
Setelah melihat kondisi Olivia, Henry dan Henrietta memutuskan untuk langsung pulang kerumah.
Selama di perjalanan tidak ada obrolan di antara mereka berdua, Henry dengan fokus menyetir sementara Henrietta fokus dengan ponselnya.
"Kau terlihat fokus dengan ponselmu, honey," kata Henry.
"Aku sedang berkirim pesan dengan aunty Imelda," sahut Henrietta.
"Dia bilang, wanita yang akan di jodohkan dengan kak Aiden ternyata adalah Miss Bella, guru anak-anak waktu di Spanyol," kata Henrietta tertawa kecil.
"Benarkah?" seru Henry.
"Hmm, aku tidak menyangka jika Miss Bella adalah keponakan dari suami nyonya Reid," kata Henrietta.
"Kurasa sebentar lagi kita akan mendapat undangan darinya," ucap Henrietta.
"Hmm, kau benar," sahut Henry.
*
*
*
Mobil yang di bawa Henry kini masuk kedalam pekarangan luas miliknya.
Sepasang suami istri itu keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam mansion besar itu sambil bergandengan tangan.
Terdengar suara tawa anak-anak dari arah beranda samping.
Mereka berdua pun berjalan mendekat kearah asal suara.
"Mom, dimana daddy?" tanya Henry pada sang ibu.
"Di ruang kerjamu," jawab Emma.
"Honey, aku akan menemui daddy dulu," kata Henry pada sang istri.
"Hmm," sahut Henrietta.
__ADS_1
Sebelum pergi Henry menyempatkan dirinya untuk mencium kening istri tercintanya.
"Mommy!!" teriak Maisie yang melihat sang ibu sudah pulang.
Henrietta tersenyum dan melambaikan tangannya pada putrinya yang sedang bermain bersama Alice.
"Hai Edith," sapa Henrietta.
"Kau sudah pulang? Kenapa cepat sekali?" tanya Emma.
"Hanya melihatnya saja dan bertanya pada dokter mengenai kondisinya," sahut Henrietta.
"Duduklah disini, Rietta," ucap Edith menepuk bangku yang ada di sampingnya.
Henrietta berjalan mendekati Edith dan mendudukan dirinya di kursi yang ada di samping Edith.
"Lalu bagaimana kondisinya?" tanya Emma.
"Masih sama tidak ada perubahan," sahut Henrietta.
"Henry menemukan sesuatu, dan katanya dia akan memberitahu kita nanti," kata Henrietta.
Henrietta tersenyum pada Edith.
"Terima kasih," ucap Henrietta.
"Dimana Asher, mom? Aku tidak melihatnya," kata Henrietta.
"Dia di kamarnya, sedari tadi dia mendekam di kamar dan belum keluar," jawab Emma.
"Benarkah?" tanya Henrietta dan di anggukki oleh ibu mertuanya.
Namun, tidak lama kemudian Asher muncul dari balik pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan beranda samping.
"Mom," panggil Asher pada sang ibu.
"Akhirnya dia keluar juga," seru Emma.
Asher menghampiri sang ibu dan berdiri hadapannya.
__ADS_1
Henrietta mengusap kedua pipi putranya dengan lembut.
"Nenek bilang kau seharian ini di kamar," kata Henrietta.
"Hmm, hanya membaca buku dan mengobrol dengan temanku," jawab Asher.
"Kau tidak ingin bermain dengan adikmu dan Alice?" tanya Henrietta.
"Tidak, mom," sahut Asher.
"Honey," panggil Henry pada sang istri dari ambang pintu.
"Ayo," ujar Henry dengan mata yang tertuju pada istri dan juga ibunya.
"Edith, aku titip anak-anakku pada," kata Henry.
"Iya, tuan Walter," sahut Edith.
"Kami tidak akan lama," ujar Henrietta.
Henrietta dan Emma pun mengikuti langkah Henry yang berjalan kearah ruang kerja milik pria itu.
"Kalian ingin bicara mengenai apa?" tanya Emma pada Henry yang sedang menutup pintu.
"Mengenai gadis itu," jawab Elijah.
"Duduklah, mom" kata Henry.
Emma mendudukan dirinya di samping Henrietta dan melihat kearah pria yang merupakan ayah dan anak.
"Jadi, ada apa?" tanya Henrietta.
"Anak buahku sudah menemukan orang tua gadis itu dan aku juga sudah menghubungi mereka. Mereka meminta untuk kita merahasiakan kondisinya dari orang luar, dan rencananya mereka akan membawa gadis itu ke Jepang untuk pengobatannya," kata Henry menjelaskan apa yang dia tahu.
"Kenapa harus di rahasiakan?" tanya Emma.
"Menurut informasi yang di dapat oleh anak buahku, dia kabur dari Jerman karna patah hati," jawab Henry.
"Patah hati?" ulang Henrietta dan mendapat anggukkan dari suaminya.
__ADS_1
"Ohh, kasihan sekali gadis itu," gumam Henrietta.