PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #36


__ADS_3

Henrietta menaiki anak tangga dan masuk kedalam kamarnya, dia dapat melihat Henry yang sedang berdiri di pembatas balkon.


"Kau sudah pulang?" tanya Henrietta.


"Dari mana saja kau?" tanya balik Henry dengan suara datar dan tanpa menoleh pada Henrietta.


"Aku baru saja bertemu dengan Lucy," jawab Henrietta.


Henry terlihat menyunggingkan senyum miringnya.


Dia berbalik dan memperlihatkan wajah dadar dan penuh amarahnya pada Henrietta.


"Kau berani berbohong padaku sekarang?" cibir Henry.


Henry berdecak dan mendekat kearah Henrietta, Seketika saja tangan Henry langsung mencengkram rahang Henrietta.


"A-apa yang kau lakukan? i-ini sangat sakit-** ..." lirih Henrietta.


Dia mencoba melepaskan tangan Henry yang mencengkram dirinya, tapi tidak berhasil karna Henry mencengkeramnya cukup kuat.


"Kau berbohong padaku Rietta," ujar Henry.


"A-aku tidak berbohong," ucap Henrietta terbata-bata.


"Aku memang bertemu dengan Lucy," lanjutnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca menahan sakit.


Henry tersenyum miring dan menatap tajam mata Henrietta.


"Bertemu Lucy atau bertemu suaminya," bentak Henry.


Wajah Henrietta menatap bingung pada suaminya, dia tidak mengerti kenapa Henry marah-marah padanya, apa kesalahan yang sudah dia perbuat.


Henry mengeluarkan ponsel yang ada di saku celananya dan memperlihatkan foto-foto yang dikirimkan padanya.


"Aku tidak menyangka kau semenjijikan ini,", decih Henry.


"Kau memiliki hubungan dengan suami dari sahabatmu sendiri," murka Henry.


Henrietta sekarang paham kenapa Henry begitu marah padanya, dia terus saja menggeleng-gelengkan kepalanya, menyangkal dengan semua tuduhan yang Henry lontarkan untuknya.


"Kau lebih percaya dengan foto-foto itu dari pada aku istrimu sendiri," lirih Henrietta yang mencoba menahan air matanya agar tidak keluar.


"Istri? kau hanya sebagai istri pengganti untukku Rietta, apa kau sudah lupa ... HAH!" kata Henry dengan wajah yang meremehkan Henrietta.


Seketika air mata yang sudah dia tahan lolos begitu saja mendengar perkataan yang di lontarkan oleh suaminya.


Henry seolah membawa Henrietta pada kenyataan bahwa dirinya hanya sebagai pengganti Julia.


Semua yang selama ini dia takutkan akan menjadi nyata, dia terlalu terlena dengan perlakuan Henry padanya yang berubah.

__ADS_1


Dia tidak berarti apapun di dalam hidup Henry, dia hanya sebagai pengganti dan selama tetap akan seperti itu.


"Ku pikir kau wanita yang berbeda, tapi ternyata kau lebih parah, kau bermain dengan suami sahabatmu sendiri di belakangnya," maki Henry penuh amarah.


Henry melepaskan cengkeramannya dari tangan Henrietta dan menatapnya tajam.


"Terserah kau mau mengatakan apa tentangku, yang jelas aku tidak pernah melakukan apapun yang kau tuduhkan padaku," tegas Henrietta mencoba menatap mata suaminya.


"Kau terlalu termakan oleh sebuah foto yang bahkan kau sendiri tidak melihatnya secara langsung," lanjutnya.


Semakin Henrietta berkata semakin air matanya luruh membasahi pipinya mau sekuat apapun dia menahannya.


"Renungkanlah kesalahanmu," ujar Henry.


Henry seolah buta dengan kecemburuan yang menguasai dirinya, dia pergi meninggalkan Henrietta sendirian di kamar itu dan menutup pintunya dengan kasar.


Henrietta luruh, dia mendudukan dirinya di lantai yang dingin itu, dia memeluk lututnya sendiri dan menenggelamkan kepalanya dia antara lutut dan tangannya.


Suara tangisan Henrietta yang tidak bersuara menambah sesak dadanya.


Sementara itu Henry melajukan mobilnya dengan sangat cepat, beberapa kali dia memukul setir kemudi guna menyalurkan amarah dan rasa kesalnya.


Dia memberhentikan mobilnya di depan perusahaannya dan masuk kedalam.


"SIALAN ..." teriak Henry setelah masuk kedalam ruang kerjanya.


**


**


Setelah seharian menangis membuat Henrietta mengantuk dan tertidur, dia melihat tempat kosong yang berada di sampingnya.


"Mungkin dia tidak pulang," gumam Henrietta.


Henrietta bangun dari tidurnya dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, pandangannya fokus kedepan dan tangannya terulur untuk menyentuh perutnya.


"Maafkan mommy ..." lirih Henrietta dan lagi-lagi air matanya lolos di kedua bola mata indahnya.


Ponsel Henrietta berbunyi dia melihat nomer yang tidak dia kenal dan mengangkatnya.


"Halo," sapa Henrietta.


"Akhirnya kau mengangkat panggilanku," terdengar suara yang Henrietta kenal dari sebrang telpon.


"Dengarkan aku baik-baik, Julia sudah sadar ... Tugasmu sudah selesai dan kau tidak di butuhkan lagi disini, pergilah sejauh mungkin dari kami, jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi di hadapan keluargaku apalagi Henry," jelas wanita itu yang ternyata adalah Dorothy.


"Dan satu lagi, kau ingin tahu sesuatu? sekarang Henry ada disini," ujarnya dari sebrang telpon.


Henrietta menyentuh perutnya dengan erat dan mencengkram pakaian yang dia kenakan.

__ADS_1


Selama Dorothy berbicara Henrietta sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, dia hanya mendengar setiap ocehan yang di lontarkan oleh wanita itu.


"Kau tenang saja, aku jamin kau tidak akan melihatku lagi," itulah kata-kata yang di keluarkan oleh Henrietta sesaat sebelum Dorothy mengakhiri panggilannya.


Henrietta turun dari ranjang dan berjalan kearah balkon, dia membuka pintunya dan berdiri disana, membiarkan tubuhnya diterpa oleh udara dingin.


Lagi-lagi ponsel Henrietta berbunyi dari nomer yang tidak bernama.


"Pulanglah," ujar seseorang di sebrang telpon dan langsung mematikan panggilannya.


Pandangan Henrietta terfokus kedepan setelah menerima panggilan tadi.


Tidak lama setelah itu, nomernya yang tadi menelponnya mengirimi Henrietta pesan.


Setelah membaca pesan itu Henrietta kembali masuk kedalam kamarnya.


Dia berjalan kearah walk in closet dan mengambil koper yang dulu dia bawa saat pertama kali datang kesini.


Bahkan beberapa pakaiannya pun masih ada di dalam sana, dia juga mengambil pakaian yang dia bawa dari rumahnya saat dia dan Henry ke Swiss.


Setelah selesai dengan tasnya Henrietta mulai mengganti pakaiannya.


Tepat pukul 12 malam nomer yang tadi menghubunginya kembali mengiriminya pesan.


Henrietta keluar dari walk in closet, dia melepaskan cincin pernikahannya dan menaruhnya di atas nakas samping tempat tidur Henry.


Sebelum keluar dari kamar Henrietta menyempatkan untuk melihat kamar yang selama hampir tujuh bulan ini dia tempati, sekilas bayangan percintaan mereka melintas di dalam benak Henrietta, serta perlakuan lembut Henry akhir-akhir ini padanya.


Henrietta menutup pintu kamar itu dan berjalan menuruni anak tangga, dia melihat sekeliling suasana mansion yang sepi dan gelap.


Sambil menenteng kopernya dia berjalan kearah pintu utama yang tidak di kunci, Henrietta berjalan meninggalkan mansion itu dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan.


Henrietta tidak perlu mengendap-endap untuk keluar dari sana, karna memang sekarang sedang dalam pergantian penjaga dan ada selisih waktu 5 menit.


Henrietta akhirnya dapat keluar dari mansion itu, dia melihat sebuah mobil berwarna hitam yang berhenti di bawah pohon yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Henrietta berjalan kearah mobil itu, dia mengetuk kaca mobil itu dan seketika keluar seorang pria dari dalam sana.


"Nona ..." sapa pria itu sambil membungkukkan sedikit badannya.


Henrietta mengeluarkan ponselnya dan menghapus seluruh isi yang ada di dalam sana, dia juga melepaskan kartunya dan membuangnya.


"Ayo," ujar Henrietta dan masuk kedalam mobil setelah pintunya di bukakan oleh pria tersebut.


Pria itu membuka bagasi mobil dan menaruh koper Henrietta.


"Jalan sekarang," titah pria itu pada sopir yang ada di sampingnya.


Mobil pun melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan mansion yang selama tujuh bulan ini dia tinggali.

__ADS_1


Mansion yang menjadi saksi bagaimana cinta Henrietta tumbuh untuk suaminya.


"Selamat tinggal Henry," gumam Henrietta lirih.


__ADS_2