
"Apa maksudnya ini Rietta?" tanya Henry.
"Kau tidak dengar? anak-anakmu ingin bertemu denganmu," jawab Henrietta.
"Anakku? Kapan kau hamil anakku?" tanya Henry yang seketika menjadi idiot.
"Enam tahun yang lalu. Hari dimana kau menuduhku selingkuh dengan kak Matthew," ucap Henrietta.
"Hari dimana kau bilang bahwa aku adalah wanita menjijikan yang berselingkuh dengan suami dari sahabatku sendiri," kata Henrietta memperjelas perkataannya dan seketika Henry tersadar dari kebodohannya di masa lalu.
"Kenapa kau tidak menjelaskannya padaku waktu itu," ucap Henry.
"Untuk apa? Percuma juga aku mengatakan pada seseorang yang sedang di kuasai oleh amarah," jawab Henrietta.
"Kau menuduhku tanpa mencaritahu dulu kebenarannya," sindir Henrietta.
"Aku cemburu kau tahu? Aku cemburu pada saat itu, melihatmu berpelukan dengan pria lain selain aku," jujur Henry pada akhirnya.
Dia tidak akan menutupi lagi tentang perasaannya pada Henrietta, dia tak ingin kehilangan wanita itu untuk kedua kalinya.
Henrietta tampak terpaku di tempatnya saat mendengar pengakuan Henry bahwa dia cemburu.
"Kau tahu? Kau membuatku gila dengan kepergianmu," ucap Henry.
"Aku tidak ingin ada yang ditutup-tutupi lagi darimu," lanjutnya.
Henry bangun dari duduknya dan berlutut di depan Henrietta, pria itu memegang kedua tangan Henrietta dengan sorot pada yang menatap Henrietta penuh penyesalan.
"Aku akan menyingkirkan egoku hanya untukmu. Henrietta, maafkan aku, maafkan semua kesalahanku enam tahun yang lalu. Ayo ... Kita mulai lagi dari awal dengan keluarga yang lengkap," ujar Henry dengan tulus.
Sedari tadi mata Henrietta hanya menatap kearah mata Henry, mata yang dulu menatapnya dingin, sekarang mata itu menatapnya dengan penyesalan, keseriusan, dan ketulusan.
"Kau pikir aku mau kembali padamu? Setelah apa yang kau lakukan padaku dulu," ucap Henrietta.
"Aku tahu, kesalahanku terlalu banyak padamu. Tapi, tak bisakah kau memaafkan ku dan memulainya dari awal lagi?" ujar Henry dengan tatapan sayu nya.
Henrietta baru kali melihat wajah Henry yang sangat putus asa.
"Jika pun kita bersama, tidak akan mudah untukmu mendekatiku. Kau pikir kedua kakak sepupuku akan membiarkanmu? Lalu kau harus berhadapan dengan kakek dan juga pamanku," ujar Henrietta.
"Tak masalah, aku akan membuat mereka menerimaku," sahut Henry dengan semangat.
"Tak akan semudah itu Henry, lebih baik kau lupakan saja masalah ini. Dan untuk anak-anak kau masih bisa melihat mereka kapanpun kau mau," ucap Henrietta.
Henry terdiam sejenak dengan kepala yang tertunduk. Entah apa yang ada di pikiran pria itu Henrietta tidak dapat menebaknya.
"Bagaimana jika aku punya cara lain agar kau mau kembali padaku?" tanya Henry dengan tatapan yang dapat Henrietta mengerti apa maksudnya.
Henrietta menggeleng-gelengkan kepalanya dan menjauh sedikit dari Henry.
__ADS_1
"Kau tidak akan bisa memaksa-ku," ucap Henrietta.
Henry tampak menyunggingkan senyum miringnya. " Tentu saja aku bisa honey. Kau tahu? Aku sudah enam tahun menahan ini semua dan itu karna kau,"
"Kau sudah jauh-jauh datang kemari dan berdandan sangat cantik hanya untuk bertemu denganku," ujar Henry dengan percaya dirinya.
Henrietta berdecak mendengar perkataan yang sangat begitu percaya diri Henry.
"Kata siapa aku berdandan untukmu? Aku baru saja bertemu dengan temanku," elak Henrietta.
"Benarkah? Kenapa aku tidak percaya dengan perkataanmu itu," sinis Henry.
"Berhentilah bermain-main, aku mau pulang," ucap Henrietta yang mencoba untuk menyingkirkan Henry yang ada di hadapannya.
"Kau tidak akan bisa keluar dari sini sampai kita bertemu dengan anak-anak besok," pungkas Henry yang kini malah mengungkung tubuh Henrietta.
"Kenapa kau menjadi sangat menyebalkan sekarang," sungut Henrietta.
"Benarkah? Tapi, yang kulakukan ini sangat wajar bagi pasangan yang sudah menikah," ucap Henry memperlihatkan senyuman yang sangat menyebalkan di mata Henrietta.
"Tadi kau memohon-mohon padaku dan sekarang kau memaksaku?" tutur Henrietta.
"Karna kau terlalu lambat memberi jawaban dan di dalam kamus hidupku, aku tidak pernah penolakan dan kata TIDAK!" ujar Henry menekan kata di akhir kalimatnya.
"Kau sungguh-sungguh menyebalkan," pungkas Henrietta.
"I love you," ucap Henry akhirnya.
Henrietta menutup mulutnya sendiri dan merasa terkejut dengan apa yang baru saja di lontarkan oleh Henry.
"Aku mencintaimu," ulangnya.
"Ayo, kita perbaiki semuanya, aku janji-- Ah tidak, aku akan membuktikannya padamu bahwa aku benar-benar mencintaimu,"
"Kau tahu? Hari dimana ke salah pahaman itu belum terjadi, aku berencana untuk mengungkapkan perasaanku padamu dan memberitahu semua orang bahwa kau adalah istriku di hari ulang tahunmu," pungkas Henry.
"Sekali ini saja, beri aku kesempatan untuk membuktikannya," ucap Henry.
Henrietta tidak mengatakan apapun dan hanya bisa terdiam sambil mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut pria yang masih berstatus suaminya itu.
Karna tidak mendapatkan jawaban apapun, dengan inisiatif sendiri Henry mendekatkan tubuh dan wajahnya pada Henrietta.
Pria itu mengecup bibir Henrietta dengan lembut dan pelan. Sementara Henrietta hanya memejamkan matanya saja tanpa membalas ciuman Henry.
Henry menggigit kecil bibir bawah Henrietta, agar wanita itu membuka mulutnya.
"Maafkan aku," ucap Henry dengan pelan di sela-sela ciumannya.
Karna tidak mendapat jawaban dan juga balasan dari Henrietta, akhirnya Henry menghentikan aksi ciumannya.
__ADS_1
"Ayo! Aku antar kau pulang," ucap Henry yang sudah berdiri di hadapan Henrietta.
"Aku akan melihat anak-anak besok," lanjutnya dan berjalan kearah pintu.
Henrietta yang sudah tersadar pun, lantas segera berdiri dan melihat punggung tegap Henry yang berjalan menjauhinya.
'Tidak! Aku tidak mau kehilangannya, aku ingin dia terus menjadi suamiku. Ini bukan kesalahannya,' batin Henrietta.
Henrietta berjalan cepat, dia memeluk tubuh Henry dari belakang, pelukannya semakin erat saat Henry berhenti di depan pintu.
Tangan Henry yang sudah memegang handle pintu terlepas saat merasakan pelukan hangat di belakangnya.
"Maaf, maafkan aku. Ini semua bukan kesalahanmu," ujar Henrietta dengan isakan kecil di balik punggung Henry.
"Seharusnya aku dari awal tidak menyetujui pernikahan ini, seharusnya aku tidak terlibat denganmu, dan seharusnya aku tidak jatuh cinta padamu," isak Henrietta tertahan.
Tangan Henry terulur untuk menyentuh tangan Henrietta yang melingkar di perutnya.
Pria itu membalikkan tubuhnya dan kini dia dapat melihat wajah Henrietta yang menunduk.
Dia membawa tubuh itu kedalam pelukannya dan memeluknya dengan erat, mengurungnya dalam tubuh besarnya.
"Ini semua bukan salahmu. Andai, aku memperlakukanmu dengan baik dulu," ucap Henry.
"Aku menyesal sungguh! Kau meninggalkanku selama enam tahun dan itu adalah hukuman terberat untukku, kau bahkan membawa anak kita ikut denganmu,"
"Maaf karna aku tidak ada saat kau hamil dan melahirkan mereka, aku aka menebus semua kesalahanku padamu," ujarnya.
"Aku mencintaimu," aku Henrietta.
"Aku tahu, kau sudah mengatakannya tadi," sahut Henry.
Henrietta masih tidak melepaskan pelukannya dari tubuh Henry.
"Apakah tubuhku senyaman itu?" goda Henry.
"Mm ... Dulu saat aku hamil si kembar, aku sangat ingin memeluk tubuhmu. Tapi, karna kau tidak ada sebagai gantinya aku sering memeluk tubuh kak Aiden," jawab Henrietta dengan pelan di dada Henry.
"Kau memeluk tubuh pria lain saat hamil anakku?" tanya Henry tak habis pikir dan mendapat anggukan dari istrinya.
"Baiklah, sebagai gantinya aku akan kembali membuatmu hamil dan kau boleh memelukku setiap hari," ujar Henry dan langsung menggendong Henrietta.
Henry membawa Henrietta kedalam kamar miliknya dan merebahkan wanita itu di atas ranjangnya.
"Kau sudah membuatku berpuasa selama enam tahun dan sekarang kau harus membayarnya," ujar Henry diiringi dengan senyum miring yang tersungging di bibirnya.
Dan malam itu pun menjadi malam panas bagi keduanya, setiap ******* yang keluar menjadi bukti bagaimana dua manusia itu menuntaskan hasratnya.
Mau bagaimana pun Henrietta tidak dapat menolak pesona seorang Henry.
__ADS_1