
"RIETTA ..." teriak Henry memenuhi seisi mansion.
Henry mencari kearah dapur tapi tidak menemukan keberadaan sang istri.
Akhirnya dia memutuskan untuk menaruh makanan pesanan Henrietta di atas meja makan dan dia berjalan kearah kamarnya.
Henry membuka pintu kamar dan itu bertepatan dengan Henrietta yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Rietta!" panggil Henry.
"Oh God ... Kau mengagetkanku," keluh Henrietta mengusap dadanya yang kaget.
"Sorry," ujar Henry.
Henry menghampiri Henrietta yang hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuhnya.
"Kapan kau pulang?" tanya Henrietta yang malah melingkarkan tangannya di bahu Henry.
Henry memegang pinggang ramping Henrietta dan mendekatkan dirinya.
"Baru saja, kupikir kau ada di dapur," ucap Henry.
"Aku baru saja selesai mandi, udara dingin membuatku malas mandi pagi," pungkas Henrietta.
Henry mengecup bibir Henrietta dan menatap mata birunya.
"Aku membawakan makanan pesananmu," ucap Henry.
"Benarkah?" ujar Henrietta.
"Mm ..."
"Kalau begitu aku akan memakai bajuku," ujar Henrietta.
Henrietta melepaskan rangkulannya dan akan pergi. Tapi, Henry malah menahannya dan semakin merapatkan tubuh mereka.
"Sebentar saja," lirih Henry.
"Tapi, aku harus segera ganti baju, disini sangat dingin ..." ujar Henrietta.
"Kita bisa melanjutkannya nanti malam," lanjutnya seolah tahu apa yang ada di pikiran Henry.
"Baiklah," pasrah Henry.
"Good boy," puji Henrietta, lalu mencium bibir dan ******* bibir Henry.
"Oh baby ... Kau memancingnya," gerutu Henry karna Henrietta hanya menciumnya.
"Bersabarlah, bagaimana kalau kau mandi dulu dan melanjutkannya di dalam, nanti malam aku yang akan bekerja," ujar Henrietta mengedipkan sebelah matanya menggoda Henry.
"Awas kau nanti ... Aku tidak akan melepaskanmu," ucap Henry dan masuk kedalam kamar mandi.
Henrietta terkekeh melihat wajah jengkel suaminya, dia berjalan kearah walk in closet dan segera memakai pakaiannya.
Setelah selesai dia keluar dari walk in closet.
"Kau masih di dalam?" ujar Henrietta dari pintu kamar mandi.
"IYA ..." teriak Henry.
"Jika kau mencariku, aku akan ada di home theater," pungkas Henrietta.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Henry, Henrietta memutuskan untuk keluar dari kamar.
Dia berjalan menuruni anak tangga dan menuju ruang makan.
Disana Henrietta melihat sebuah paper bag bermerek sebuah restoran Inggris, dia membukanya dan ternyata itu adalah makanan pesanan dirinya.
Henrietta mengeluarkan makanan itu dari dalam paper bag dan membuka bungkusnya, karna sudah mulai dingin akhirnya dia memasukannya kembali ke dalam oven agar panas kembali.
Sembari menunggu makanannya panas, Henrietta membuat coklat panas untuk dirinya. Sebenarnya dia ingin membuat jus jeruk, tapi Henry akan mengomel.
Setelah selesai dia membawa semua makanan dan minuman itu ke dalam ruang home theater yang berada di lantai paling atas mansion Henry.
"Sarah," panggil Henrietta.
"Iya nyonya?" jawab Sarah.
"Jika Henry mencariku bilang padanya aku ada di home theater," jelas Henrietta.
"Baik nyonya," balas Sarah dengan patuh.
Henrietta kembali melanjutkan langkahnya menuju lift yang ada di dalam mansion Henry.
Dia menekan lantai paling atas yaitu lantai tiga, lantai yang belum pernah dia datangi selama dia tinggal di mansion.
Ting ...
Pintu lift terbuka, Henrietta keluar dari dalam lift dan berjalan kearah pintu besar yang ada di ujung lorong.
Henrietta melewati lorong yang tidak terlalu panjang itu dengan melihat-lihat bebagai macam lukisan klasik.
Setelah sampai dia membuka pintu yang memang tidak di kunci itu.
"Kenapa aku tidak kesini dari dulu," ujar Henrietta.
Dia mendudukan dirinya di sofa empuk yang berhadapan langsung dengan layar besar di depannya, dia menaruh makanan dan minumannya di atas meja.
Henrietta menghidupkan penghangat ruangan tersebut.
Henrietta mendengar suara pintu terbuka dari luar.
"Kenapa tidak menungguku," ujar Henry yang sudah duduk di samping Henrietta.
"Kau terlalu lama," jawab Henrietta yang sedang fokus dengan film di depannya.
"Kau tidak bilang jika punya home theater," pungkas Henrietta.
"Kau tidak bertanya," balas Henry.
"Ishh ... Kau ini," gerutu Henrietta.
Henry merapatkan duduknya dengan Henrietta, dia bahkan mengusap-usap bahu Henrietta.
"Henry, don't disturb me," ucap Henrietta.
"Aku sedang menghangatkan mu baby," balas Henry.
"Kau menyebalkan," ujar Henrietta.
"Kau sengaja kan menonton ini," ujar Henry saat film yang di tonton oleh mereka menampilkan adegan dewasa.
"Te-tentu saja tidak," gugup Henrietta.
__ADS_1
Lantas Henry malah membawa tubuh Henrietta untuk duduk di atas pangkuannya.
"Bagaimana kalau kita juga melakukan seperti yang ada di dalam film itu," goda Henry.
"Tidak," tolak Henrietta cepat.
"Kenapa?" tanya Henry dengan memicingkan alisnya.
"Kau sudah janji tadi, jadi jangan coba-coba untuk mengingkarinya," ujar Henry.
Tangan Henry mulai mengusap paha terbuka Henrietta yang memang sedang mengenakan celana pendek.
Sedangkan tangan yang satunya lagi sedang membelai wajah cantik istrinya.
Henry menatap dalam kearah mata biru Henrietta yang selalu menghipnotis dirinya.
Dia mulai memagut bibir Henrietta yang sudah seperti candu bagi dirinya, tidak sekalipun dia lewatkan untuk mencium bibir manis istrinya.
Sesekali Henry akan mencium dalam bibir itu hingga membuat sang empunya mendesah.
Tangan Henry kini beralih kedalam kaos besar yang di gunakan istrinya, dia meremas dua gundukan sintal milik sang istri hingga lagi-lagi membuatnya mendesah.
Kini pakaian yang di gunakan oleh Henrietta sudah berserakan di lantai, sementara pakaian Henry masih melekat di tubuhnya.
Henrietta melengkungkan tubuhnya kebelakang saat Henry bermain-main di pusat intinya.
"Ahhhh ..." desah Henrietta.
Henry menatap wajah istrinya yang sudah di penuhi oleh kabut gairah.
Karna tidak ingin berlama-lama, Henry akhirnya melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
Dia mulai masuk ke permainan intinya bersama sang istri, udara di home theater itu semakin panas akibat pergulatan panas sepasang manusia yang sedang saling memuaskan satu sama lain.
Henry mengakhirinya dengan sekali hentakan dan menyemburkan semua miliknya kedalam rahim Henrietta.
Napas mereka saling bersautan satu sama lain, Henry mengecup seluruh wajah Henrietta yang tampak lelah.
Henry memakai kembali pakaiannya dan membersihkan milik Henrietta.
Henry memakaikan kembali pakaian Henrietta, dan membawa wanita itu kedalam gendongannya.
Mereka meninggalkan ruangan itu dan menuju lift yang akan membawa mereka langsung ke lantai kamar mereka.
Setelah sampai di dalam kamar Henry merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang dengan pelan.
Henrietta menggeliat dalam tidurnya dan membuka matanya, tubuhnya terasa remuk karna melakukan percintaan di sofa.
"Kau mau kemana?" tanya Henry yang melihat Henrietta bangun dari tidurnya.
"Kamar mandi, padahal aku baru mandi," ujar Henrietta.
Belum juga kakinya menyentuh lantai, tubuhnya sudah lebih dulu di angkat oleh Henry.
"Aku bisa berjalan sendiri," ucap Henrietta.
"Tidak, aku akan menggendongmu sampai kamar mandi," ujar Henry.
Henry berjalan kearah kamar mandi dan menurunkan Henrietta.
Henry keluar dari kamar mandi dan membiarkan Henrietta sendirian.
__ADS_1