak kebaikan Henrietta kepadanya, nyonya-nya itu sudah terlalu baik padanya.


Setelah itu Della pamit pergi pada Henrietta, karna obrolannya tadi dengan ibu mertua dan juga Della membuat nafsu makannya seketika hilang.


Henrietta menaruh piring bekas makannya ke atas wastafel.


*


Tak terasa malam menjelang, sinar mentari kini sudah tergantikan oleh sinar rembulan.


Kondisi Henry masih tetap sama, Henrietta sudah memberikannya obat setelah dia memakan makan malamnya, dan sekarang Henrietta sedang mengompres kening Henry.


Suhu tubuh Henry juga lumayan tinggi, dan jika kondisinya masih tetap sama sampai besok pagi Henrietta akan membawa Henry kerumah sakit.


Kini Henry sudah terlelap setelah pria itu meminum obatnya.


Dan Henrietta selalu setia duduk di tepi ranjang yang berada di samping Henry.


Sekarang waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, tapi Henrietta masih terjaga dan tetap mengompres kening Henry.


Karna sudah tak kuat menahan rasa kantuk akhirnya Henrietta memutuskan untuk tidur, dia bangun dari duduknya dan berjalan kearah sisi ranjang yang lain dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk itu.


Seharian ini Henrietta disibukan dengan mengurus Henry dan mengecek restorannya melalui laptop.


Henrietta langsung menutup matanya dan mulai membawa dirinya ke alam mimpi.


Tepat pukul satu dini hari Henry bangun dari tidurnya, pria itu membuka matanya dan menyentuh kening yang masih terdapat handuk kecil disana, dia menaruh handuk itu di wadah yang ada di atas nakasnya.


Henry melihat kearah Henrietta yang sedang tertidur sambil menghadap kearahnya.


Senyum tipis terbit di bibir sexy milik Henry, dia menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan Henrietta dan membawa wanita itu kedalam pelukannya.


Sedangkan Henrietta yang merasa tak terusik sedikit pun hanya menggeliat kecil dan semakin menempelkan tubuhnya ke tubuh Henry guna mencari kehangatan.


"Terima kasih," Henry bergumam kecil dan kembali menutup matanya melanjutkan lagi tidurnya.

__ADS_1


__ADS_2