PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #9


__ADS_3

Satu bulan sudah usia pernikahan Rietta dan Henry, sejak hari di mana kedua mertuanya menginap sejak itu pula Rietta tidur di kamar milik Henry.


Tapi setelah itu Henry jarang pulang kerumah, jika pun pulang pasti selalu larut malam, entah apa yang di lakukan Henry di luaran sana, mungkin dia terlalu sibuk, atau mungkin juga dia menemani Julia di rumah sakit, Rietta tak mau menebak-nebak apa yang Henry lakukan.


Satu bulan juga kondisi Julia tetap sama tidak ada perubahan yang berarti dengan kondisi Julia, pernah sekali Rietta melihat Julia saat dia akan menemui Lucy di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat Julia di rawat.


Rietta cukup iba dengan kondisi yang di alami Julia, saat Rietta melihatnya yang dia dapatkan hanya tatapan tajam dan makian dari Dorothy untuknya.


Wanita itu memang tak pernah menyukai Rietta dan ibunya.


Dan rencananya Rietta akan kembali ke Swiss untuk mengecek restoran milik ibunya, sudah terlalu lama Rietta meninggalkan restoran itu.


Dia akan meminta izin Henry sebelum pergi ke Swiss, mau Henry mengizinkan ataupun tidak, Rietta harus tetap meminta izin Henry.


Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam, tapi Henry belum juga pulang, Henrietta sengaja menunggu Henry untuk berbicara dengan pria itu.


Untuk mengusir rasa kantuknya Henrietta berjalan kearah dapur dan membuat coklat panas dan beberapa camilan, dia menyalakan televisi dan menonton film horor, karena itu akan mengurangi rasa kantuknya.


Hingga pukul sebelas malam belum ada tanda-tanda Henry akan pulang.


Henrietta memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan menunggu Henry disana, sebelum pergi Henrietta membereskan bekas makannya dan mematikan televisi.


Dia menaiki anak tangga dan berjalan menuju kamar Henry yang sudah dia tempati selama sebulan ini.


Henrietta membuka pintu dan menutupnya kembali, dia naik keatas ranjang menyelimuti dirinya, saat mata Henrietta mulai tertutup dia merasa ada yang membuka pintu.


Henrietta membuka matanya kembali dan melihat Henry sudah pulang.


"Kau sudah pulang?" tanya Henrietta dan mendudukkan dirinya.


"Mm ... kenapa kau belum tidur," ujar Henry sambil membuka jasnya.


"Aku menunggumu," ujar Henrietta.


Henry menautkan alisnya dan menatap Henrietta.


"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ujar Henrietta.


"Nanti saja Rietta, aku terlalu lelah," ucap Henry dan berjalan kearah kamar mandi.


Henrietta menghembuskan napasnya dengan kasar, selama sebulan ini tak ada pembicaraan di antara mereka, Henrietta sudah berusaha untuk mendekatkan dirinya pada Henry, tapi pria itu selalu menjaga jarak darinya.


Henrietta memutuskan untuk tidur dan akan berbicara pada Henry lain kali saja.


Saat Henrietta sudah terbawa kealam mimpinya, pintu kamar mandi terbuka, Henry keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Dia melihat Henrietta yang sudah tertidur dengan membelakanginya.


Lalu pria itu berjalan kearah walk-in closet dan mengambil kaos serta celana boxer-nya, setelah selesai Henry berjalan kearah ranjang dan merebahkan dirinya disana, dia membelakangi Henrietta dan mulai tertidur karna saking lelahnya.

__ADS_1


*


Seperti biasa pagi-pagi sekali Henrietta sudah bangun dari tidurnya, dia akan melakukan tugasnya seperti biasa memasak sarapan untuk Henry dan juga dirinya.


Henrietta melihat kearah Henry yang masih tertidur dengan nyenyak, dia menggeser tubuhnya dengan pelan agar tak membangunkan Henry.


Henrietta berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


15 menit kemudian Henrietta keluar dan berjalan kearah walk-in closet, semua pakaian Henrietta sudah di pindahkan kesana atas permintaan ibu mertuanya.


Setelah dirasa sudah selesai Henrietta segera keluar dari kamarnya dan berjalan kearah dapur, dan seperti biasa disana sudah ada bibi Ely dan juga Della.


Semakin hari Henrietta semakin dekat dengan para pelayan di mansion Henry.


"Selamat pagi," sapa Henrietta dengan penuh keceriaan.


"Selamat pagi juga nyonya," ujar bibi Ely dan Della serempak.


"Apa yang akan kita buat hari ini nyonya?" tanya Della.


"Kita buat sandwich saja," jawab Henrietta.


"Baik nyonya," ujar bibi Ely.


"Della?" panggil Henrietta.


"Iya nyonya," jawab Della dan melihat kearah Henrietta.


Della melihat Henrietta dengan wajah tidak percayanya.


"Nyonya kenapa anda lakukan itu, saya tak ingin merepotkan anda, saya akan bekerja dan mengumpulkan uang sendiri,"


"Aku melakukannya karna aku ingin, aku sudah menganggap-mu seperti adik-ku sendiri, jadi sekolah-lah yang rajin, agar kau tak perlu bekerja disini lagi dan bisa mencari pekerjaan yang lain, usiamu masih muda dan perjalananmu masih panjang," ujar Henrietta.


"Tapi nyonya---"


Saat Della akan melanjutkan perkataannya Henrietta langsung memotongnya.


"Jangan menolaknya Della, atau aku akan marah padamu," ucap Henrietta.


Bibi Ely yang melihat itu pun merasa terharu, nyonya-nya begitu baik pada semua pelayan disini, dia tak membedakan mereka dan menyamaratakan semuanya.


"Terimalah Della, kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali," ujar bibi Ely.


Della melihat Henrietta dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Boleh saya memeluk anda," ujar Della dengan nada suara yang bergetar.


"Tentu saja," Henrietta merentangkan kedua tangannya dan Della langsung memeluknya.

__ADS_1


"Terima kasih nyonya," ujar Della tersedu-sedu.


"Belajarlah yang giat, jangan mengecewakan aku," ucap Henrietta mengusap rambut Della.


Sudah dua minggu terakhir ini Henrietta disibukan dengan mendaftarkan kuliah Della, dan tentu saja Henrietta tidak sendirian, dia di bantu oleh Matthew kekasih Lucy.


"Sudah berhentilah menangis, atau kita tak akan selesai membuat sarapan," Henrietta terkekeh melihat wajah sembab Della.


"Kau adikku, jika ada sesuatu bilang padaku," ucap Henrietta dan mendapat anggukan dari Della.


Della menghapus air matanya dengan punggung tangannya dan mulai menetralkan perasaannya dan kembali bekerja.


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi tapi belum ada tanda-tanda Henry keluar dari kamar.


"Aku akan melihat Henry sebentar," ujar Henrietta.


Karna tidak biasanya Henry belum bangun, biasanya pria itu akan bangun jam enam pagi dan memulai olahraganya sebelum pergi bekerja.


Henrietta berjalan kearah kamar mereka dan membuka pintunya, dia melihat Henry yang masih tertidur sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Dia mendekatkan dirinya pada Henry. "Henry," panggil Henrietta.


Tapi tidak ada jawaban dari sang pemilik tubuh.


Henrietta menyibakkan selimut yang menutupi wajah Henry. "Kau tak bekerja?"


Tapi yang dia dapat hanya gumaman tak jelas dari Henry.


Henrietta menyentuh lengan Henry yang terasa hangat di tangannya, lalu beralih menyentuh kening Henry. "Oh God ... kau demam Henry," ujar Henrietta.


Henry kembali menutup wajahnya dengan selimut dan membelakangi Henrietta.


"Henry bangun," ujar Henrietta menarik tubuh besar Henry agar telentang.


"Kau mengangguk Rietta," ujar Henry dengan suara serak dan lemah.


"Kau demam, jangan menutup tubuhmu dengan selimut sebal ini," Henrietta membuka selimut Henry sebatas dada.


"Aku akan kedapur dulu, mengambil sarapanmu, kau harus minum obat," ujar Henrietta.


Henrietta berjalan keluar kamar dan kembali kedapur, dia akan membuatkan bubur untuk Henry.


"Nyonya, apa yang sedang anda lakukan?" tanya seorang pelayan yang menghampiri Henrietta.


"Aku sedang membuat bubur untuk Henry, dia demam," ujar Henrietta.


15 menit kemudian bubur yang dibuat Henrietta sudah jadi, dia membawanya kembali ke atas.


"Jangan lupa bawa air hangat untuk mengompres Henry, dan juga bawa teh jahe keatas," ujar Henrietta.

__ADS_1


"Baik nyonya," jawab pelayan tersebut.


__ADS_2