
Henry mendapat telepon dari ayahnya jika operasinya sudah selesai.
"Apakah kita bisa melihatnya?" tanya Henrietta setelah mereka sudah berada di dalam mobil.
Henrietta dan Henry menitipkan kedua anaknya pada pelayan dan untungnya kedua anaknya itu masih tidur.
"Aku tidak tahu, aku tidak bertanya pada daddy, kita akan tahu setelah sampai disana," sahut Henry.
Henry mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
"Aku berencana untuk memindahkannya ke rumah sakit keluargaku, karna disana peralatannya lebih lengkap dan kita bisa lebih memantaunya," kata Henry.
"Aku ikut saja semua perkataanmu," sahut Henrietta.
Henry memegang tangan istrinya dan mengecup tangan itu.
"Semuanya akan baik-baik saja, kau tenang saja, aku akan menjamin semua perawatannya," kata Henry dan Henrietta hanya mengangguk saja.
Tak lama kemudian mobil yang di kemudikan oleh Henry sudah masuk ke pelantaran rumah sakit.
Henrietta dan Henry keluar dari mobil setelah pria itu memarkirkannya.
Mereka berjalan masuk kedalam rumah sakit dengan tangan Henry yang menggenggam tangan istrinya.
Di depan ruang UGD Henry dapat melihat kedua orang tuanya yang masih berada di sana.
"Bagaimana operasinya mom, dad?" tanya Henrietta tak sabaran.
__ADS_1
"Dia koma, kecelakaan yang di alaminya cukup parah, kulit wajahnya juga mengalami kerusakan terkena aspal jalanan, mungkin dia akan melakukan sekali lagi operasi untuk mengoperasi wajahnya yang rusak, dan setelah itu dokter akan memantau kondisinya," jelas Elijah.
"Dokter akan memindahkannya ke ruang ICU," kata Emma.
"Oh my God, bagaimana ini?" ucap Henrietta menatap suaminya dengan sendu.
"Kau tenang saja sayang, kita akan merawatnya sampai dia sembuh," kata Emma yang juga merasa kasihan dengan gadis yang telah menyelamatkan menantunya.
"Kau sudah mendapat informasi mengenai keluarganya?" tanya Elijah pada putranya.
"Belum," sahut Henry.
"Aku berencana untuk memindahkannya ke rumah sakit keluarga kita, dad," ujar Henry.
"Aku setuju dengan Henry, disana kita bisa memantaunya lebih detail," timpal Emma.
*
*
Setelah Elijah berbicara dengan dokter, gadis yang mereka ketahui dari identitasnya bernama Olivia itu pun mulai di pindahkan ke rumah sakit milik keluarga Walter.
Gadis itu akan mendapat penanganannya dari para dokter terbaik yang ada di rumah sakit itu.
Dan kini, Elijah sedang berbicara berdua dengan sang putra di kafetaria rumah sakit.
Sementara istri-istri mereka menunggu Olivia di luar ruang ICU.
__ADS_1
"Kau sudah tahu siapa yang melakukannya?" tanya Elijah yang sebenarnya sudah tahu dari anak buahnya.
"Daddy juga pasti sudah tahu," sahut Henry dan menyeruput kopinya.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan?" tanya Elijah.
"Tentu saja membuatnya merasakan apa yang di lakukannya pada istriku. Namun bedanya, tak akan ada yang menolongnya," ucap Henry dengan mata tajamnya yang menahan amarah jika membahas tentang Dorothy.
"Daddy serahkan semuanya padamu, dan buatlah sebersih mungkin. Kau tahukan jika anaknya masih berkeliaran di luar sana, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama seperti ibunya karna sakit hati padamu," kata Elijah.
"Aku tahu dad, aku akan lebih berhati-hati mulai sekarang," ucap Henry.
"Lebih baik pesta pernikahan kalian di tunda dulu sampai malasah ini selesai, apalagi gadis itu belum sadar," kata Elijah.
"Hmm ... Aku akan membicarakan masalah ini dengan Rietta," sahut Henry.
Cukup lama kedua pria itu berada di kafetaria, hingga Emma akhirnya menyusul mereka.
"Honey, ayo kita pulang," kata Emma pada suaminya.
"Rietta dimana, mom?" tanya Henry.
"Masih di depan ruang ICU," jawab Emma.
"Aku akan menyusulnya," ujar Henry.
"Aku titip anak-anak mom," ujar Henry dan di angguki oleh sang ibu.
__ADS_1
Henry pergi terlebih dahulu untuk menemani istrinya dan meninggalkan kedua orang tuanya.