PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #16


__ADS_3

Henrietta masuk kedalam mobil dan duduk di kursi kemudi, dia akan menyetir sendiri mobilnya menuju rumah sakit tempat Lucy bekerja.


Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karna dia memang sedang tidak terburu-buru.


Pandangan Henrietta fokus kearah depan sambil sesekali bersenandung mengikuti irama lagu yang dia putar di dalam mobil.


15 menit kemudian Henrietta sampai di rumah sakit tempat Lucu bekerja, dan itu bertepatan saat jam makan siang.


Setelah memarkirkan mobilnya Henrietta masuk kedalam dan berjalan kearah lift yang akan membawanya ke lantai anak, lantai dimana Lucy bekerja.


TING ...


Henrietta masuk kedalam lift dan menekan angka tiga.


Selama menunggu lift berhenti di lantai yang dia tuju, Henrietta menyempatkan dirinya untuk membalas pesan dari ibu mertuanya yang sedang menemani suaminya pergi memancing.


Emma bahkan mengirimkan beberapa foto dimana suaminya sedang memancing dan baru mendapat dua ekor ikan saja.


Henrietta terkekeh membaca pesan dari ibu mertuanya.


"Pasti mommy sedang kesal sekarang," seru Henrietta.


TING ...


Pintu lift terbuka dan Henrietta keluar dari dalam lift, dia berjalan kearah ruang kerja Lucy.


Sesekali Henrietta akan berpapasan dengan orang tua beserta anak-anak mereka.


Saat sudah hampir dekat dengan ruangan Lucy, ternyata disana masih ada dua ibu dan dua anaknya yang sedang menunggu antrian.


Henrietta memutuskan untuk menunggu sebentar dan mendudukkannya di dekat seorang ibu beserta anaknya.


"Anda ingin memeriksa siapa nona?" tanya wanita tersebut, tapi dia tidak melihat Henrietta membawa anaknya.


"Ah ... Tidak, saya datang kesini untuk bertemu dengan teman saya," jawab Henrietta dengan ramah.


Henrietta melihat anak perempuan yang usianya sekitar empat atau lima tahunan.


"Dia anak anda?" tanya Henrietta.


"Iya," jawab wanita tersebut.


"Dia sangat manis," ucap Henrietta sambil mengelus pipi chubby anak tersebut.


Saat Henrietta akan bertanya lagi ternyata ibu tersebut sudah di panggil oleh seorang perawat.


"Saya tinggal dulu nona," ucap wanita tersebut dan meninggalkan Henrietta sendirian.


Sepuluh menit Henrietta menunggu, dan akhirnya tak ada pasien lain lagi.

__ADS_1


Terlihat Lucy keluar dari ruangan-nya sambil melepas masker yang menutupi mulut dan hidungnya.


Lucy melihat Henrietta yang melambaikan tangan kearahnya.


"Kau dari tadi?" tanya Lucy.


"Tidak juga, mungkin sekitar tiga belas menit," balas Henrietta.


Lucy tampak mencibir dan Henrietta terkekeh kecil.


"Ayo ... Kita makan di Cafetaria rumah sakit saja, aku sangat lapar," ujar Lucy.


Mereka berjalan beriringan kearah lift sambil di temani dengan obrolan-obrolan ringan.


TING ...


Pintu lift terbuka dan mereka berjalan kearah Cafetaria yang memang berada di lantai satu.


Di tengah perjalanan Henrietta sekilas tampak melihat Henry.


"Sepertinya aku melihat Henry," ucap Henrietta dengan pelan dan masih bisa di dengar oleh Lucy.


"Mungkin dia ingin menemui Julia," timpal Lucy.


"Mm, mungkin," sahut Henrietta.


"Kita duduk disana saja," tunjuk Lucy pada tempat duduk yang sedikit pojok dan tak terlalu di lihat orang.


Henrietta mengangguk dan berjalan mengikuti Lucy.


"Bagaimana hubunganmu dengan Henry?" tanya Lucy saat mereka sudah duduk dan memakan makanannya.


"Seperti biasa," jawab Henrietta sambil mengedikan bahunya.


"Dia pria yang sangat kaku, kau tak bosan melihat wajahnya?" tanya Lucy dengan wajah penasarannya.


"Biasa saja, lagi pula kami jarang bertemu, kita hanya bertemu saat dia tak bekerja, atau saat makan pagi, jika dia pulang aku sudah tidur, akhir-akhir ini dia sering pulang malam. Tapi, kemarin dia kembali pulang lebih cepat karna ada ibu dan ayahnya di mansion," jelas Henrietta panjang lebar.


Henrietta meminum jus apel yang tadi dia pesan.


"Apa kau akan seperti ini terus?" tanya Lucy.


Henrietta menatap bingung pada Lucy. "Seperti apa?"


"Seperti ini dengan Henry, menikah tapi seperti tidak menikah, kau terikat pernikahan dengannya dan melakukan tugasmu sebagai istri, ya ... Walaupun belum sampai tahap melakukan itu," ujar Lucy sedikit ambigu.


"Hidup dalam sebuah pernikahan, tapi kau tak mendapat status apapun, status-mu hanya ada di dalam rumah, tapi di luar kau seperti tidak memiliki suami, kita tidak tahu Julia akan sadar kapan, entah itu satu atau dua tahun lagi, apa kau yakin akan seperti itu terus bersama Henry? Kau akan sulit mendapatkan kekasih karna kau masih berstatus sebagai istri Henry," ucap Lucy.


"Sesuai kesepakatanku dengan ayahku, aku akan pergi jauh dari Henry sampai Julia sadar, entah kapanpun itu," balas Henrietta.

__ADS_1


"Bagaimana jika kau mulai mencintai Henry? Tak perlu waktu lama untuk mencintai atau menyukai pria seperti Henry, apa lagi kalian tinggal serumah," kata Lucy.


"Aku tidak tahu, aku hanya ingin terbebas dari ayahku, aku belum memikirkan itu, aku akan menerima apapun nantinya," ujar Henrietta.


Henrietta tak menampik jika pesona Henry memang luar biasa, apalagi mereka berada di satu rumah bahkan satu kamar yang sama.


"Jika nanti kau memerlukan bantuanku, hubungi aku atau Matthew," ucap Lucy dan di angguki oleh Henrietta.


Lucy tahu di balik sikap Henrietta yang lembut dia sedang membentengi dirinya mati-matian agar tak menyukai Henry, Henrietta terlihat kuat di luar dan tak pernah memperlihatkan kesedihannya di hadapan orang lain karna dia tak ingin di pandang lemah oleh orang-orang yang tidak menyukainya.


"Aku tak akan bertanya lagi tentang Henry," ucap Lucy.


Henrietta tersenyum dan menatap Lucy. " Terima kasih,"


Mereka berdua menghabiskan makanan dengan santai, setelah menghabiskan semuanya mereka tak langsung pergi dan masih berada disana.


Dari kejauhan Lucy melihat kedatangan Dorothy yang berjalan masuk ke area Cafetaria.


"Jangan lihat kebelakang," ujar Lucy.


"Kenapa?" tanya Henrietta dengan bingung.


"Ada ibu tirimu disini," ujar Lucy.


"Ah~" seru Henrietta mengerti.


"Dengan siapa dia?" tanya Henrietta.


"Sendiri," balas Lucy.


"Aku baru teringat sesuatu," seru Lucy dengan tiba-tiba.


"Apa?"


"Kemarin malam saat aku baru pulang dari rumah sakit aku melihat melihat ayahmu dengan seorang wanita muda, aku melihat mereka di lobby apartemen yang sama denganku," ujar Lucy.


"Itu sudah tidak aneh lagi, dia memang mencintai Dorothy, tapi dia tak bisa hidup hanya dengan satu wanita saja," ujar Henrietta dengan ekspresi wajah biasa saja, seolah-olah itu sudah biasa terjadi di depannya.


"Gila ... Ayahmu benar-benar gila, apa dia maniak?" Lucy tak habis pikir dengan isi kepala dari ayah sahabatnya itu.


"Sudahlah jangan membahasnya lagi," ujar Henrietta.


"Apa dia sudah pergi?" tanya Henrietta.


"Ya ... Dia sudah pergi," jawab Lucy.


"Aku jadi ingin tahu bagaimana reaksinya jika suaminya sering bermain wanita di belakangnya," kata Lucy dengan rasa ingin tahunya.


"Mungkin saja dia sudah tahu," tebak Henrietta.

__ADS_1


__ADS_2