PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #61


__ADS_3

"Kalian sudah selesai?" tanya Elijah yang menyadari kedatangan anak dan menantunya.


Wajah Henrietta seketika memerah karna menyadari maksud dari pertanyaan ayah mertuanya.


"Hmm ... Kami baru saja selesai melepas rindu," timpal Henry menatap penuh arti pada sang ayah.


Elijah hanya bisa tertawa mendengar jawaban anaknya, sementara Henrietta menyenggol lengan Henry.


"Mom ..." kata Maisie dengan suara sedikit keras.


Gadis kecil itu berlari kecil menghampiri orang tuanya.


"Mom, kakek bilang kita akan segera punya adik, apakah benar?" tanya Maisie dengan raut wajah antusiasnya.


"Itu benar ... Jadi, tunggu saja sampai adik bayi lahir," sela Henry.


Henrietta seketika memandang tajam pada Henry dengan jawabannya yang blak-blakan itu.


"Rietta?" panggil Emma, lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Henrietta.


Henrietta juga menghampiri Emma dan memeluk wanita parah baya itu.


"Mommy sangat merindukanmu, kenapa kau pergi begitu lama?" ucap Emma dengan lirih.


"Maaf, karna baru bisa menemui kalian sekarang," sahut Henrietta.


Henrietta melepaskan pelukan mereka, dan melihat tubuh ibu mertuanya itu dari atas sampai bawah dengan pandangan khawatir.


"Apa mommy sehat?" tanya Henrietta.


"Aku sangat sehat. Tapi, anak nakal itu selalu membuatku pusing," keluh Emma dan menatap putranya.


Henry hanya mengedikan bahunya saja, dan tak terlalu menanggapi perkataan sang ibu.


"Kau bahkan menyembunyikan kedua cucuku, apa kau tak sayang pada mommy," ucap Emma.


"Maafkan aku mom. Semua ini karna keadaan, dan juga karna salahnya," tunjuk Henrietta pada Henry.

__ADS_1


"Ya ... Ya, semuanya memang karna kesalahanku," pasrah Henry.


"Ini memang karena mu. karna dirimu mommy harus kehilangan Rietta dan tak tahu tumbuh kembang kedua cucu mommy," sahut Emma yang juga menyalahkan putranya.


Elijah menepuk bahu putranya dan berbisik di telinganya.


"Bersabarlah, son," ujar Elijah.


"Ini semua memang salahmu," sambung Elijah memberikan senyumannya.


Henry hanya bisa memutar bola matanya jengah mendengar perkataan sang ayah yang juga ikut-ikutan untuk menyudutkannya.


"Duduklah," ucap Emma dengan lembut pada Henrietta.


"Boy, kau mau bermain dengan daddy?" tanya Henry pada putranya.


Asher melihat sang ayah dan menganggukkan kepalanya.


"Kenapa hanya Asher yang di ajak? Maisie juga mau bermain dengan daddy," ucap Maisie memanyunkan bibirnya.


"Daddy dan kakakmu akan bermain basket," sahut Henry.


"Tapi, Rae ingin main dengan daddy," sahut Maisie.


"Nanti saja, kakek punya hadiah untuk Maisie. Bagaimana kalau kita melihatnya," rayu Elijah agar bisa bermain bersama sang cucu.


"Baiklah," pungkas Maisie dengan mata berbinar setelah mendengar kata hadiah.


Elijah menggandeng tangan sang cucu dan membawanya ke mobil untuk mengambil hadiah.


Sedangkan Henry mengajak putranya untuk bermain basket.


Sejak tahu dia memiliki anak laki-laki dari Henrietta, Henry dengan segera menyuruh orang mansion untuk menambahkan lapangan basket di mansion barunya.


Dan dia juga membuatkan area bermain khusus untuk putri cantiknya, yang sangat suka dengan boneka dan barbie. Bahkan Henry juga membangun rumah barbie yang cukup besar.


Sementara Henrietta tampak duduk di sebelah Emma sambil melihat putranya yang sedang bermain dengan Henry.

__ADS_1


Emma menyentuh tangan Henrietta dan menatapnya dengan lembut.


"Mommy senang akhirnya kau kembali kemari," kata Emma.


"Henry juga sudah menceritakan semuanya jika kau adalah anak Ruth. Takdir ini begitu lucu bukan? Kau ada di depan mata kami, tapi kami tak bisa mengenalimu," ucap Emma.


Emma mengusap air matanya yang hampir keluar dan memandang sendu pada Henrietta.


Henrietta memberikan senyuman tulusnya dan mengusap tangan Emma yang menyentuh tangannya.


"Maaf, karna tidak memberitahu kalian dan merahasiakan semuanya," sahut Henrietta.


"Kau pasti punya alasan untuk tak memberitahukannya," sela Emma.


"Kita juga sudah tahu jika kau anak Marco. Aku tak menyangka pria itu akan menyembunyikan kalian dari kami," tutur Emma yang kini memperlihatkan wajah marahnya.


"Pria tua itu akan menerima balasannya karna sudah menyakiti kalian," tegas Emma.


Henrietta mengusap-usap tangan Emma guna memberikan ketenangan pada wanita paruh baya itu.


"Biar aku yang mengurus mereka, mom," timpal Henrietta.


"Mereka pasti sudah tahu jika kau kembali kemari. Mommy dengar dari daddy jika Julia juga kesana untuk menyusul Henry," kata Emma.


"Hmm ... Dan kami sempat bertemu di apartement Henry," sahut Henrietta.


"Wanita itu benar-benar tak beres, mereka pikir kami tidak tahu apa yang sudah mereka sembunyikan selama ini," kesal Emma.


"Aku menyesal dulu sempat menerima perjodohan Julia dan Henry. Walau pada akhirnya mereka bertemu tak sengaja, dan untungnya Henry tak terlalu mencintai wanita itu," ujar Emma.


"Sudahlah mom, tak baik marah-marah seperti itu," ujar Henrietta menenangkan.


"Kau membesarkan mereka dengan sangat baik," ucap Emma yang kini pandangannya juga berpusat pada Asher.


"Tapi dia lebih dingin dari pada Henry kecil," lanjutnya.


"Mungkin karna tak ada sosok ayah di sampingnya," ucap Henrietta menyesal.

__ADS_1


"Kau sudah menjadi ibu dan ayah yang hebat selama tak bersama Henry, kau membesarkan mereka dengan sangat baik," sahut Emma.


__ADS_2