PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #12


__ADS_3

"Kau tunggu saja di mobil," ucap Henrietta pada Henry.


Henry memicingkan matanya menatap Henrietta yang duduk di sampingnya, sementara Della hanya melihat kedua orang itu dari kursi belakang.


"Kenapa aku harus menunggu disini," ujar Henry tak suka.


"Hey ... Kau lupa siapa dirimu? Semua orang tahu siapa kau, jika kau keluar dari mobil yang sama denganku, nanti orang-orang akan membicarakanku ... Ingat, status-mu masih tunangan Julia," tungkas Henrietta.


Henry tak mengatakan apapun untuk menjawab perkataan Henrietta.


"Baiklah, tapi jangan terlalu lama," ujar Henry.


"Siapa suruh kau ikut," cibir Henrietta.


Saat Henrietta dan Della akan pergi tiba-tiba Henry memutuskan untuk ikut bersama mereka.


"Ayo Della ..." ajak Henrietta.


Della pun mengikuti Henrietta keluar dari dalam mobil dan berjalan masuk kedalam cafe, dimana Leo sudah menunggu mereka.


Sedangkan Henry mengamati mereka dari dalam mobil, Henry bisa melihat dengan jelas saat Henrietta dan Della bertemu dengan seorang pria muda yang sedang duduk sendirian di dekat jendela.


"Maaf, kami datang terlambat," ujar Henrietta.


"Tidak apa," balas Leo datar.


"Della, duduklah," titah Henrietta.


Della memutuskan untuk duduk disamping Henrietta dan berhadapan dengan pria tampan yang bernam Leo itu.


"Leo, perkenalkan dia Della, dan Della dia Leo," ujar Henrietta mengenalkan mereka berdua.


"Hay ..." sapa Della.


"Mm ..."


Henrietta yang melihat sikap Leo pun merasa gemas sendiri, dia menggeplak tangan Leo yang ada di atas meja.


Plak ...


"Jangan terlalu kaku padanya, kau akan membuatnya merasa tak nyaman denganmu," tegur Henrietta.


"Aku memang seperti ini," sahut Leo.


"Maafkan dia Della, dia memang seperti itu, saat pertama aku bertemu dengannya juga dia seperti itu sangat menyebalkan ... Tapi, lama-lama kau pasti akan terbiasa," jelas Henrietta dan Della hanya menganggukkan kepalanya.


"Kau sedang tidak berpacaran kan?" tanya Henrietta memastikan.


"Tidak," jawab Leo santai.


Henrietta bernapas lega dan menyatukan kedua tangannya.


"Bagus sekali," seru Henrietta senang.

__ADS_1


Della dan Leo menatap Henrietta dengan heran.


"Jadi, jika kau selalu bersama Della dan membantunya, tidak akan ada yang marah pada Della karna mendekatimu," ucap Henrietta.


Saat Henrietta sedang berbicara pada Leo tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ada pesan masuk dari nomer yang tak di kenal.


(Cepatlah, kenapa lama sekali)


Henrietta melihat keluar lewat jendela besar yang ada di sampingnya.


'Kenapa hari ini pria itu aneh sekali? Apa otaknya mengalami gangguan saat sakit kemarin,' pikir Henrietta.


"Baiklah, aku harus pergi sekarang," ujar Henrietta.


"Della, kau bisa pergi bersama Leo untuk melihat tempat kuliahmu," kata Henrietta.


Henrietta mendekatkan dirinya pada Della dan membisikan sesuatu. "Aku peringatkan jangan terlalu sering melihat wajah tampannya, kau akan masuk perangkapnya nanti,"


Henrietta menggoda Della dan seketika telinga Della memerah karna malu.


"Baiklah aku tinggal sekarang, kau bisa mengantar Della pulang jika sudah selesai," ucap Henrietta dan mendapat anggukan dari Leo.


Henrietta berdiri dari duduknya dan berjalan keluar, dia tak memesan apapun disana, karna memang dia baru saja selesai sarapan.


"Kenapa kau lama sekali," gerutu Henry setelah Henrietta masuk kedalam mobil.


"Kenapa kau cerewet, aku bahkan belum satu jam meninggalkan-mu sendirian disini, siapa suruh kau mau ikut," ucap Henrietta.


"Kemana kita sekarang?" tanya Henry, saat dia sudah melajukan mobilnya.


"Kau tak ingin berbelanja?" tanya Henry.


"Kau mau membayar semuanya?" tanya balik Henrietta.


"Kenapa tidak," ujar Henry dengan entengnya.


"Kita pulang saja, aku sedang malas," balas Henrietta.


Henry melihat kearah Henrietta sekilas, setelah itu dia memfokuskan dirinya lagi pada jalanan yang tidak terlalu ramai.


Henrietta dan Julia dua wanita yang sangat berbeda yang ada di kehidupan-nya, Henrietta bukan tipe wanita yang suka menghambur-hamburkan uang dan lebih suka berada di rumah, sedangkan Julia lebih suka berada di luar dan bisa menghabiskan waktunya hanya di mall.


Henry menambah kecepatan mobilnya agar mereka bisa cepat sampai di rumah.


Saat Henrietta sedang fokus dengan jalanan yang ada di sampingnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia tersenyum senang saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Dan Henry melihat wajah Henrietta yang sangat sumringah saat menerima panggilan itu.


"Halo Luke?" sapa Henrietta dengan senang.


Henry menautkan alisnya saat nama pria yang di sebut Henrietta.


"Aku baik, bagaimana kabarmu?" tanya Henrietta.

__ADS_1


"Aku juga baik, tapi sedikit sepi jika tak ada kau," ucap pria yang bernama Luke itu sekaligus menggoda Henrietta.


Henrietta terkekeh kecil mendengar godaan Luke untuknya.


"Kapan kau akan pulang? Kenapa lama sekali di New York," ucap Luke di sebrang telpon.


"Aku belum tahu, nanti jika aku kembali ke Swiss aku akan langsung menghubungi-mu," jawab Henrietta.


"Bagaimana dengan keadaan uncle James?" tanya Henrietta.


"Daddy baik, dia selalu menanyakan kapan kau pulang," ucap Luke.


Cukup lama Henrietta mengobrol dengan Luke melalui telpon hingga tak terasa mereka sudah sampai di mansion milik Henry.


"Kita sudah sampai," kata Henry dengan suara datarnya.


"Benarkah? Aku terlalu asik mengobrol hingga tak sadar," ujar Henrietta pada dirinya sendiri.


Henrietta keluar dari dalam mobil, setelah Henry keluar lebih dulu.


Henrietta mengekori Henry dari belakang dengan berjalan santai.


Saat Henry membuka pintu besar itu ternyata pintu tersebut sudah di buka lebih dulu dari dalam dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah memasuki kepala lima.


"Mom!" ucap Henry.


"Kalian baru dari luar?" tanya Emma.


"Mom? Kau disini?" tanya Henrietta yang baru menyadari keberadaan ibu mertuanya.


Emma langsung menghampiri Henrietta dan langsung memeluknya, mengabaikan keberadaan Henry disana.


"Ohh ... Mommy sangat merindukan-mu," ujar Emma.


"Kapan mommy datang?" tanya Henry.


"Baru saja, mommy langsung menyuruh daddy-mu untuk kemari, saat mendengar kau sakit kemarin," ucap Emma.


Henry tampak menghembuskan napasnya dengan kasar.


Dia tak bertanya lagi pada sang ibu dan langsung masuk kedalam mansion.


"Dari mana saja kalian?" tanya Emma pada Henrietta sambil membawanya masuk.


"Kami baru saja mengantar Della bertemu dengan adik sepupu sahabatku, dia akan membantu Della selama Della kuliah di tempat yang sama dengannya," jawab Henrietta.


"Mommy sudah makan?" tanya Henrietta.


"Sudah, tadi kami mampir sebentar ke restoran sebelum kesini," jawab Emma.


Emma mengajak Henrietta ke taman belakang untuk sekedar mengobrol ringan antara menantu dan mertua.


Sambil di temani dengan teh hangat dan juga camilan yang di buat sendiri oleh Henrietta membuat suasana semakin nyaman di antara mereka.

__ADS_1


Henrietta bahkan sesekali menceritakan tentang masa kecilnya, dan tentunya dia tak membahas tentang Marco sama sekali.


__ADS_2