
"Kalian akan pergi sekarang?" tanya Emma.
"Iya, mom. Kami hanya akan melihat dan memeriksanya saja," sahut Henry.
"Mommy sudah melihat berita di televisi mengenai Dorothy," kata Emma.
"Kalian akan sekalian melihatnya? Bukankah dia di rawat di rumah sakit keluarga kita?" ujar Emma.
"Aku terserah pada istriku, mom. Jika Rietta ingin melihatnya tak masalah," kata Henry.
"Aku akan memikirkannya nanti, mom," pungkas Henrietta.
Sebenernya dia enggan untuk melihat keadaan Dorothy, tapi Henrietta ingin melihat wajah Julia dan juga ayahnya.
"Kalau begitu kami pergi dulu, mom," ucap Henry.
"Ya, hati-hati," sahut Emma.
"Aku titip anak-anak, mom. Edith dan kedua anaknya juga akan main kemari," ujar Henrietta.
"Hubungi kami jika terjadi sesuatu," tutur Henrietta.
"Kau tenang saja, disini ada daddy dan juga pelayan," sahut Emma.
Setelah berpamitan pada ibu mertuanya, Henrietta pun menyusul Henry yang sudah lebih dulu ke mobil.
"Kau ingin melihatnya?" tanya Henry pada sang istri yang sudah masuk kedalam mobil.
"Mungkin hanya melihatnya sebentar saja," sahut Henrietta.
"Baiklah," ujar Henry.
Henry pun melajukan mobilnya dengan santai membelah jalanan kota New York yang tidak terlalu rama.
Hingga tak sampai lima belas menit mobil yang di kendarai Henry sudah sampai di rumah sakit milik keluarganya.
Mereka pun keluar dari mobil setelah Henry memarkirkannya.
__ADS_1
Saat sudah sampai di lobby, ponsel Henry berbunyi dan itu dari salah satu anak buahnya.
"Ada apa?" tanya Henrietta karna Henry berhenti mendadak.
"Aku harus mengangkat telepon dulu, kau duluan saja," sahut Henry.
"Baiklah," ucap Henrietta.
Henrietta pun berjalan lebih dulu dan meninggalkan Henry sendirian.
Setelah Henrietta pergi, Henry baru membuka email yang baru saja dikirim oleh anak buahnya.
"Apakah itu akurat?" tanya Henry pada anak buahnya melalui sambungan telepon.
"Iya tuan, kami sudah memeriksanya selama tiga hari ini, termasuk ke panti asuhan yang menjadi tempat tinggalnya dulu," jawab anak buah Henry.
"Gadis itu meninggalkan rumahnya sehari sebelum kakak angkatnya bertunangan, orang tua angkatnya hanya tahu jika gadis itu pergi ke Paris," kata anak buah Henry.
"Hmm, baiklah. Jangan biarkan orang lain tahu masalah ini," ujar Henry.
"Baik tuan," sahut anak buah Henry.
Henry mendapati sang istri yang sedang melihat kondisi Olivia dari balik kaca ruang ICU.
"Kenapa tidak masuk?" tanya Henry.
"Dokter sedang memeriksa kondisinya," jawab Henrietta.
"Aku punya berita mengenai gadis itu," kata Henry.
Seketika Henrietta melihat kearah sang suami.
"Apa?" tanya Henrietta.
"Kita akan membahas ini di rumah nanti. Daddy dan mommy juga harus tahu," kata Henry.
"Baiklah," sahut Henrietta yang menyetujui perkataan suaminya.
__ADS_1
"Aku berharap semoga dia cepat sadar," gumam Henrietta dengan pelan yang masih bisa di dengar oleh Henry.
"Selagi dokter memeriksanya, kau ingin melihat wanita itu?" tanya Henry.
"Hmm, tapi hanya sebentar saja," sahut Henrietta yang sebenarnya malas untuk melihat wanita yang statusnya sebagai ibu tirinya itu.
Setelah bertanya pada perawat di mana kamar inap Dorothy, Henry langsung membawa istrinya kesana.
Setelah sampai di ruang perawatan Dorothy mereka masuk kedalam, dan disana ada Marco dan juga Julia.
"Untuk apa kau datang kemari?" ucap Julia dengan sinis pada Henrietta.
"Aku hanya ingin melihatnya, apakah dia sudah mati atau belum," sahut Henrietta yang tak kalah sinis nya.
"RIETTA!!" bentak Marco saat mendengar kata-kata tidak pantas keluar dari mulut Henrietta.
Sedangkan Henry mengangkat sedikit ujung bibirnya mendengar perkataan pedas dari mulut sang istri, pria itu bahkan tidak menyangka jika istrinya akan mengatakan hal seperti itu.
"Berani-beraninya kau!!" geram Julia dan menghampiri Henrietta.
Henry langsung menepis tangan Julia yang akan menampar istrinya.
"Berani kau menyentuh istriku, kau akan berhadapan denganku," pungkas Henry menatap tajam Julia.
"Jika niatmu kemari untuk membuat masalah, maka pergilah," ujar Marco dingin.
"Kami berniat baik datang kesini untuk melihatnya," ujar Henry.
"Kau sekarang lebih membelanya? Dulu, kau tidak pernah seperti ini padaku," kata Julia dengan pandangan sendunya menatap Henry.
"Tentu saja aku membelanya karna dia istriku. Dan, berhentilah membahas masa lalu, apa kau tidak sadar juga karna apa aku menerima pertunangan itu," ucap Henry sedikit jengkel pada Julia yang selalu membahas tentang masa lalu.
"Ayo, honey. Sepertinya kita salah untuk kemari," ucap Henrietta dan keluar dari kamar inap itu lebih dulu.
"Aku peringatkan kau, jangan pernah mendekati apalagi menyentuh istriku. Jika aku tahu kau melakukan sesuatu, aku jamin hidupmu tak akan tenang," kata Henry memperingati Julia di hadapan Marco sendiri.
Julia mengepalkan tangannya saat mendengar ancaman Henry padanya.
__ADS_1
Sedangkan Marco tidak tahu harus berbuat apalagi, perusahaan yang sudah di bangun oleh mendiang sang ayah kini hampir hancur di tangannya.