
Henrietta sudah bersiap untuk pergi ke restoran, dia menutup pintu rumahnya dan tidak menguncinya, karna takut Henry akan pulang lebih dulu dari pada dirinya.
Henrietta tampak berjalan sampai ke persimpangan jalan untuk mencari taksi.
Di tengah jalan ada suara klakson mobil yang memanggilnya dan berhenti tepat di sampingnya.
TIN .... TIN ...
Henrietta menoleh dan melihat mobil mewah berwarna merah menyala berhenti di depan dirinya.
"Rietta!" panggil seorang pria setelah dia membuka kaca jendela mobilnya.
"Luke?" ujar Henrietta dengan senang.
Pria yang bernama Luke itu pun keluar dari mobil dan langsung saja memeluk Henrietta.
"Kapan kau kembali? Kenapa tidak menghubungiku, aku bisa menjemputmu," ujar Luke setelah melepaskan pelukannya.
"Aku baru sampai semalam," balas Henrietta.
"Kau mau kemana?" tanya Luke.
"Restoran," jawab Henrietta.
"Kebetulan sekali, aku juga akan kesana," pungkas Luke.
Henrietta tampak memicingkan matanya melihat kearah Luke.
"Kau masih mengejar Milly?" tanya Henrietta.
"Sudah tidak lagi, dia menolak-ku dua minggu yang lalu, sekarang aku sudah punya pacar baru," ujar Luke dengan entengnya.
"Aish ... Dasar pria ini," cibir Henrietta.
"Sudah ku bilang jangan mempermainkannya," Henrietta memukul pundak Luke sebelum masuk kedalam mobil pria itu.
"Aku tidak mempermainkannya," sangkal Luke sambil masuk kedalam mobilnya.
"Berarti kau kurang meyakinkannya, dia tahu sepak terjangmu dalam percintaan, jadi dia tak akan semudah itu menerima-mu," ucap Henrietta.
"Jika kau serius mana mungkin sekarang kau punya pacar lagi," ujar Henrietta.
"Aku tak akan memaksa wanita yang tidak suka denganku, buang-buang waktu. Lebih baik aku mencari lagi sampai menemukan yang cocok,"
Luke mulai menyalakan mesin mobilnya dan melakukannya dengan kecepatan sedang.
"Lalu untuk apa kau ke restoranku?" tanya Henrietta.
"Ya, tentu saja untuk makan Rietta! Apa selama sebulan kau tinggal di Amerika otakmu jadi bermasalah," jawab Luke.
TAK ...
Sontak saja Luke langsung mendapat jitakan di kepalanya.
"Apa yang kau lakukan Rietta," pungkas Luke.
"Mulutmu tak bisa di filter," seru Henrietta.
"Aku berencana makan siang dengan pacar baruku disana," ujar Luke akhirnya.
"Untuk memanas-manasi Milly?" tebak Henrietta.
"Tentu saja tidak, untuk apa aku memanas-manasi dirinya, jika dia saja tidak suka padaku," sahut Luke.
"Kau menyebalkan, kau tahu?"
__ADS_1
"Yeah, i know," balas Luke santai.
Hingga tak berapa lama mereka pun sampai di restoran milik Henrietta.
"Jam berapa kekasihmu kemari?" tanya Henrietta sebelum membuka pintu mobilnya.
"Mungkin dia sudah di dalam," jawab Luke.
Mereka keluar dari mobil secara bersamaan dan masuk kedalam pun bersamaan.
"Itu dia," tunjuk Luke pada Henrietta guna memberitahukan kekasih barunya menggunakan arah pandangnya.
"Pakaian terlalu sexy," Henrietta terlihat tak senang melihat kekasih baru Luke.
"Dia seorang model," ujar Luke.
"Milly masih jauh lebih baik," setelah mengatakan itu Henrietta pergi meninggalkan Luke.
Luke tampak tak terlalu perduli dengan pendapat Henrietta mengenai pacar barunya, dia hanya mengedikan bahunya dan berjalan menghampiri kekasihnya.
"Kenapa kau sangat lama," ujar kekasih Luke dengan suara manjanya.
Luke mengecup bibir kekasihnya sebelum duduk di depannya.
"Lalu siapa wanita yang tadi bersamamu? Kenapa kalian datang bersama," ujar kekasih Luke dengan nada suara yang sangat kentara tak suka.
"Dia adikku, Rietta!" jawab Luke.
"Benarkah? Aku baru tahu jika kau punya adik," ucap kekasih Luke yang sedikit tak percaya.
Dari dulu Luke memang sudah menganggap Henrietta seperti adiknya sendiri, apalagi sejak sang ayah menyukai ibu Henrietta, Luke semakin senang karna akan mendapatkan ibu sambung yang baik di tambah adik perempuan yang manis.
"Jangan memulainya Clara, aku tak suka memperpanjang masalah," Luke memperlihatkan wajah tak sukanya pada sang kekasih.
Clara langsung bungkam saat menatap mata tajam Luke.
"Nona, anda sudah datang?" ujar Milly.
"Mm ..." Henrietta memberi anggukkan pada Milly.
"Kau melihat wanita itu?" pungkas Henrietta.
Milly yang tampak tak mengerti dan bingung pun langsung menggelengkan kepalanya.
"Wanita yang mana maksud anda, karna sedari tadi saya berada di belakang," seru Milly.
"Luke dan kekasihnya ada disini," terang Henrietta.
"Kudengar dua minggu yang lalu kau menolaknya," ucap Henrietta.
Milly dengan ragu-ragu menganggukkan kepalanya.
"Mm ... Baguslah, dia bukan pria yang cocok untukmu, untungnya kau menolaknya,"
Setelah mengatakan itu Henrietta langsung masuk kedalam ruang kerjanya di restoran.
Setelah melihat Henrietta pergi barulah Milly pergi untuk melanjutkan lagi pekerjaan.
Henrietta terlihat sibuk di ruangannya, walaupun dia mendapat laporan dari Milly setiap seminggu sekali, tapi dia juga harus mengecek ulang. Takut nanti ada yang terlewat olehnya.
Tok ... Tok ...
"Masuk," sahut Henrietta saat ada orang yang mengetuk pintu.
"Makanlah dulu, kau pasti belum makan siang," Luke muncul dari balik pintu dan berkata dengan penuh perhatian pada Henrietta.
__ADS_1
"Kekasihmu sudah pergi?" tanya Henrietta yang kini mengalihkan pandangannya pada Luke yang ada di ambang pintu.
"Belum," jawabnya.
"Ya, aku akan keluar nanti," ujar Henrietta.
Sebelum menutup pintu Luke kembali berbicara pada Henrietta.
"Aku sudah menghubungi daddy dan memberitahunya jika kau sudah kembali, dia menyuruhmu datang kerumah saat makan malam,"
"Oke," balas Henrietta.
Setelah mendapat balasan dari Henrietta, Luke pun pergi meninggalkan ruangan Henrietta.
*
*
Sementara itu di sisi lain Henry juga sedang mencari tempat untuk makan siang dia menyuruh orang yang semalam dan tadi pagi menjemputnya untuk membawanya ke restoran manapun.
"Kita sudah sampai tuan!" ujar pria tersebut.
Henry melihat restoran itu dari balik kaca mobil, restoran yang cukup luas dan nyaman.
"Kau bisa kembali, aku akan pulang menggunakan taksi," ucap Henry.
"Baik tuan," sahut pria tersebut.
Setelah Henry keluar dari mobil barulah mobil yang membawa Henry pergi.
Henry masuk kedalam restoran itu dan bertepatan dengan Henrietta yang baru turun dari anak tangga.
Henrietta tampak melihat kedatangan Henry yang baru masuk kedalam restoran miliknya dan begitupun dengan Henry yang melihat keberadaan Henrietta.
'Apa ini restoran miliknya?' pikir Henry.
Henrietta terlihat enggan dan ragu-ragu untuk menghampiri Henry, apalagi ini di tempat umum.
Tapi, siapa sangka malah Henry sendiri yang datang menghampiri Henrietta.
"Ini restoran milikmu?" ujar Henry yang langsung bertanya pada Henrietta.
"Iya," jawab Henrietta sedikit gugup.
"Ada apa denganmu? kenapa kau terlihat gugup?" ujar Henry.
"A-aku tidak apa-apa," kilah Henrietta.
"Kau kesini untuk makan siang?" Henrietta bertanya pada Henry untuk menutupi kegugupannya.
Di meja lain terlihat Luke yang melihat interaksi antara Henrietta dan Henry.
"Duduklah, aku akan membawa makan siangmu kesini," pungkas Henrietta dan mendapat anggukkan dari Henry.
Henry duduk dan menunggu makanannya, sedangkan Henrietta pergi kearah dapur restoran, karna dia sendiri yang akan memasak untuk Henry.
Tak berapa lama makanan untuk Henry pun sudah jadi, Henrietta mengantarkan makanan itu dan menaruhnya di depan Henry.
"Makanlah," ujar Henrietta.
"Kau juga, duduklah dan makan denganku, setelah itu kita pulang bersama," ujar Henry seperti tidak mau di bantah.
Dengan pasrah dia pun memanggil salah satu pelayan restorannya dan menyuruhnya untuk membawakan makanan untuknya.
Henrietta seketika menyunggingkan senyumnya saat melihat Henry makan dengan lahap.
__ADS_1
Dan lagi-lagi pemandangan itu tak luput dari mata Luke.