PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #64


__ADS_3

Hari ini Henrietta akan mendaftarkan kedua anaknya ke sekolah. Setelah kemarin tak jadi pergi karna Maisie masih ingin bermain dengan Crystal dan dia juga harus datang ke perusahaan Henry untuk menemani pria itu makan siang.


Henrietta sudah berjanji akan pergi bersama Edith untuk mendaftarkan anak-anak mereka.


"Jadi hari ini kau akan pergi bersama Edith?" tanya Henry.


Kini sepasang suami istri itu masih berada di kamar mereka dengan Henry yang baru saja selesai mandi.


"Iya, aku sudah janji dengannya karna Alice juga akan sekolah di sekolah yang sama dengan si kembar," sahut Henrietta.


Henrietta mendudukan dirinya di tepi ranjang sambil melihat kearah suaminya.


"Dan bukankah itu bagus? Mereka bisa menjadi teman dan bisa akrab dari kecil," ujarnya.


"Iya, kau benar," sahut Henry.


"Dan sepertinya Alice menyukai Asher," ujar Henrietta.


"Ohh come on honey, mereka masih kecil dan kau sudah bisa melihatnya menyukai anak kita?" sahut Henry terkekeh dari arah walk in closet yang pintunya tak tertutup.


"Aku bisa melihatnya dari sudut pandang wanita dan seorang ibu, dan aku yakin dengan feeling ku," ujar Henrietta.


"Lalu, kau ingin menjodohkan mereka jika sudah besar nanti?" tanya Henry.


Henry keluar dari walk in closet hanya mengenakan kemeja dan celana bahan yang belum di kancing, dia menghampiri istrinya dan mencium bibirnya.


"Tidak, aku bukan orang tua seperti itu. Aku akan membebaskan Asher untuk memilih pasangannya sendiri asalkan wanita itu baik untuk putra kita. Aku hanya akan menasehatinya agar tak boleh menyakiti perasaan wanita," ucap Henrietta dengan bijak.


"Lagi pula aku bisa melihat jika Asher tak begitu tertarik dengan Alice," lanjutnya.


"Tentu saja, mereka masih kecil dan usia mereka baru akan menginjak enam tahun," sahut Henry.


"Lalu, apa yang akan kau lakukan jika Maisie sudah besar nanti?" tanya Henrietta sambil bersedekap dada.


"Tentu saja aku akan mencarikan pria yang baik, bertanggung jawab dan layak untuk menjadi menantuku. Aku tak mau jika putri berhargaku jatuh pada pria yang salah," jawab Henry.


"See? Aku sudah bisa menebaknya bahwa kau akan menjodohkannya," balas Henrietta.


"Baiklah ... Bagaimana kalau kita akhiri pembicaraan mengenai ini," ujar Henry yang menyerahkan dasinya pada Henrietta.


"Selalu saja," ujar Henrietta mencebik.


Henry tertawa dan mengecup bibir istri cantiknya itu.


"I love you," ucap Henry.

__ADS_1


"Aku tahu, kau selalu mengatakannya setiap hari," ujar Henrietta.


"Kau sama sekali tak romantis, honey," pungkas Henry dan kembali mencium bibir Henrietta dengan memberikan sedikit *******.


Henrietta mendorong sedikit dada Henry dan menghentikan ciuman mereka.


"Okey stop! Kita hentikan ini sebelum kau tak jadi ke perusahaan dan kita tak akan keluar dari kamar ini karna ulahmu," ujar Henrietta.


"Sudah selesai,"


"Aku akan melihat apakah anak-anak sudah siap," ucap Henrietta.


"I love you honey, dan cepatlah keluar," ujar Henrietta yang berjalan kearah pintu kamarnya.


Saat Henrietta akan menutup pintu kamarnya dia berpapasan dengan putra tampannya yang baru saja keluar dari kamar.


"Kau sudah siap?" tanya Henrietta sambil mengusap pipi Asher.


"Sudah mom," jawab Asher.


"Dimana adikmu?" tanya Henrietta.


"Masih di kamarnya," jawabnya lagi.


Asher menganggukkan kepalanya dan berjalan menuruni anak tangga.


Henrietta masuk kedalam kamar putrinya dan melihatnya sedang berkutat di depan cermin.


"Baby, apa yang sedang kau lakukan?" tanya Henrietta.


"Mommy, tolong ikatkan rambut Rae," rengek Maisie.


"Kenapa tak memanggil mommy?" ujarnya dan mendekati sang putri.


"Daddy bilang tak boleh memanggil mommy jika pagi hari," sahut anak itu dengan polos.


Henrietta menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan suaminya itu.


Dia mulai menyisir rambut hitam putrinya dan mengikatnya menjadi ekor kuda.


"Sudah ... Ayo kita turun," ujar Henrietta.


Henrietta menggandeng tangan putrinya dan keluar dari kamar gadis cantik.


Mereka menuruni anak tangga untuk menuju ruang makan.

__ADS_1


"Apa aunty Edith akan membawa Ital juga untuk mengantar Alice ke sekolah?" tanya Maisie.


"Mommy tidak tahu sayang. Kau begitu menyukai Crystal?" tanya Henrietta.


Maisie menganggukkan kepalanya dengan semangat.


"Hmm, karna Rae ingin memiliki adik seperti Ital, dia sangat lucu," jawab anak itu dengan polosnya.


"Oh, lihatlah yang datang! Kemarilah cucu cantik kakek," ujar Elijah dengan dengan semangat saat melihat kedatangan Maisie.


Maisie menghampiri kakeknya dan mencium pipi sang kakek.


"Selamat pagi kakek," sapa Maisie.


"Apa hanya kakek saja yang mendapat ciuman selamat pagi?" ujar Emma.


Maisie tertawa lucu dan menghampiri sang nenek.


Cup ...


"Selamat pagi nenek," sapa Maisie dengan senyum manisnya hingga memperlihatkan gigi putihnya.


"Kau tak mau melakukan apa yang di lakukan adikmu, Ash?" goda Elijah pada cucu laki-lakinya.


"Tidak!" jawab Asher dan membuat Elijah tertawa.


"Morning," sapa Henry yang baru saja memasuki ruang makan.


Pria itu mengecup pipi sang istri di hadapan orang tua dan juga kedua anaknya.


"Bolehkah mommy ikut mengantar kalian ke sekolah? Mommy tak ada kegiatan hari ini," ujar Emma sebelum mereka memulai sarapan.


"Tentu saja, mom," sahut Henrietta.


Dan mereka pun mulai memakan sarapan yang sudah tersaji di atas meja.


Setengah jam kemudian Henry pamit pada istri dan anaknya untuk pergi ke kantor bersama sang ayah.


Henrietta kembali masuk kedalam kamarnya untuk mengambil tas dan juga berkas-berkas kedua anaknya.


Henrietta akan menyetir sendiri mobilnya menuju ke sekolah baru anaknya.


Tapi, sebelum itu dia akan ke rumah Edith untuk menjemputnya terlebih dahulu.


Meskipun Henrietta sering bepergian sendiri tanpa supir. Tapi, Henry selalu menyuruh beberapa orang-orangnya untuk menjaga dan memantau keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2