PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #40


__ADS_3

6 Tahun kemudian.


Terlihat sepasang anak kembar menuruni anak tangga secara bersamaan dengan wajah senang.


"Mom ..." ujar seorang anak laki-laki saat melihat ibu mereka yang berada di ruang tamu.


Wanita cantik yang di panggil mom itupun menoleh dan tersenyum dengan sangat cantik melihat kedua anaknya.


"Jangan berlari," ujar wanita tersebut karna melihat anaknya yang berlari menuruni anak tangga.


"Mom, tolong ikatkan rambutku," ucap anak perempuan dengan suara cadelnya.


"Sini, biar mommy ikatkan," ujar wanita itu dan mengikat rambut anak perempuannya.


"Mom ... Dimana uncle Aiden?" tanya bocah laki-laki itu.


"Kau jangan mengganggu uncle-mu Asher, dia sedang sibuk," jawab wanita itu.


"Aku tidak akan mengganggunya mom," sahut anak itu.


sedangkan dari arah taman belakang muncul seorang wanita paruh baya dan menghampiri mereka bertiga. "Rietta kau belum pergi ke perusahaan?" tanya wanita paruh baya itu pada wanita yang ternyata adalah Henrietta.


"Belum aunty, aku menunggu kakak," jawab Henrietta.


"Apakah sudah selesai mom?" tanya gadis itu pada sang ibu.


"Sudah sayang," jawab Herietta.


Sedangkan dari arah tangga muncul seorang pria tampan yang menghampiri mereka.


"Kenapa kau lama sekali? Adikmu menunggumu dari tadi," ujar sang ibu pada putranya itu.


"Maafkan aku mom, tadi aku baru selesai menelpon asistenku," ucap pria itu sambil mengecup kedua pipi sang ibu.


Pria itu mengusap puncak kepala keponakan perempuannya.


"Uncle, kau merusak tatanan rambutku" kesal anak perempuan itu.


"Mom, rambutku berantakan," adu anak itu pada Henrietta.


"Sini ... Biar mommy benarkan," ujar Henrietta.


Henrietta membenarkan ikatan rambut putrinya yang berantakan karna ulah kakak sepupunya itu.


"Uncle kau akan mengantar kami ke sekolah hari ini kan?" ujar anak laki-laki yang bernama Asher itu.


"Kau sudah berjanji jadi jangan mengingkarinya, pria tidak boleh ingkar janji," lanjutnya karna sang paman lama menjawab perkataannya.


"Kau sudah janji jadi antara kan mereka," timpal sang ibu.


"Baiklah," pasrah Aiden.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan lebih dulu ke perusahaan," ujar Henrietta.


"Kau tidak ingin pergi bersama kami?" tanya Aiden.


"Tidak, aku harus menyiapkan materi untuk meeting kali ini," balas Henrietta.


"Makanya secepatnya cari sekretaris baru agar kau tidak terlalu sering menyusahkan adikmu," cibir sang ibu.


"Sulit untuk mencari yang cocok untukku," ujar Aiden.


"Kau terlalu pemilih makanya kau belum juga menikah sampai sekarang," tutur sang ibu.


"Apa hubungannya sekretaris dengan belum menikah," ujar Aiden memutar bola matanya jengah.


"Tentu saja ada, lihat adikmu sekarang? Bahkan dia sudah memiliki satu anak dan sekarang Lucy sedang hamil lagi," ucap sang ibu.


Aiden menghembuskan napasnya dengan berat, ibunya selalu memiliki jawaban untuk menyudutkannya.


Sementara Henrietta hanya bisa tersenyum sendiri melihat kakak sepupunya itu selalu mendapat ceramahan dari bibinya.


"Baiklah aku akan berangkat sekarang," ujar Henrietta yang melihat jam di ponselnya.


Henrietta melihat kedua anak kembarnya dan mengecup kedua pipi anak-anaknya.


"Jangan nakal, jangan menyusahkan paman kalian dan turuti semua perkataannya ... Mommy akan usahakan untuk menjemput kalian saat jam makan siang," ucap Henrietta pada kedua anaknya.


"Jangan terlalu sibuk bekerja Rietta, kau hanya menjadi sekretaris sementara Aiden sampai dia menemukan yang baru," ujar Imelda, bibi Henrietta sekaligus ibu Aiden.


"Dan kau! cepatlah cepatlah mencari sekretaris baru," ucap Imelda pada putranya penuh penekanan.


"Oke ... oke mom," ujar Aiden.


"Bye sayang, mommy pergi dulu," pamit Henrietta.


"Bye mom ..." sahut kedua anak Henrietta serempak.


Setelah berpamitan pada kedua anak dan bibinya Henrietta pun pergi meninggalkan mansion milik keluarganya menuju perusahaan.


Imelda tampak membisikan sesuatu pada kedua cucunya sedangkan Aiden hanya bisa melihatnya saja.


"Repotkanlah paman kalian," bisik Imelda pada cucu kembarnya.


"Ayo anak-anak kita berangkat atau paman akan terlambat ke kantor," timpal Aiden.


"Bye grandma," ucap si kembar secara bersamaan.


"Bye sayang," seru Imelda sambil mengecup pipi kedua cucunya.


"Bye mom!" ucap Aiden.


"Jangan terlalu ngebut bawa mobilnya," ujar Imelda pada Aiden.

__ADS_1


"IYA MOM!" teriak Aiden yang sudah berada di ambang pintu utama.


Aiden akan membawa mobilnya sendiri, dia membukakan pintu penumpang untuk kedua keponakannya.


"Kalian tidak sarapan?" tanya Aiden yang baru sadar jika kedua keponakannya belum sarapan.


"Tidak, lagi pula mommy sudah membuatkan bekal untuk kami," jawab Asher dan di angguki oleh saudara perempuannya.


"Iya, lagi pula Rae sudah janji dengan teman Rae untuk sarapan bersama di sekolah," timpal si cantik Maisie Rae, anak perempuan Henrietta sekaligus kembaran Asher.


Aiden segera mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju taman kanak-kanak, tempat si kembar bersekolah.


***


Sementara itu Henrietta juga mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju perusahaan milik keluarganya.


Di sepanjang perjalanan yang Henrietta lakukan hanya fokus melihat jalanan yang ada di depannya.


Selama enam tahun ini yang Henrietta lakukan hanya mengurus kedua anaknya, dia baru bekerja dengan Aiden delapan bulan yang lalu menggantikan sekretaris lama Aiden yang berhenti karna sudah menikah dan sedang hamil.


Selama enam tahun itu pula dia tidak pernah bisa melupakan Henry, sekuat apapun dia mencoba bayang-bayang Henry selalu muncul, apa lagi jika melihat wajah putra pertamanya yang seperti duplikat Henry.


Henrietta bahkan menghindari semua berita tentang Henry, baik itu dari televisi ataupun dari internet.


Dia menutup semua aksesnya dari jangkauan Henry dan juga ayahnya.


Terakhir yang Henrietta tahu adalah jika Julia sudah kembali ke perusahaan milik ayahnya, itupun dia tahu dari Lucy dan juga Matthew, kakak sepupunya sekaligus adik adik Aiden.


Bahkan ayahnya mencoba untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan milik Aiden, tapi kerjasama itu langsung di tolak mentah-mentah oleh Aiden.


Henrietta memarkirkan mobilnya di basement perusahaan, dia keluar dan berjalan menuju lift yang akan membawanya langsung ke lobby.


Selama delapan bulan dia bekerja di perusahaan milik keluarga tidak ada satupun orang yang tahu jika dia adalah cucu dari mantan perdana menteri dan juga sepupu dari pemilik perusahaan, kecuali beberapa petinggi dan asisten Aiden.


Bahkan beberapa pegawai Aiden menganggap jika dia bekerja di sana karna bantuan orang dalam, walau pada kenyataannya memang begitu.


Henrietta berjalan kearah lift khusus karyawan yang akan membawanya pada ruang kerjanya yang berada di satu lantai yang sama dengan ruang kerja milik Aiden.


Ting ...


Pintu lift terbuka Henrietta keluar dari sana dan berjalan menuju ruang kerjanya yang berada di depan ruang kerja milik Aiden.


"Selamat pagi nona Rietta," sapa seorang pria yang berpapasan dengan Henrietta.


"Selamat pagi juga Billy," sapa balik Henrietta sambil menyunggingkan senyumnya.


"Anda tidak datang bersama tuan?" tanya Billy, yang merupakan asisten Aiden.


"Tidak, dia pergi mengantar si kembar ke sekolahannya terlebih dahulu," jawab Henrietta.


Henrietta pamit pada Billy untuk masuk kedalam ruang kerjanya terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2