
Julia masuk kedalam mansion orang tuanya setelah melakukan penerbangan panjang antar Spanyol - New York.
Wajah lelahnya bahkan lenyap dan di gantikan dengan wajah penuh amarah dan kekesalan.
"Taruh koperku," ujar Julia dengan kasar pada salah satu pelayan yang membukakannya pintu.
"Dimana orang tuaku?" tanya Julia tak sabaran.
"Di-di ... Ruang makan, nona," jawab pelayan tersebut sedikit takut.
Julia berjalan dengan langkah lebarnya menghampiri kedua orang tuanya.
Julia sampai di New York pada saat orang tuanya akan melakukan makan malam.
Brak ...
Julia menutup pintu ruang makan itu dengan sedikit kasar dan membuat kedua orang tuanya kaget.
"JULIA! Apa yang kau lakukan?" bentak Marco.
"Kenapa kau sudah kembali? Apa kau tak bertemu dengan Henry?" tanya Dorothy.
Bukannya menjawab, Julia malah bertanya balik pada orang tuanya.
"Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?" tanya Julia dengan sorot mata tajam.
"Apa yang kau bicarakan? Sembunyikan apa?" ujar Marco yang merasa tak mengerti dengan perkataan anaknya.
"Kami tak menyembunyikan apapun dari," sahut Dorothy.
"KALIAN BOHONG! Kalian menyembunyikan sesuatu dariku," teriak Julia.
"Kau dad, kau menyuruh orang lain untuk menjadi penggantiku saat aku koma ... Iya kan?" cecar Julia.
"Kenapa kau lakukan itu? Kau membuat masalah untuk putrimu sendir. Harusnya aku yang sekarang bersama dengan Henry, bukan wanita itu," marah Julia.
"Karna kau, semuanya karna kau!" maki Julia pada ayahnya sendiri.
"CUKUP JULIA!" bentak Marco yang sudah tidak bisa menahan kesabarannya.
"Julia," kata Dorothy.
"Kau juga sam mom, kenapa kau harus menyetujui ide gila suamimu itu ... HAH?" timpal Julia.
"Kami hanya ingin mempertahankan posisimu itu saja, Dan bagaimana pun pada saat perusahaan Henry adalah penyokong terbesar di perusahaan ayahmu," ujar Dorothy yang masih bisa mengatur emosinya.
"Lalu apa yang kalian dapat sekarang? Tidak ada ... Aku kehilangan posisiku dan Henry menghentikan kerjasamanya. Dan itu semua karna kecerobohan kalian,"
"Jika saja kalian tak melakukan itu, aku sekarang yang seharusnya menjadi istrinya dan bukan wanita itu,"
"Sudah puas? Kau sudah puas menyalahkan kami?"
PRANG ...
Marco membuang piring yang ada di hadapannya guna melampiaskan emosinya.
"Ini semua terjadi juga karna dirimu, andai kau tak melakukan kecerobohan itu aku tak mungkin menyuruh anak itu untuk menggantikan mu. Tadinya aku ingin menggunakan anakmu untuk menjerat Henry dan membuatnya merasa bersalah. Tapi, sayang anak yang itu bukan anak Henry," ujar Marco.
__ADS_1
Saat Dorothy akan berbicara Marco lebih dulu menimpalinya.
"Apa? Kau pikir aku tidak tahu dengan kenyataan itu?" sindir Marco.
"Aku akan merebut Henry dari wanita itu apapun caranya. Jika aku tak bisa mendapatkan Henry, maka wanita itu juga tidak akan pernah bisa mendapatkannya," tekad Julia.
Julia keluar dari ruang makan itu.
"Ini semua salahmu," kata Dorothy.
"Kau bilang kau akan membereskan anak itu agar tak membuat masalah," ujar Dorothy.
"Aku kehilangan jejaknya pada saat itu, dna berhentilah menyalahkan ku," runtuk Marco.
"Seharusnya aku bunuh saja anak itu sejak awal," gumam Dorothy kesal.
Setelah sampai di dalam kamarnya, Julia melampiaskan semua rasa mara dan kesalnya pada barang-barang yang ada di dalam kamarnya.
PRANG ...
Dia bahkan melempar lampu tidur kearah jendela, hingga membuat kaca jendela itu pecah.
"SIALAN! Aku akan membalas-mu, *****," maki Julia.
"Arhhhhh ..." teriaknya sambil mengacak-acak meja riasnya.
*
*
*
Bahkan pria itu sudah mendapat bogem mentah dari Matthew sebagai pembalasan.
Dan hari ini Henry akan membawa Henrietta beserta kedua anaknya ke New York.
"Kau yakin tak akan ikut pulang bersama kami?" tanya Henrietta pada Lucy.
Lucy dan Matthew beserta anaknya masih berada di Spanyol dan belum kembali ke New York.
"Tidak, Matthew masih ada urusan bisnis dan setelah ini kita akan ke Paris," jawab Lucy.
"Nanti, kita akan bertemu disana," ujar Lucy.
"Baiklah," sahut Henrietta.
"Cepatlah mencari istri. Kalau tidak, aunty akan menyuruhmu melakukan kencan buta," ujar Henrietta pada Aiden.
Aiden hanya berdecak dengan memutar bola matanya jengah.
"Dia sudah menemukan kandidat yang pas untukmu," bisik Henrietta tepat di telinga Aiden.
Sementara Henry hanya bisa tersenyum melihat istrinya yang terus-terusan menggoda Aiden.
"Honey, sudahlah jangan menggodanya lagi," pungkas Henry.
"Diamlah ... Kau juga sama saja," timpal Aiden pada Henry.
__ADS_1
Dan Henry hanya mengedikan bahunya tanda tak bersalah.
"Uncle?" panggil Maisie.
"Ada apa lagi?" jawab Aiden.
"Selama kami pergi, tolong jaga Miss Bella ... Kami tak mau kehilangan calon bibi seperti Miss Bella," ujar Maisie dengan wajah polosnya.
"Oh my God ... Aku bisa gila lama-lama berada disini," runtuk Aiden.
Semua yang berada disana pun tampak tertawa melihat sikap tak berdaya Aiden.
"Kejarlah Miss Bella agar kau tak di jodohkan," ucap Henrietta.
"Dad, kapan kita akan berangkat?" tanya Asher pada ayahnya.
"Sebentar lagi boy," jawab Henry sambil mengusap pucuk kepala putranya.
"Jaga Rietta untukku," ucap Jared pada Henry.
"Pasti, aku akan menjaga istri dan anakku ," jawab Henry.
"Sering-seringlah kemari jika si kembar libur sekolah," ujar Imelda pada keponakannya.
Henrietta memeluk bibinya. "Iya," sahut Henrietta.
"Ohh ... Aku pasti akan merindukan dua anak manis ini," ucap Imelda pada kedua anak Henrietta.
Imelda memeluk Asher dan Maisie secara bergantian, dan begitu pulang dengan Stev.
"Grandpa akan merindukan kalian," ujar Stev.
"Kami janji akan kemari lagi untuk melihat grandpa," jawab Maisie.
"Aku akan mengawasi mu jika sudah sampai di New York," sungut Matthew pada Henry dengan tatapan tajamnya.
Henry tak terlalu menggubris perkataan Matthew.
Henrietta berjalan di belakang Henry menuju mobil yang sudah menunggu mereka.
Terlihat Maisie yang melambaikan tangan mungilnya pada keluarganya.
"Apa nanti kita akan kesini lagi?" tanya Maisie di dalam gendongan Henry.
"Tentu saja. Kalian bisa kemari saat libur sekolah," jawab Henry sembari tersenyum.
Henry membukakan pintu belakang untuk istri dan juga kedua anaknya. Sementara dirinya duduk di kursi depan bersama supir yang akan mengantar mereka menuju bandara.
Karna pesawat pribadi milik Henry masih terparkir di bandara.
"Aku pasti akan merindukan teman-temanku, " ujar Maisie lirih.
"Setelah kalina sekolah disana. Kalian juga akan menemukan teman baru," sahut Henrietta.
"Aku ingin melihat ekspresi mereka setelah tahu jika aku membawamu kembali," celetuk Henry dengan senyum miring di bibirnya.
Henrietta sudah menceritakan semuanya pada Henry mengenai kedua orang tuanya, termasuk Marco yang merupakan ayah kandungnya.
__ADS_1
Henrietta juga bercerita masa kecilnya yang mendapat perlakuan tak adil dari Marco dan keluarganya. Bagaimana mereka menghina ibunya.
Henry juga sudah tahu jika Henrietta adalah anak dari mantan sekretaris ayahnya, wanita yang dulu sering mengasuhnya bersama sang ibu.