PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #41


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Aiden kini sudah memasuki area taman kanak-kanak tempat di mana kedua anak Henrietta bersekolah.


Mereka berdua keluar dari dalam mobil diikuti oleh paman mereka.


"Miss Bella!" panggil Maisie pada seorang perempuan yang baru saja keluar dari dalam taksi.


Wanita itu tampak tersenyum pada kedua bocah itu dan menghampiri mereka.


"Selamat pagi Miss?" sama mereka berdua dengan kompak dan sopan.


"Selamat pagi juga Asher, Maisie," sapa balik wanita itu dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.


Lalu tiba-tiba Maisie menarik tangan Aiden yang berdiri di belakangnya bersama Asher.


"Miss perkenalkan dia uncle kami," ujar Maisie memperkenalkan pamannya.


Sedangkan Asher hanya melihat apa yang akan di lakukan saudari perempuannya itu.


Wanita itu melihat kearah Aiden dan sedikit menundukkan kepalanya.


"Senang bisa bertemu dengan anda tuan. Saya Bella Parker guru dari si kembar," ujar Bella dengan sopan.


Aiden melihat Bella dan menganggukkan kepalanya.


"Mulai sekarang uncle yang akan mengantar kami ke sekolah setiap hari. Iya kan uncle?" Maisie melihat pamannya dengan wajah yang berbinar senang dan nada suara yang manis.


Aiden melihat keponakannya dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Ohh ... Tidak bisa gadis nakal, uncle terlalu sibuk untuk mengantar kalian berdua setiap hari," tolak Aiden.


Lantas Asher menyuruh pamannya untuk menunduk sedikit agar dia bisa berbisik pada pamannya itu.


"Turuti saja perkataan Maisie uncle. Atau kami akan meneror uncle setiap hari, kami juga akan bilang pada grandma dan grandpa kalau perlu pada kakek buyut jika uncle tidak mau mengantar kami lagi," bisik Asher.


"Heh bocah, kau mengancam pamanmu ini," ujar Aiden yang tidak habis pikir pada kedua bocah ajaib yang datang bersamanya ini.


Asher hanya mengedikan bahunya dan kini dia beralih pada ibu guru mereka.


Sedangkan Bella hanya bisa melihat mereka saja.


"Uncle, miss Bella sangat baik pada kami, beliau juga sering membelikan kita semua ice cream," ucap Maisie dengan senang.


"Miss Bella juga pandai memasak,"sambung Asher dan diangguki oleh saudari perempuannya.


'Ada apa dengan bocah-bocah ini,' pikir Aiden menatap aneh pada kedua keponakannya.


"Terima kasih karna sudah banyak memperhatikan dua bocah ini," ujar Aiden.


"Itu memang sudah tugas saya sebagai pengajar, tuan!" tutur Bella.

__ADS_1


"Miss Bella uncle kami ini--"


"Baiklah anak-anak uncle harus segera pergi ke kantor atau mommy kalian akan mengomel nanti," potong Aiden sebelum Maisie melanjutkan perkataanya.


"Saya titip kedua keponakan saya ini, biar ibu mereka yang menjemputnya nanti siang," ujar Aiden pada Bella.


"Baik tuan,"


"Bye anak-anak," ucap Aiden yang kini sudah masuk kedalam mobilnya.


"Ayo anak-anak," ujar Bella dan menggandeng tangan Asher dan Maisie membawa mereka masuk kedalam sekolah.


*****


Sementara itu di belahan bumi lain, tepatnya di negara yang berbeda.


Terlihat sesosok pria tampan baru saja keluar dari mobil Bugatti La Voiture Noire yang dia kendarai sendiri.


Pria itu berjalan dengan gagahnya memasuki sebuah gedung pencakar langit, tempat dimana dia meneruskan bisnis keluarganya.


Pesona yang dia pancarkan mampu menghipnotis setiap mata wanita yang memandangnya.


"Apakah ada meeting hari ini Owen?" tanya pria itu pada asisten kepercayaannya.


"Untuk hari ini tidak ada tuan. Tapi, tuan besar baru saja mengirim email pada saya," ucap pria yang kini sudah memasuki lift mengikuti sang atasan.


"Apa itu?"


Ting ...


Pintu lift terbuka kedua pria itupun berjalan memasuki sebuah ruangan pintu besar berwarna coklat kayu.


"Sejak sedang apa kau disini?" tanya pria itu sambil berjalan kearah meja kerjanya.


"Menunggumu," jawab pria lainnya yang sedang duduk di kursi sofa.


"Kalau begitu tunggulah sebentar," ujar pria yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


Lalu ponsel pria itupun berbunyi tanda ada panggilan yang masuk.


"Halo dad,"


"Kau sudah melihat email yang aku berikan pada Owen?" tanya seorang pria di sebrang telpon.


"Iya, aku sedang melihatnya sekarang," jawab pria itu sambil menggeser berkas yang ada di dalam iPad.


"Maka pergilah ke Spanyol, daddy tak bisa datang kesana karna mommy-mu mengajak berlibur. Kau sedang tidak sibuk kan?" tanya-nya.


Lantas pria itupun bertanya pada sang asisten tentang jadwalnya.

__ADS_1


"Apakah aku sibuk seminggu ini?"


"Tidak terlalu tuan," jawab Owen.


"Aku hanya bisa seminggu berada di sana dad," ujar pria itu yang kini beralih pada panggilannya,


"Tak masalah, seminggu juga cukup," sahut sang ayah yang berada di sebrang telpon.


Setelah berbicara dengan ayahnya pria itupun mengakhiri panggilannya.


"Siapkan keberangkatan-ku Spanyol Owen," ujar pria itu.


"Baik tuan," balas Owen.


Karna tidak ada yang ingin di bicarakan lagi Owen pun pamit undur diri dan meninggalkan kedua pria itu.


"Ada apa?" tanya-nya to the point pada pria yang masih duduk di atas sofa.


"Aku menemukannya," ujar pria itu dengan wajah tenangnya.


"Sudah enam tahun, dan kau baru menemukannya sekarang?" ucap pria itu menatap tajam pada sahabatnya.


"Kau pikir mudah mencarinya Henry? Dia terlalu sulit untuk di temukan, entah siapa yang membantunya untuk bersembunyi. Dan, mungkin saja jika memang dia tak ingin bertemu lagi denganmu," ujar pria itu yang masih memperlihatkan wajah tenangnya namun terkesan menyebalkan bagi Henry.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya pria yang tidak lain tidak bukan adalah Henry.


"Spanyol. Bukankah kau akan kesana? Maka temuilah dia," ujar Sam, sahabat Henry.


Lantas Sam berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Henry, dia menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat dan menaruhnya di depan Henry.


"Salah satu anak buahku tidak sengaja bertemu dengannya di Spanyol seminggu yang lalu," ucap Sam.


"Aku hanya bisa mengatakan itu, semua yang ingin kau tahu ada di dalam amplop itu," ujarnya.


Setelah mengatakan itu Sam pun pergi meninggalkan Henry sendiri yang masih fokus pada amplop coklat di depannya.


Setelah Sam pergi, Henry mengunci pintu ruangannya dengan menekan tombol yang ada di bawah meja kerjanya.


Dia membuka amplop itu dan mendapati sebuah foto seorang wanita yang sudah lama ia cari.


"Kau terlalu lama bersembunyi," gumamnya dengan lirih.


Selama enam tahun ini, dia hidup dalam sebuah penyesalan pada istrinya.


Setiap kali dia akan tidur dan menutup matanya wajah cantik istrinya selalu muncul dalam bayang-bayangnya.


Banyak perubahan yang Henry alami setelah kepergian sang istri dari mansion.


Henry bahkan menjadi pria yang semakin dingin dan pemarah.

__ADS_1


Selama lima tahun terakhir ini Julia juga masih mengejar-ngejar Henry, walaupun Henry sudah mengakhiri hubungan mereka setahun setelah Julia sembuh total.


__ADS_2