PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #27


__ADS_3

Enam bulan sudah berlalu dan itu artinya usia pernikahan Henrietta dan Henry sudah berjalan selama tujuh bulan sejak mereka pertama kali menikah.


Semakin hari hubungan mereka semakin lebih dekat dan sudah tidak merasa canggung lagi.


Seperti pagi ini, Henrietta membantu memasangkan dasi Henry sebelum pria itu berangkat ke kantor.


Hal ini sudah Henrietta lakukan sejak lima bulan belakangan ini.


"Kau akan pulang jam berapa sekarang?" tanya Henrietta sambil mengikat dasi Henry.


"Hari ini aku cukup sibuk, mungkin aku akan terlambat untuk makan malam," jawab Henry sambil memeluk pinggang ramping istrinya.


"Bagaimana kalau kita bertemu di cafe dekat perusahaan," usul Henry sambil mencuri cium pipi Henrietta.


Sejak lima bulan itu juga Henry lebih sering membawa Henrietta keluar dan menunjukkannya pada semua orang.


Dia tidak terlalu memikirkan apa kata orang lain dan begitu juga dengan Henrietta.


Henrietta sekarang mulai lebih berani untuk sekedar berjalan-jalan dengan Henry, dia tidak akan mudah terpengaruh dengan omongan-omongan orang-orang yang ada di sekelilingnya.


Sudah enam bulan itu juga belum ada perkembangan apapun mengenai kondisi Julia, orang tuanya sudah hampir putus asa mengenai kondisi Julia.


Henry juga akhir-akhir ini sudah tidak lagi menjenguk Julia, dan itu menimbulkan kemarahan dari Dorothy dan Marco.


Sampai saat ini Marco pun masih setia mengawasi Henrietta.


Sedikit rencananya berubah dari yang di perkirakan karna hubungan kedua orang itu yang semakin dekat, sekarang Marco menganggap jika Henrietta adalah ancaman baginya dan begitupun dengan Dorothy yang menganggap jika Henrietta adalah ancaman bagi putrinya.


"Baiklah, aku akan menunggumu disana," Henrietta menyunggingkan senyum manisnya.


"Dan jangan terlambat," sambungnya.


"Done," ujar Henrietta setelah menyelesaikan kegiatannya mengikat dasi Henry.


Dia merapikan dasi dan juga kemeja milik Henry.


"Aku pergi, sampai ketemu saat makan siang,"


Sebelum pergi Henry menyempatkan dirinya untuk mengecup bibir istrinya.


Walaupun mereka belum melakukan hubungan suami istri, tapi Henry selalu sering menyentuh dan mencium Henrietta.


Henry akan melakukannya jika Henrietta sendiri yang memintanya, selama tinggal dalam satu kamar dengan Henrietta dia selalu menahan hasratnya pada sang istri.


Sementara Henrietta dia masih ragu untuk melakukan itu dengan Henry, dia selalu terbayang-bayang jika suatu hari nanti Julia bangun dari komanya dan dirinya hamil, lalu Henry memilih untuk kembali dengan Julia, lantas bagaimana dengan dirinya dan anaknya kelak.


"Kau tidak sarapan?" tanya Henrietta setelah Henry berada di ambang pintu.


"Aku ada meeting pagi ini, mungkin aku akan sarapan di kantor," sahut Henry.

__ADS_1


Henrietta hanya menganggukkan kepalanya dan melihat kepergian Henry yang berjalan keluar.


Setelah kepergian Henry, Henrietta juga berjala keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


Untuk pagi ini dia akan sarapan sendirian, biasanya Henry tidak pernah absen untuk sarapan bersamanya.


"Kau tidak kuliah Della?" tanya Henrietta yang melihat Della sedang menghidangkan sarapan untuknya.


"Saya mengambil kelas siang untuk hari ini nyonya," jawab Della.


"Leo sering membantumu? Bukankah dia sebentar lagi akan lulus?" tanya Henrietta.


"Tuan Leo membantu saya dengan baik, saya sudah cukup sering merepotkannya," pungkas Della.


"Kau sudah sarapan? Jika belum temani aku, aku tidak suka makan sendirian," ujar Henrietta.


"Saya sudah sarapan nyonya, jika mau saya akan menemani anda disini sampai sarapan anda selesai," ujar Della.


"Kalau begitu duduklah," titah Henrietta.


Della langsung mendudukan dirinya di samping Henrietta dan hanya menemaninya saja, karna dia sudah sarapan.


"Della bagaimana jika aku hamil?" tanya Henrietta yang seketika membuat Della terkejut.


"Apakah anda sedang--"


"Tidak, tidak ... Aku sedang tidak hamil, aku hanya bertanya saja, bagaimana jika nanti aku hamil," potong Henrietta.


"Tentu saja itu akan menjadi kabar bahagia untuk semua penghuni mansion ini, itu adalah sesuatu yang di tunggu-tunggu oleh nyonya dan tuan besar," kata Della.


Seketika raut wajah Henrietta berubah sendu.


'Jadi selama ini kedua mertuaku sangat menginginkannya?' batin Henrietta.


"Apakah Henry akan senang jika nanti aku hamil?" lirih Henrietta.


"Tentu saja nyonya. Tuan muda pasti akan sangat senang," timpal Della yang ingin membuat hati Henrietta senang.


Henrietta akan memikirkan masalah ini nanti.


Sebenarnya dia sudah tahu jika selama ini Henry selalu menahan hasratnya pada dirinya, Henrietta selalu menghentikan kegiatan mereka di tengah jalan karna belum siap, dan anehnya Henry tidak pernah marah padanya.


Selama beberapa bulan ini Henry bahkan selalu bersikap lembut padanya dan tidak pernah lagi memperlihatkan wajah dinginnya.


Sikap posesifnya mulai terlihat di mata Henrietta akhir-akhir ini.


Henrietta kembali melanjutkan sarapannya dengan pikiran yang berkecamuk.


Saat Henrietta akan menyuapkan lagi makanannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.

__ADS_1


"Ada apa Lucy?" tanya Henrietta setelah mengangkat panggilan dari sahabatnya.


"Kau tidak lupakan untuk menemaniku hari ini," kata Lucy di sebrang telepon.


"Tentu saja tidak, aku akan menemui-mu setelah makan siang dengan Henry," balas Henrietta.


"Jangan terlambat, aku benar-benar memerlukan bantuanmu," seloroh Lucy tak sabaran.


"Oke siap calon pengantin baru," ejek Henrietta dengan candaan di akhir kalimatnya.


"Kau menyebalkan," rengek Lucy dan Henrietta malah tertawa senang.


Karna tidak mau mendengar ejekan dari sahabatnya lagi, Lucy pun langsung mematikan panggilannya secara sepihak.


"Saya harap pernikahan nona Lucy berjalan dengan lancar nyonya," sahut Della tiba-tiba.


"Kau bisa datang kesana Della, bukankah Leo mengundangmu?" ujar Henrietta.


"I-iya nyonya," jawab Della.


"Kalau begitu kau bisa datang, kau bisa ikut bersamaku dan Henry, jika kau tidak mau Leo ku suruh untuk menjemputmu kemari," pungkas Henrietta.


"Ti-tidak nyonya, tidak perlu ... Saya tidak ingin merepotkan anda dan tuan muda, apalagi tuan Leo, saya sudah cukup sering menyusahkannya," tolak Della dengan cepat.


"Jadi kau tidak mau datang?" selidik Henrietta.


"Saya ..." Della tampak menggantungkan ucapannya dan berpikir sesuatu.


Karna terlalu lama, Henrietta memegang ponselnya dan mengirim pesan pada Leo.


(Jemput Della besok malam jam tujuh, jangan terlambat! Ini perintah)


"Aku sudah mengirim pesan pada Leo untuk menjemputmu disini jam tujuh malam," pungkas Henrietta.


Dengan terkejut Della langsung melihat kearah nyonya-nya.


"Nyonya kenapa anda lakukan itu?" Della meringis membayangkan jika Leo menjemputnya kemari.


"Kau terlalu lama berpikir," sungut Henrietta dan kembali melanjutkan sarapannya yang tertunda.


Henrietta terkekeh diam-diam melihat wajah frustasi Della.


"Kau tenang saja, aku akan memilihkan baju yang cantik untukmu, akan ku buat kau seperti seorang putri raja besok," kata Henrietta dengan semangat.


Dia sudah tidak sabar untuk mendandani Della besok.


"Aku juga akan membelikanmu pakaian siang ini untuk kau kenakan besok," kata Henrietta.


"Tidak perlu nyonya, saya akan membelinya sendiri," tolak Della, karna dia tidak enak pada Henrietta yang selalu memberikannya barang apapun.

__ADS_1


Sudah bisa di sekolahkan oleh Henrietta saja Della sudah sangat bersyukur, dia tidak ingin merepotkan istri dari majikannya lagi.


__ADS_2