
Setelah menyelesaikan sarapan pagi bersama, Henrietta mengajak Edith untuk berbincang-bincang di ruang tamu. Sementara para pria pergi bekerja.
Elijah ikut sang putra ke perusahaannya untuk melihat kondisi perusahaan.
"Sayang, mommy pergi dulu," ujar Emma dari belakang Henrietta.
"Mommy mau kemana?" tanya Henrietta.
"Mommy ada janji dengan teman mommy," jawab Emma.
Emma mencium pipi kiri dan kanan menantunya sebelum pergi.
"Sering-seringlah kemari Edith, anggap saja rumah sendiri," ujar Emma dengan ramah pada Edith.
"Iya nyonya," sahut Edith.
"Hati-hati mom," ucap Henrietta.
"Hmm ... Bye," sahut Emma dan meninggalkan rumah itu.
Henrietta kembali ke tempat duduknya dan kembali mengobrol dengan Edith.
"Berapa usianya?" tanya Henrietta sambil memegang tangan kecil Crystal.
"Tiga bulan," jawab Edith tersenyum ramah.
"Sebenarnya hari ini aku akan mendaftar anak-anak di sekolah baru mereka," kata Henrietta.
"Benarkah itu? Aku juga berencana untuk mendaftarkan Alice di sekolah barunya dan kemungkinan kami akan menetap seterusnya disini," ujar Edith.
"Bagaimana kalau Alice di daftar di sekolah yang sama dengan Asher dan Maisie, mereka bisa menjadi teman," usul Henrietta.
"Ide yang bagus, aku akan menghubungi John kalau begitu, dan menyiapkan bekasnya," sahut Edith.
"Mom?" panggil Maisie.
"Iya sayang?" sahut Henrietta.
"Boleh aku menggendong baby Ital?" tanya Maisie dengan suara cadelnya dan sedikit susah mengucapkan kata Crystal.
"Baby Crystal masih kecil. Jadi, Maisie duduk saja disini dan memangkunya," ujar Henrietta sembari menepuk tempat kosong di sampingnya.
Dengan semangat gadis itu naik ke atas sofa.
Edith memindahkan Crystal ke pangkuan Maisie dengan pelan agar bayi mungil itu tidak terbangun.
Maisie melihatnya dengan mata berbinar.
"Dia sangat lucu, look mom! Bibirnya bergerak-gerak," Maisie tertawa kecil dan memberi tahu ibunya.
__ADS_1
"Mom?" panggil Maisie.
"Yes baby?" sahut Henrietta.
"Aku mau satu yang seperti ini," ucap Maisie dengan polosnya.
Dan hal itu membuat Edith tertawa geli. "Kau harus mengabulkannya, Rietta," ujar Edith.
"Kau tak bermain dengan Alice?" tanya Henrietta.
"Nanti saja, setelah aku puas melihat baby Ital," sahut Maisie.
"Tapi kasihan Alice, dia hanya bermain sendiri. Temani-lah Alice, Maisie bisa melihat Crystal lagi nanti," ujar Henrietta.
"Baiklah mom," patuh Maisie.
Henrietta mengambil Crystal yang ada di pangkuan Maisie dan menggendongnya.
Maisie beranjak dari duduknya dan menghampiri Alice yang sedang bermain sendirian.
"Apakah Asher selalu seperti itu?" tanya Edith.
Sejak tadi Edith memperhatikan Asher yang hanya diam sambil membaca bukunya.
"Ya, dia memang seperti itu. Duplikat ayahnya," sahut Henrietta.
"Sepertinya mereka akan semakin dekat nanti karna sering bertemu," ujar Henrietta.
"Iya, kau benar," sahut Edith.
Saat mereka sedang mengobrol Crystal terbangun dan menangis cukup nyaring.
Dan hal itu mengalihkan atensi Asher dari buku kearah bayi yang menangis itu.
"Sepertinya dia haus," ucap Henrietta dan menyerahkan Crystal pada ibunya.
"Jika kau ingin menyusuinya, pakai saja kamar tamu itu. Biar aku yang menjaga anak-anak," ujar Henrietta.
"Terima kasih,"
Edith beranjak dari tempatnya duduk dan masuk kedalam kamar tamu yang tidak jauh dari tempat mereka berada sekarang.
*
*
*
Julia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan memarkirkan dirinya di depan sebuah rumah.
__ADS_1
Julia keluar dari mobil dan pandangannya melihat tumpukan sampah, wajah jijik Julia terlihat jelas, wanita itu bahkan menutup hidungnya karna tak tahan dengan bau tak sedap yang ada di sekelilingnya.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Beberapa kali Julia mengetuk pintu itu, tapi tak kunjung ada yang membukanya.
Tok ...
Tok ...
Ketuknya dengan sedikit kasar dan keras.
"Kemana dia!" kesal Julia.
Wanita dengan pakaian mahal dan bermerek itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Sampai deringan terakhir pun panggilannya tak ada yang mengangkatnya.
"Sial ..." maki Julia.
Sekali lagi Julia menghubungi sang pemilik rumah sambil menggedor-gedor pintu itu.
"HEY NONA ..." teriak seorang wanita gemuk yang keluar dari rumah satunya lagi.
"Kenapa kau berisik sekali, kau sangat mengganggu," maki wanita itu.
"Aku mencari pemilik rumah ini," sahut Julia dengan wajah angkuhnya.
"Dia sudah pindah dan tidak tinggal disini lagi,"
"Jadi, pergilah!! Kau sangat mengganggu," maki wanita itu sekali lagi dan masuk kedalam rumahnya.
"Sial, dia sangat menyusahkan!" kesal Julia.
Julia kembali berjalan menuju mobilnya dan duduk di bangku kemudi.
Wanita itu kembali melajukan mobilnya sambil tetap menghubungi orang yang akan dia temui.
"Kau dimana? Kenapa kau sangat menyusahkan?" maki Julia pada orang di sebrang telepon, setelah panggilannya di angkat.
"Kirim alamatmu sekarang, aku membutuhkan bantuanmu," ujar Julia.
Julia mengakhiri panggilannya dan mendapat pesan dari orang yang baru saja di telponnya.
Wanita itu langsung melajukan mobilnya dengan cepat menuju alamat yang akan di tujunya
__ADS_1