PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #33


__ADS_3

"Dimana nyonya?" tanya Henry pada salah satu pelayan, karna dia tidak melihat keberadaan istrinya di manapun.


"Nyonya ada di perpustakaan tuan," jawab pelayan itu dengan sopan.


Setelah selesai dengan urusan pekerjaannya Henry memutuskan untuk langsung pulang, sesuai dengan janjinya pada sang istri tadi pagi.


Tap, setelah sampai di rumah dia malah tidak menemukan keberadaan istrinya dimanapun.


Henry berjalan kearah perpustakaan yang berada tepat di samping ruang kerjanya.


Dia membuka pintu bercat hitam itu, dan matanya langsung tertuju pada sang istri yang sedang berbaring di atas karpet bulu sambil menghadap perapian.


Henry berjalan mendekat dan melihat Henrietta yang ternyata tertidur dengan buku yang ada si atas dadanya.


Henry menaruh buku itu di tempat semula dan kembali ke tempat Henrietta.


Dia menyelipkan tangannya di antara punggung dan lutut Henrietta guna menggendongnya.


Sadar jika ada yang menyentuhnya Henrietta langsung membuka matanya.


Henrietta menghela napas lega setelah tahu jika yang menggendongnya adalah suaminya.


"Kau sudah pulang?" gumam Henrietta dengan suara seraknya.


"Mm ... Kenapa kau tidur disini?" ujar Henry.


"Aku hanya sedang membaca buku, tapi suasananya membuat aku mengantuk," ucap Henrietta.


"Kalau begitu tidurlah lagi, aku akan membawamu ke kamar," ujar Henry.


Karna terlalu mengantuk akhirnya Henrietta memutuskan untuk tidur lagi di dalam gendongan Henry.


Henry membawa tubuh Henrietta keluar dari perpustakaan dan berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka berdua.


Henry menyuruh seorang pelayan yang melewati kamarnya untuk membukakan pintu kamarnya, karna dia kesulitan membuka pintu.


Henry langsung masuk kedalam setelah pintu di tutup kembali, dia menaruh Henrietta di atas ranjang dan menyelimutinya dengan pelan agar tidak membangunkan wanita itu.


Henry menyalakan penghangat di dalam kamarnya dan berjalan kearah jendela.


Siang ini salju kembali turun dan membuat halaman mansion Henry kembali di penuhi salju.


Henry menutup jendela rapat-rapat agar udara dingin dari luar tidak masuk kedalam.


Henry berjalan kearah walk in closet dan mengganti pakaiannya.


Setelah selesai dia kembali lagi kearah ranjang dan merebahkan dirinya di samping sang istri.


Henry membawa Henrietta kedalam pelukannya dan menutupi tubuh mereka dengan selimut.


Henry juga mengecup kening dan bibir istrinya sebelum mengikuti Henrietta kealam mimpinya.


***


***

__ADS_1


"Kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Henry pada Owen.


"Sudah tuan, semuanya sesuai dengan kemauan anda," jawab Owen.


"Bagus, aku tidak ingin ada hal yang terlewat walau sekecil apapun ... Aku ingin semuanya sempurna," pungkas Henry dengan wajah seriusnya.


"Satu lagi! Jangan lupa undang semua kolega bisnis kita jangan ada yang tertinggal," ujar Henry.


"Aku ingin pesta ulang tahun untuk Rietta menjadi hal yang paling berkesan untuknya, aku juga akan sekalian memperkenalkannya pada seluruh dunia jika dia adalah istriku," lanjutnya dengan mantap.


"Baik tuan saya mengerti," ujar Owen.


"Kalau begitu saya pamit undur diri, saya harus memberitahu pihak hotel untuk mempersiapkan semuanya," pamit Owen keluar dari ruangan Henry.


Setelah Owen pergi Henry berjalan kearah kaca besar yang berada tepat di belakang kursi kerjanya.


Henry melihat pemandangan kota New York yang tertutup salju dari lantai ruang kerjanya.


Henry terlihat menyunggingkan senyum tipisnya. "Tunggulah sebentar lagi," gumam Henry.


Dia berencana membuatkan pesta ulang tahun untuk Henrietta yang bertepatan dengan hari natal, Henry juga akan memberitahu semua orang bahkan seluruh dunia jika Henrietta adalah istrinya dan hanya miliknya.


Saat pandangan Henry sedang tertuju pada pemandangan kota New York, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan itu adalah panggilan dari sang ibu.


"Halo mom," sapa Henry.


"Mommy dengar dari Owen, kau akan membuat pesta ulang tahun untuk Rietta, kapan itu?" tanya Emma di sebrang telpon.


"Seminggu lagi," jawab Henry.


"Memang, itu juga hari ulang tahun Rietta," balas Henry.


"Kenapa tidak bilang pada mommy, biar mommy yang mengurus semua pestanya ... mommy tidak yakin dengan selera pesta yang kau buat, kau mungkin akan membuatnya serba hitam dan mencekam," cerocos Emma meremehkan putranya.


Henry memutar bola matanya jengah mendengar penuturan sang ibu yang meremehkan selera pestanya.


"Mom, kau meremehkan-ku?" tanya Henry tak habis pikir.


"Mm ... Mommy akan datang kesana sekarang juga dan menelpon Owen mengenai pestanya," ujar Emma dengan semangat.


"Tidak perlu mom, aku bisa sendiri," cegah Henry.


"Mommy ragu denganmu," ujar Emma jujur.


"Ohh ... come on mom, aku bisa sendiri, kalian kemarilah sehari sebelum pesta," ujar Henry dan langsung mematikan panggilannya agar sang ibu tidak protes dan banyak bicara lagi padanya.


Sementara itu di tempat yang berbeda Emma terus saja menggerutu karna panggilannya di matikan sepihak oleh anaknya.


Henry kembali lagi ke meja kerjanya dan mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.


Dia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda.


Dan saat Henry sedang fokus dengan pekerjaannya lagi-lagi ponselnya berbunyi.


"Ada apa?" tanya Henry pelan.

__ADS_1


"Kapan kau pulang? ini sudah hampir jam makan siang," ujar Henrietta.


"Sebentar lagi, aku masih ada pekerjaan," jawab Henry.


Akhir-akhir ini Henrietta sangat sering menelponnya jika dalam waktu bekerja.


"Cepatlah pulang, aku bosan disini," ujar Henrietta.


"Kau bisa mengobrol dengan Della," pungkas Henry.


"Dia baru saja pergi ke kampus," jawab Henrietta .


Henry dapat menebak jika sekarang wajah istrinya sedang dalam mode cemberut.


"Kalau begitu tunggulah sebentar lagi, aku akan pulang," ujar Henry.


"Kau mau aku bawakan sesuatu?" tanya Henry.


"Shepherd's pie," jawab Henrietta dengan cepat.


"Baiklah," ujar Henry.


Henrietta langsung memutuskan panggilannya setelah berbicara dengan Henry.


Tok ... Tok ...


"Masuk ..." teriak Henry.


Setelah mendapat izin dari sang pemilik ruangan barulah Owen membuka pintu.


"Ada apa?" tanya Henry yang sudah tahu jika yang masuk adalah asistennya.


"Barusan tuan Marco menghubungi saya karna ponsel anda sibuk," ujar Owen.


"Lalu?" seru Henry yang masih tetap fokus dengan dokumen yang ada di hadapannya.


"Beliau mengatakan kenapa anda menolak proposal kerjasama yang beliau ajukan," jelas Owen.


"Kau sudah tahu sendiri jawabannya Owen, tidak ada yang menguntungkan untukku di dalam proposal itu, dia hanya ingin memperkaya dirinya sendiri, dan apa aku rela mempertaruhkan pegawaiku nanti untuk proyek nya," pungkas Henry.


"Jika dia menelpon lagi, bilang alasannya apa ... kalau mau dia bekerja sama denganku, perbaiki dulu proposalnya," tegas Henry.


"Baik tuan," ujar Owen.


Owen kembali meninggalkan ruang kerja milik Henry.


Henry memutuskan untuk pulang dan melanjutkan semua pekerjaannya di rumah.


Henry berjalan kearah lobby dan masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya.


"Kita mampir sebentar ke restoran Inggris," ucap Henry.


"Baik tuan," ujar sang sopir dengan patuh.


Setelah mampir sebentar ke restoran Inggris dan mendapatkan pesanan istrinya akhirnya mobil pun kembali melaju membelah jalanan bersalju dengan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2