PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #60


__ADS_3

Pagi harinya kedua anak Henrietta sudah bangun terlebih dahulu dari pada orang tua mereka.


Terlihat Maisie yang baru saja keluar dari kamarnya dengan mata yang masih mengantuk.


"Kau sudah bangun?" tanya Asher yang juga baru keluar dari kamarnya.


Namun bedanya Asher sudah terlihat rapi dengan pakaiannya.


"Kakak sudah bangun?" tanya Maisie.


"Pertanyaan apa itu? Tentu saja aku sudah bangun dan baru saja bertanya padamu," sahut Asher dengan nada ketusnya.


"Dimana kita?" tanya Maisie.


"Tentu saja di rumah daddy," jawab Asher.


Berbeda dengan kedua anaknya yang sudah bangun, Henrietta terlihat masih betah tertidur walau Henry sudah mengganggunya beberapa kali.


Henry mengecupi pipi Henrietta yang tertidur sambil menghadap kearahnya dan memeluknya.


"Bangunlah honey," ujar Henry.


Henrietta tampak menggeliat dari tidurnya dan malah mengeratkan pelukannya di tubuh Henry.


"Kau tak ingin bangun?" tanya Henry sambil mengecup bibir Henrietta.


"Aku masih mengantuk dan jangan menggangguku," gumam Henrietta dengan masih memejamkan matanya.


DUG ...


DUG ...


Terdengar ketukan pintu yang sangat keras dari luar kamarnya.


"Pasti itu anak-anak," ujar Henrietta dan membuka matanya.


"Apa mereka baru saja menendang pintunya?" tutur Henry karna suara itu terdengar sangat keras.


"Mungkin itu Maisie, kau harus cepat membukanya jika tak ingin anak gadismu itu menghancurkan pintu," sahut Henrietta.


"MOM ... DAD ..." teriak Maisie dari luar pintu kamar.


"See?" kata Henrietta kembali memejamkan matanya.


Henry beranjak dari ranjang dan mengambil kaosnya.

__ADS_1


"Wait, baby," teriak Henry dari dalam kamar.


"Kenapa berteriak?" tanya Henry setelah membuka pintu kamarnya.


"Dimana mommy?" tanya Maisie.


"Mommy masih tidur. Jadi, jangan berisik ... Oke?" sahut Henry dan mendapat anggukkan dari putrinya.


"Kau sudah mandi?" tanya Henry sambil mencium pipi putrinya.


"Sudah, bibi pelayan yang membantu Rae," jawab Maisie sambil menyunggingkan senyumannya.


"Dimana kakakmu?" tanya Henry karna dia hanya melihat keberadaan putrinya.


"Sedang sarapan bersama kakek dan nenek," jawab Maisie.


"Baiklah, sekarang temui mereka. Daddy akan membangunkan mommy dulu," ujar Henry.


Maisie menganggukkan kepalanya dan meninggalkan sang ayah.


Henry kembali masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya lagi.


Dia berjalan mendekat kearah ranjang dan membangunkan Henrietta.


"Honey, bangunlah. Daddy dan mommy sudah ada disini," kata Henry.


"Mereka disini?" tanya Henrietta.


"Iya, dan sekarang mereka sedang menemani anak-anak sarapan," jawab Henry.


Lantas Henrietta langsung beranjak dari ranjangnya dan berjalan cepat menuju kamar mandi.


Henry pun menyusul istrinya masuk kedalam kamar mandi.


"Kita mandi bersama dan itu akan semakin cepat," kata Henry memperlihatkan senyum smirk-nya.


"Aku tak percaya itu," sahut Henrietta memicingkan matanya.


"Mereka akan mengerti jika kita terlambat, santai saja honey," ujar Henry.


"Tapi ini pertama kalinya aku bertemu dengan mereka lagi setelah enam tahun," pungkas Henrietta.


Henry tak menanggapi perkataan sang istri dan malah mencium bibir Henrietta di bawah guyuran air shower.


"Mereka taka akan berpikiran buruk tentangmu, sekalipun kita keluar dari kamar siang hari," kata Henry di sela-sela ciumannya.

__ADS_1


Henry menekan tengkuk leher Henrietta memperdalam ciumannya.


Sedangkan Henrietta sudah pasrah dan mengalungkan tangannya di leher Henry.


Tangan Henry yang bebas menangkup benda bulat yang ada di hadapannya dan meremasnya hingga membuat Henrietta melenguh.


Tangan Henrietta meremas rambut Henry yang basah karna menahan hasratnya.


Sementara itu di ruang makan telihat empat orang yang berbeda usia sedang menunggu kehadiran dua orang yang malah asyik saling memuaskan.


"Kita makan duluan saja, mungkin mereka sedang sibuk," ujar Elijah.


"Tapi, Rae ingin menunggu daddy dan mommy," kata Maisie.


"Daddy dan mommy Rae mungkin sedang sibuk di dalam dan mungkin akan keluar nanti," sahut Emma dengan suara lembutnya.


"Bukankah makan dengan kakek dan nenek sama saja?" sahut Elijah.


"Baiklah," pungkas Maisie dan mulai memakan sarapan paginya.


"Aku tebak, pasti anak itu sedang menggempur istrinya," bisik Emma dengan pelan di telinga suaminya.


"Itu wajar, mereka sudah berpisah lama. Dan bersiap-siaplah sayang mungkin sebentar lagi kita akan mempunyai cucu lagi," sahut Elijah tersenyum penuh arti.


"Ya ... Kau benar,"


"Makan yang banyak agar kalian cepat besar," ujar Emma sambil menaruh makanan di piring kedua bocah kembar itu.


"Bukankah Asher terlalu mirip dengan Henry kecil?" ucap Elijah sambil memperhatikan bagaimana Asher makan.


"Ku harap setelah besar kelakuannya tak mirip Henry," sahut Emma berbisik.


Dan akhirnya setelah satu jam Henry dan Henrietta baru menyelesaikan percintaan panas mereka.


"Kau bilang hanya sebentar," gerutu Henrietta yang keluar dari kamar diikuti oleh Henry.


"Berhentilah menggerutu honey, kau juga menikmatinya tadi," sahut Henry yang tak ingin di salahkan.


"Tapi kau membuat mereka menunggu kita terlalu lama," ujar Henrietta.


Mereka berdua berjalan menuruni anak tangga dan tak melihat siapapun di ruang keluarga maupun ruang makan.


"Dimana anak-anak?" tanya Henry pada pelayan yang lewat.


"Di taman belakang, tuan," jawab pelayan itu dengan sopan.

__ADS_1


"Ayo kita sarapan dulu, dan setelah itu kita temui anak-anak," ajak Henry dan menggandeng tangan Henrietta menuju ruang makan.


__ADS_2