
"Apakah itu orangnya?" tanya seorang pria yang duduk di kursi kemudi kepada wanita yang ada di sampingnya.
"Hmm ... Aku ingin kau melenyapkannya, terserah kau mau pakai cara apa aku tak perduli," sahut wanita itu sambil menatap tajam ke arah yang ada di depannya.
"Itu masalah gampang, aku hanya perlu menyusun sedikit rencana agar pekerjaanku bersih," ujar pria itu.
"Kau harus memberikan imbalan yang cukup besar padaku Julia, karna ini pekerjaan tak mudah," ucapnya pada wanita yang tak lain adalah Julia.
"Kau tenang saja, aku akan membayar-mu mahal jika kau berhasil melakukan tugasmu dengan baik," ucap Julia.
Sementara itu orang yang sedari tadi mereka awasi terlihat baru saja keluar dari taman kanak-kanak.
"Kita akan menjadi teman mulai sekarang," ucap Maisie pada Alice.
"Iya, aku juga senang bisa berteman dengan kalian," sahut Alice memperlihatkan senyumannya.
"Aunty, bolehkah Alice dan baby Ital main di rumah Rae?" ucap Maisie pada Edith.
"Tentu saja," sahut Edith tersenyum.
"Yey ..." Maisie berseru senang dan langsung mengapit lengan Alice.
"Ayo, sebaiknya kita pulang sekarang," ujar Emma pada kedua ibu muda tersebut.
"Aku harus memberitahu John dulu jika aku sudah mendaftarkan Alice," ucap Edith setelah mereka masuk kedalam mobil.
Henrietta mulai menjalankan mobilnya dan sesekali melihat kearah kedua anaknya yang duduk di belakang.
"Ash, kau mau coklat?" tanya Alice pada Asher dan memberikan satu batang coklat.
"Tidak," jawab Asher dingin.
Lantas anak yang sebentar lagi akan genap enam tahun itu mengeluarkan bukunya dari dalam tas dan membacanya tanpa melihat kearah Alice sama sekali.
"Asher tidak suka coklat, Alice. Dia selalu banyak menerima coklat, tapi semuanya di berikan padaku,", timpal Maisie yang duduk di sebelah Alice.
"Benarkah, Ash?" tanya Alice tapi tak di tanggapi oleh Asher.
__ADS_1
"Asher memang seperti sayang, kau lama-lama akan terbiasa dengannya jika kalian sudah berteman," ucap Henrietta.
"Lebih baik coklatnya untukku saja," ucap Maisie dengan polosnya.
"No, baby ... Untuk sekarang tak ada coklat dulu, atau daddy-mu akan membawamu lagi ke dokter gigi," timpal Henrietta yang sedang menyetir.
Maisie seketika mengerucutkan bibirnya tanda kesal, Emma tertawa melihat wajah cucu cantiknya yang sedang kesal.
"Kau bisa memakan yang lain dulu sayang. Tapi untuk sekarang, tak ada coklat, tak ada ice cream, dan tak ada permen," sahut Henrietta.
Alice kembali memasukan coklat itu kedalam tas miliknya.
"Alice bagaimana kalau kau menginap di rumahku," ucap Maisie.
Alice melihat kearah sang ibu yang ada di sebelah Maisie seolah-olah meminta persetujuan.
"Apakah boleh, mom?" tanya Maisie pada ibunya.
"Tentu saja boleh," jawab Henrietta.
Edith menganggukkan kepalanya, tanda dia mengizinkan Alice menginap.
"Kita bisa tidur bersama," sahut Maisie penuh semangat.
"Mereka terlihat sudah akrab," ujar Emma pada Henrietta.
"Mungkin karna mereka seumuran dan Alice adalah teman pertama Maisie setelah pindah kemari dan begitupun sebaliknya," ujar Henrietta.
Hingga tak terasa mobil yang di bawa oleh Henrietta sudah sampai di pelantaran mansion miliknya.
Semua orang keluar dari dalam mobil termasuk Henrietta.
"Rietta!" terdengar suara wanita yang memanggil namanya dari arah belakang dengan cukup keras.
Henrietta membalikan tubuhnya dan melihat siapa yang baru saja memanggilnya.
Dari arah luar gerbang utama Henrietta dapat melihat Dorothy yang keluar dari dalam mobil dan berdiri di luar pagar.
__ADS_1
"Mommy dan yang lainnya duluan saja, aku akan menemuinya sebentar," ucap Henrietta pada ibu mertuanya.
"Kau yakin?" tanya Emma memastikan dengan wajah khawatir.
Pasalnya Emma sudah tahu mengenai asal usul Henrietta.
"Hmm, aku yakin ... Mommy tenang saja," sahut Henrietta memberikan senyumannya.
Emma dan yang lainnya pun masuk kedalam mansion.
Henrietta berjalan menghampiri Dorothy dan menatap wanita itu dengan dingin.
"Kami sudah menyuruhnya pergi. Tapi, dia tetap menunggu disini sampai anda pulang, nyonya," ucap salah satu penjaga mansion.
"Aku akan berbicara dengannya," ujar Henrietta.
Henrietta menatap Dorothy dengan tajam dan dingin, sedangkan Dorothy menatap Henrietta dengan pandangan marah dan kesal.
Mereka hanya di pisahkan oleh pagar gerbang yang menjulang tinggi.
"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Henrietta langsing ke intinya.
Dorothy berdecak marah. "Sudah aku bilang untuk pergi dari hadapan Henry dan jangan muncul lagi, tapi kau malah muncul di hadapan anakku dan merebut Henry," marah Dorothy.
"Aku sudah pergi darinya. Tapi, dia yang menemukan aku, apakah itu kesalahanku? Jika yang kau takutkan adalah harta, kau tenang saja, aku tak akan mengambil sepeserpun harta milik pria tua itu," ujar Henrietta.
"Kau sudah melewati batasanmu, Rietta!" geram Dorothy.
"Batasan yang mana? Bukankah kalian sendiri yang menikahkan aku dengannya, lalu sekarang kalian menyalahkan aku?" sahut Henrietta.
"Kau merusak kebahagiaan anakku dasar ******," maki Dorothy.
"Kebahagiaan? Lalu apa yang ibuku dapat selama ini? Bahkan dia tak pernah bahagia walau satu rumah bersama suaminya, dan yang lebih parahnya lagi, suaminya sendiri malah membawa wanita luar beserta anaknya ke rumah itu," sindir Henrietta.
"Bukankah kita impas? Kau mengambil suami ibuku dan aku mengambil tunangan anakmu-- Ohh maaf, maksudku mantan tunangan anakmu," ejek Henrietta di akhir kalimatnya.
Dorothy geram dengan perkataan Henrietta dan ingin sekali dia menghabisi wanita itu.
__ADS_1
"Kau akan menyesal berurusan denganku, Rietta!" ancam Dorothy.
"Dan kau belum tahu siapa aku," balas Henrietta tersenyum miring.