
Henrietta menggeliat dalam tidurnya, perlahan-lahan dia mulai membuka kelopak matanya, mata indah Henrietta tertuju pada jam dinding yang berhadapan dengan ranjangnya.
"Tidurku sepertinya terlalu nyenyak," gumam Henrietta seraya menguap.
Dia menolehkan kepalanya pada sisi lain ranjangnya, dan tidak ada Henry disana.
"Kemana dia?" tanya Henrietta pada dirinya sendiri.
Dia menyandarkan punggung pada kepala ranjang dan melihat sekeliling.
Setelah itu dia bangun dari ranjang dan membereskan tempat tidurnya sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Henrietta berjalan kearah jendela dan membuka gorden besar itu, agar sinar matahari bisa masuk kedalam, dia juga membuka sedikit jendelanya.
Henrietta berjalan kearah kamar mandi dan membuka semua pakaiannya, dia menyalakan air shower agar bisa membasahi seluruh tubuhnya.
Setelah menghabiskan waktu selama 15 menit di kamar mandi akhirnya Henrietta keluar dengan handuk yang menutupi tubuh telanjangnya dan handuk kecil di atas kepalanya membalut rambutnya yang basah.
Henrietta bejalan kearah walk-in closet, dia melepaskan handuk di tubuhnya dan memakai pakaian dalamnya.
Hari ini dia akan memakai celana jeans dan kemeja longgar berwarna putih.
Rencana-nya hari ini Henrietta akan mengantar Della untuk bertemu dengan Leo melihat tempat kuliah Della.
Della sendiri yang meminta Henrietta untuk mengantarnya bertemu dengan Leo, karna mungkin Henrietta pikir Della akan canggung untuk bertemu dengan Leo pertama kali.
Henrietta juga memakai boots berwarna hitam, dua kancing teratas kemejanya dia biarkan saja.
Henrietta melepas handuk kecil yang ada di kepalanya, dan mulai mengeringkan rambut pendeknya dengan alat pengering rambut.
Setelah kering Henrietta mengikat bawa rambut pendeknya, dia juga memakai make-up yang natural dan itu membuat Henrietta seperti anak kuliahan.
Setelah dirasa penampilannya sudah beres, Henrietta langsung keluar dari kamarnya dan berjalan kearah ruang makan untuk sarapan.
"Selamat pagi bibi Ely," sapa Henrietta.
"Selamat pagi juga nyonya, sepertinya semalam tidur anda sangat nyenyak," ujar bibi Ely tersenyum cerah pada Henrietta.
"Sepertinya begitu, maaf pagi ini aku tidak bisa membantu kalian membuat sarapan," sesal Henrietta.
"Tidak apa-apa nyonya," ucap bibi Ely.
"Apa yang bibi buat untuk sarapan kali ini?" tanya Henrietta setelah mendudukkan dirinya di kursi meja makan.
"Eggs benedict," tungkas bibi Ely sambil menyiapkan makanan untuk Henrietta.
"Mm ... Sepertinya enak," ujar Henrietta setelah melihat menu sarapan pagi ini.
Eggs benedict merupakan menu sarapan atau makan siang. Makanan ini terdiri dari muffin Inggris, ham atau bacon, telur rebus, dan saus hollandaise. Telur ini biasanya direbus setengah matang. Makanan ini biasanya dihidangkan bersamaan dengan teh atau kopi hangat yang menenangkan.
__ADS_1
"Bibi Ely bolehkah aku minta teh," ucap Henrietta.
"Tentu nyonya ... Tunggu sebentar," sahut bibi Ely.
Dan tak lama kemudian teh pesanan Henrietta datang.
"Ini nyonya," bibi Ely menaruh cangkir teh itu di dekat Henrietta.
"Terima kasih bibi," Henrietta tersenyum pada bibi Ely dan menyeruput teh yang masih panas itu.
"Bibi? Apa kau melihat Henry?" tanya Henrietta sembari memasukan potongan potongan makanannya kedalam mulut.
"Tuan sedang berolahraga di ruang gym-nya nyonya," jawab bibi Ely.
"Ck ... Padahal dia baru saja sembuh dan sekarang sudah membuat badannya lelah lagi," cibir Henrietta sembari memasukan suapan besar ke mulutnya.
Bibi Ely hanya tersenyum saja melihat tingkah lucu nyonya-nya dengan mulut yang terus saja menggerutu.
Saat bibi Ely sudah pergi, tak lama kemudian Henry muncul dari arah yang sama dari taman belakang.
Henry mendekat kearah meja makan dan menuangkan air putih dan meminumnya.
"Kau sudah sembuh?" tanya Henrietta yang menyadari Henry ada di sebelahnya.
"Mm ..."
"Kenapa kau tak istirahat lagi dan malah berolahraga?" tanya sinis Henrietta.
Henrietta tampak melihat kearah Henry, ini adalah kata-kata terpanjang yang di ucapkan oleh Henry padanya setelah mereka menikah.
Henry melihat penampilan Henrietta yang berbeda dan sudah rapi.
"Kau mau pergi?" tanya Henry.
"Iya, aku ada janji untuk mengantar Della bertemu dengan Leo," jawab Henrietta masih dengan memakan sarapannya.
Alis Henry tampak menyatu dan melihat kearah Henrietta. "Siapa Leo?" tanya Henry sambil mendudukkan dirinya.
"Sepupu jauh Lucy, sahabatku," jawab Henrietta.
"Mereka berpacaran?" tanya Henry.
"Tidak, aku hanya mengantar Della untuk.bertemu dengannya saja, karna Della akan melihat tempat kuliahnya," jawab Henrietta.
"Kau menyekolahkannya?" tebak Henry.
"Mm, aku hanya merasa sayang jika Della hanya akan bekerja disini terus, dia masih muda dan perjalanannya masih panjang, entah sampai kapan dia bisa mengumpulkan uang untuk biaya sekolahnya, aku tahu jika gaji disini sangat besar, tapi dia juga harus mengirim uang untuk orang tuanya, apa lagi adik tirinya juga masih sekolah," jelas Henrietta.
"Kau tak masalahkan? Tenang saja aku membiayai-nya dengan uangku sendiri, maaf kalau sebelumnya aku tak bilang padamu," ujar Henrietta.
__ADS_1
Henry menatap kearah mata biru jernih milik Henrietta. "Mm ... Tidak masalah," balas Henry setelah mengalihkan pandangannya lagi kearah lain.
"Terima kasih," tungkas Henrietta menampilkan senyum manis di bibir ranumnya.
"Kemarin malam, apa yang kau ingin bicarakan denganku?" tanya Henry.
Henrietta mengalihkan pandangannya pada Henry. 'Kenapa pria ini jadi banyak bertanya pagi ini? Apa sakit membuat mulutnya meleleh?' batin Henrietta.
"Soal itu---" Henrietta tampak menjede ucapannya sebelum melanjutkannya lagi.
"Aku, aku hanya ingin meminta izin darimu untuk pergi ke Swiss, aku harus mengecek restoran milik ibuku disana, sudah terlalu lama aku meninggalkannya," ujar Henrietta.
"Sebenarnya aku tak terlalu perduli kau mau mengizinkan-ku atau tidak ... Tapi, sebagai seorang istri bukankah aku harus tetap bilang padamu?" ucap Henrietta.
"Kau bisa pergi bersamaku nanti," ucap Henry.
Henrietta melihat Henry tak percaya. "A-aku bisa pergi sendiri, kau tak perlu ikut kesana," ujar Henrietta.
"Aku kesana bukan karna ingin ikut denganmu, aku juga harus mengecek pembangunan hotelku disana," jelas Henry.
"Ah~" seru Henrietta.
Karna merasa malu dengan perkataannya barusan Henrietta langsung membungkam mulutnya dan tak mengatakan apapun lagi.
Senyum tipis terbit di bibir Henry, saking tipisnya bahkan orang lain tak akan bisa menyadarinya.
"Nyonya!" panggil Della.
"Kau sudah selesai? Duduklah, aku akan menghabiskan sarapanku dulu," ujar Henrietta pada Della.
"Tidak perlu nyonya, saya akan menunggu anda disini saja," tolak Della karna merasa tak enak, lagi pula disana juga ada bosnya yang lain.
"Nanti kau akan pegal jika menungguku, aku lama jika sedang makan," kekeh Henrietta.
"Duduklah," suara bariton yang terkesan dingin dan menyeramkan langsung menembus gendang telinga Della.
"Kau dengar sendiri kan? Dia menyuruhmu duduk," tungkas Henrietta.
Dengan takut-takut Della mendudukkan dirinya di samping Henrietta.
Henrietta mengalihkan atensi-nya pada Della.
"Kau pasti akan suka tempat yang ku pilihkan untukmu, selama kau sekolah disana Leo akan membantu-mu, kau boleh bertanya apapun padanya, dia pria yang baik dan tampan, dia juga mahasiswa cerdas," kata Henrietta sekaligus memuji Leo.
Henry langsung memicingkan matanya saat mendengar pujian Henrietta pada orang lain.
"Habiskan makanan-mu Rietta, setelah itu kau boleh bicara," tegur Henry.
Henrietta tak menggubris teguran Henry dan malah berbicara pada Della.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku akan menghabiskan makananku dulu," ujar Henrietta dengan ramah.
"Iya nyonya," balas Della dengan canggung, karna dia merasa atmosfer di ruangan itu seketika berubah.