
"Mom, apa daddy benar-benar tak ikut? Atau daddy menunggu di mansion grandpa?" tanya Maisie.
Henrietta melihat kearah mata anaknya yang sangat berharap.
"Kalian akan tahu nanti," jawab Henrietta sambil menyentuh pipi putrinya.
"Apa daddy sibuk? Bukankah mommy sudah janji akan membawa daddy pada kami," sahut Asher.
Baru kali ini Henrietta melihat sang putra yang juga sangat berharap, selama ini Asher tak pernah menginginkan sesuatu, anak kecil itu bahkan selalu mengalah pada adiknya.
Henrietta melihat kedua anaknya dengan senyuman yang terukir di wajah cantiknya.
"Sudah mommy bilang, kalian akan tahu nanti," kata Henrietta.
"Dan sekarang masuk ke mobil," ucapnya.
Henrietta mengarahkan kedua anaknya agar masuk kedalam mobil milik Henry yanga taka mereka ketahui.
"Mom, ini mobil siapa?" tanya Asher.
"Mobil mommy," jawab Henrietta asal.
Tintt ...
Tintt ...
"Aku duluan," kata Aiden yang melewati mereka.
"Ayo masuk," ucap Henrietta setelah membuka pintu belakang mobil.
Asher dan Maisie saling pandang sebelum akhirnya mereka masuk kedalam mobil.
Mereka duduk dengan tenang dan pandangan mereka terfokus pada seorang pria yang duduk di kursi kemudi.
"Mom, apa paman ini supir baru mommy?" tanya Maisie dengan polosnya setelah Henrietta masuk kedalam mobil.
Henrietta melirik pria yang ada di sebelahnya sambil menahan tawanya.
"Ya, dia supir baru mommy," jawab Henrietta.
Sementara itu, Asher hanya diam saja sambil memperhatikan punggung pria di depannya.
Henry melihat dari kaca mobil di hadapannya, dan pandangannya tertuju pada putranya yang begitu mirip dengannya.
"Apa saat hamil kau sangat merindukanku, hingga putra kita sangat mirip denganku?" bisik Henry pada Henrietta.
"Aku tidak tahu,"
"Aku ingin bertemu dengan daddy," kata Maisie dengan sendu.
Henrietta akan membuka mulutnya. Tapi sayang, dia kalah cepat oleh putranya.
"Kau sudah bertemu dengan daddy, Maisie," ucap Asher datar.
Henrietta memalingkan tubuhnya kebelakang dan melihat putranya.
"Apa yang kakak bicarakan? Kapan aku bertemu daddy?" ujar Maisie yang bingung.
"Paman supir itu ... Dia adalah daddy," sahut Asher sambil menunjuk kearah depan.
"Bagaimana dia tahu?" tanya Henry sambil berbisik.
"Aku memberikan fotomu pada Asher, karna dia memintanya," jawab Henrietta sambil menyunggingkan senyumnya.
Henry membalikan tubuhnya dan melihat kedua anaknya.
"Hai ..." sapa Henry yang masih terlihat canggung.
"Daddy, it's that you?" tanya Maisie dengan heboh dan juga bahagianya.
__ADS_1
Lantas, gadis kecil itu bangun dari duduknya dan pindah ke depan.
Maisie mendudukan dirinya di pangkuan sang ayah dan membuat Henry kaget karna pergerakan tiba-tiba dari putrinya.
"Ya ... Kau memang benar-benar daddy kami," ujar girang.
Gadis kecil itu bahkan meraba-raba wajah Henry dan sesekali melihat kearah saudaranya.
"Kau bahkan sangat mirip dengan Ash," katanya.
"Untungnya kau belum menyetir," ujar Henrietta melihat putrinya yang tidak bisa diam di pangkuan Henry.
Henry tersenyum lebar melihat betapa bahagianya anak perempuannya itu.
"Baby, bisakah kau kembali lagi ke tempat duduk mu? Karna daddy akan menyetir," ujar Henry dengan lembut.
"Baiklah dad," sahut Maisie.
"Tapi, apakah daddy benar-benar supir mommy?" tanya Maisie.
Henry terkekeh kecil melihat wajah lucu putrinya.
"Ya ...Daddy adalah supir mommy kalian," jawab Henry.
"Sekarang kembali ke tempatmu dan pakai sabuk pengamannya," ujar Henry.
Maisie bangun dari pangkuan Henry, dan Henry mambantu putrinya itu untuk kembali ke kuris belakang bersama saudaranya.
"Apakah dia selalu seperti itu?" tanya Henry pada Henrietta dengan pelan.
"Mm ... Ash sama seperti dirimu, benar-benar duplikat mu," sahut Henrietta.
"Jadi aku tak perlu melakukan tes DNA lagi," ujar Henry.
Henry mulai melajukan mobilnya dan meninggalkan taman kanak-kanak tempat anaknya bersekolah.
"Mom," panggil Maisie.
"Aku lapar, bisakah kita makan dulu," sahut Maisie dengan pelan.
Lantas Henrietta melihat kearah Henry yang sedang mengemudi.
"Baiklah, daddy akan mencari restoran di sekitar sini," kata Henry.
Setelah menemukan restoran, Henry langsung menepikan mobil dan memarkirkannya.
Henry dan Henrietta keluar bersamaan dari dalam mobil, Henrietta membuka pintu mobil untuk Asher, sedang Henry membuka pintu mobil Maisie.
Maisie merentangkan kedua tangannya, pertanda bahwa dia ingin di gendong.
Henry tersenyum melihat tingkah menggemaskan putrinya.
"Kau sangat berat," ujar Henry dengan candaan setelah menggendong Maisie.
"Mom, daddy menyebutku berat," adunya pada sang mommy.
"Ohh, lihat ... Gadis kecil ini cemberut," goda Henry sambil mengecupi pipi chubby anaknya.
"Ayo kita masuk," ujar Henrietta sembari menggandeng tangan Asher.
Keluarga kecil itu pun masuk ke dalam restoran dan memilih tempat duduk di dekat jendela.
Dari kejauhan terlihat seorang wanita menatap mereka dengan tajam, terutama pada Henrietta.
Tangannya yang memegang pisau bahkan sangat erat guna menyalurkan amarahnya.
Sementara itu, Henry dan keluarganya tampak bahagia sambil mendengarkan cerita Maisie selama acara sekolah mereka.
"Kalian tidak merepotkan paman kalian kan?" tanya Henrietta.
__ADS_1
"Tidak," jawab Asher dan Maisie berbarengan.
"Baguslah," sahut Henrietta.
"Aku tadi melihat Aiden mengantar seorang wanita. Apa wanita itu yang bernama Miss Bella?" tanya Henry.
"Iya dad, kami yang menyuruh uncle untuk mengantar Miss Bella. Bukankah Miss Bella cantik?" ujar Maisie pada sang ayah dengan wajah senangnya.
"Mm ... Miss Bella cantik," jawab Henry.
"Tapi, mommy kalian yang paling cantik," lanjutnya sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Henrietta.
"Kenapa daddy baru menemui kami sekarang?" tanya Asher yang sedari tadi hanya diam.
"Itu karna mommy kalian sedang mengukum daddy," jawab Henry.
"Apakah daddy nakal?" tanya Maisie.
"Daddy kalian sangat nakal," sahut Henrietta.
"Jadi, setelah besar nanti Asher tak boleh seperti daddy yang nakal," ujar Henrietta pada Asher.
"Iya mom ..." kata Asher patuh.
Hingga tak lama kemudian makanan yang di pesan mereka pun datang.
Sesekali Henry akan mengusap makanan yang menempel di mulut putrinya, Henry bahkan selalu tersenyum melihat cara makan Maisie yang sangat lahap dna bagaimana pipi chubby putrinya bergerak saat sedang mengunyah.
Lalu Henry mengalihkan pandangannya pada sang putra yang sangat tenang dalam menyantap makanannya.
Henry dan Henrietta saling pandang dan memberikan senyuman satu sama lain.
Dan keharmonisan keluarga itu tak luput dari pandangan wanita yang belum beranjak dari tempatnya.
"Setelah ini kita akan kemana?" tanya Henry pada Henrietta di sela-sela makannya.
"Kerumahku, kau harus bertemu dengan keluargaku," jawab Henrietta.
"Mom, boleh aku minta ice cream?" kata Maisie dengan mulut yang masih mengunyah.
"Habiskan dulu makananmu, baru Maisie bisa memesan lagi," sahut Henrietta dengan suara lembutnya.
Henry sudah menyelesaikan makannya dan sedari dari pandangannya tertuju pada Henrietta, bagaimana Henrietta makan, bagaimana Henrietta mengunyah dan bagaimana interaksi Henrietta dengan anak-anaknya.
Tak ada satupun yang terlewat oleh penglihatan Henry.
"Kenapa melihatku terus," ujar Henrietta yang merasa gugup.
"Aku suka melihatmu," pungkas Henry.
"Dulu kau tak pernah melihatku," sindir Henrietta.
"Oh, come on honey ... Berhentilah membahas masa lalu," ujar Henry.
"Dad," panggil Maisie.
"Ya baby?" sahut Henry.
"Aku sudah selesai, bolehkah aku meminta ice cream," ujar Maisie.
"Tentu saja," tutur Henry.
Henry kembali memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan putrinya.
"Apa Asher juga mau ice cream?" tanya Henry pada putranya.
"Tidak," jawab Asher.
"Ash tidak suka ice cream, dia juga tidak suka makanan yang manis," timpal Maisie.
__ADS_1
Tidak perlu waktu lama, akhirnya pesanan Maisie pun datang.
Mereka pun memutuskan untuk segera pulang, setelah Maisie menghabiskan ice creamnya.