
Henry langsung meninggalkan taman tempat dirinya bertemu dengan Henrietta.
Dia memasuki mobilnya yang terparkir tak jauh dari area taman, dan melajukannya menuju perusahaan milik keluarga Rodriguez yang sekarang di pegang oleh Aiden.
Untuk beberapa saat Henry tampak menghembuskan napasnya dengan kasar dengan pandangan sayu lurus kedepan.
Henry melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota Madrid guna melampiaskan kekesalan pada dirinya sendiri.
Beberapa kali Henry bahkan memukul setir kemudi karna merasa kesal dengan dirinya.
"Andai, dulu aku memperlakukannya dengan baik," monolog Henry pada dirinya.
"Ini semua gara-gara wanita tua itu" kesalnya.
Hingga tidak sampai sepuluh menit Henry sudah sampa di depan gedung pencakar langit itu.
Henry memarkirkan mobilnya di basement perusahaan Aiden, dia keluar dan berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lobby perusahaan.
Dengan tampang datar dan sorot mata tajam Henry bejalan memasuki lobby dan ternyata dia sudah di tunggu oleh asisten Aiden.
"Mari tuan! Tuan Aiden sudah menunggu anda di ruangannya," ucap asisten Aiden.
Henry pun mengikuti asisten Aiden dan berjalan di belakang pria itu.
Pria itu menekan nomer 27 dimana ruang kerja Aiden berada.
Ting ...
Pintu lift terbuka dan Henry lagi-lagi mengikuti asisten Aiden, hingga mereka sampai di depan pintu besar bercat putih.
Pria itu membukakan pintu untuk Henry dan mempersilahkannya masuk.
Dari ambang pintu Henry dapat melihat Aiden yang sedang fokus pada laptopnya.
Aiden baru tersadar saat mendengar seseorang menutup pintu ruang kerjanya.
"Selamat siang tuan Henry," Aiden berdiri untuk menyambut Henry.
Dia mengulurkan tangannya, dan Henry pun menjabat tangan Aiden.
"Sudah lama kita tak bertemu, terakhir kali kita bertemu enam tahun yang lalu bukan? Saat pernikahan adikku," ucap Aiden yang sengaja membahas masa lalu.
"Oh ya ... Apa anda kemari dengan istri cantik anda itu?" tanya Aiden sambil menelisik setiap gerakan Henry.
"Tidak!" jawab Henry.
"Ahh ... Sayang sekali padahal saya ingin bertemu dengannya," ujar Aiden menyunggingkan senyum miringnya.
Henry tahu jika Aiden hanya ingin memancingnya saja. Maka dari itu dia hanya diam saja dan akan menjawab sekenanya.
"Bisakah kita langsung saja pada pekerjaan," ujar Henry yang mulai jengah dengan setiap perkataan Aiden.
"Baiklah," ucap Aiden yang mulai bersikap lebih profesional.
"Silahkan duduk," ujar Aiden pada Henry.
__ADS_1
Aiden pun mendudukan dirinya di kursi kebesarannya yang berhadapan langsung dengan Henry.
Henry mengeluarkan berkas-berkas yang sebelumnya sudah di berikan oleh asisten sang ayah pada dirinya.
Proses pembicaraan itu berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan apapun, dan Aiden juga tidak mempersulit Henry.
Mereka sama-sama bekerja dengan sikap profesional tanpa memandang masalah pribadi yang sebenarnya di simpan oleh Aiden.
"Semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar," ucap Aiden menjabat tangan Henry.
"Ya, semoga ..." balas Henry.
"Semoga hari anda menyenangkan selama berada di Spanyol dan semoga anda mendapat keberuntungan selama disini," ujar Aiden yang penuh akan makna di setiap perkataannya.
"Terima kasih," sahut Henry dan keluar dari ruang kerja Aiden.
Henry kembali melangkahkan kakinya menyusuri setiap lorong perusahaan milik Aiden.
Hingga tiba basement Henry langsung memasuki mobilnya dan mengendarainya menuju apartemen miliknya.
Karna tidak ada apapun yang ingin dia lakukan lagi, selain bertemu dengan Henrietta.
****
Sementara itu Henrietta langsung masuk ke kamarnya setelah berbicara dengan sang kakek.
Pikirannya berkecamuk karna pertemuannya dengan Henry.
Ponsel Henrietta berbunyi dan itu adalah pesan dari seseorang yang sebelumnya dia kirimi pesan. Setelah membacanya Henrietta kembali menaruh ponselnya dan pandangannya terfokus pada pepohonan yang terlihat di balkon kamarnya.
Tok ... Tok ...
Dia berjalan kearah pintu kamarnya dan membuka pintu itu.
"Ada apa sayang?" tanya Henrietta pada anak gadisnya.
"Apa mommy marah pada Rae?" tanya Maisie.
Henrietta berjongkok guna menyamakan tingginya dengan sang putra, dia juga mengusap pipi chubby putrinya yang memerah.
"Tidak! Mommy tidak marah pada Maisie, mana mungkin mommy marah pada putri cantik mommy ini," ucap Henrietta sambil menyunggingkan senyumannya.
Maisie memeluk Henrietta sambil menumpukan dagunya di bahu sang ibu.
"Rae tidak apa-apa jika tidak bertemu dengan daddy, asal mommy jangan marah pada Rae," ucap Maisie dengan suara khas anak-anak seusianya.
Henrietta membelai rambut panjang putrinya dan mengecupi pipi putrinya.
Sebenarnya Henrietta tahu jika anak-anaknya begitu ingin bertemu dengan ayah mereka.
"Apa Maisie begitu ingin bertemu dengan daddy?" tanya Henrietta.
"Tidak," bohong Maisie.
"Jika Maisie dan kakak menjadi anak baik dan tidak menyusahkan paman kalian selama di perkemahan. Maka, saat pulang nanti kalian bisa melihat daddy," putus Henrietta pada akhirnya.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Maisie dengan bola mata yang tampak berbinar senang.
"Mm ... Mommy janji akan membawa daddy kalian kemari saat kalian pulang nanti.Tapi ingat, jangan menyusahkan paman kalian,"
"Kalian bisa menyusahkan dan merepotkan daddy kalian nanti," lanjutnya sambil tersenyum.
Henrietta sudah memantapkan dirinya untuk mempertemukan Henry dan kedua anaknya.
Setelah melihat wajah putrinya Henrietta sudah bertekad akan menemui Henry dan mengatakan semuanya, dia tidak ingin jika kedua anaknya tumbuh tanpa seorang ayah.
Seperti dirinya yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah yang seharunya menjaga dan melindunginya.
Henrietta berdiri sambil membawa Maisie dalam gendongannya.
"Bagaimana kalau sekarang kita membereskan barang-barang yang akan kalian bawa besok," ucap Henrietta.
"Kalau begitu ayo mom," ujar Maisie dengan wajah cerianya.
Mereka tertawa-tawa sambil berjalan memasuki kamar milik Maisie.
"Dimana Asher?" tanya Henrietta.
"Ash sedang bersama kakek buyut," jawab Maisie.
"Kalau begitu panggil kakakmu, mommy akan membereskan barang bawaanmu," ucap Henrietta.
"Baik mom," sahut Maisie.
Maisie keluar dari kamarnya untuk memanggil saudaranya yangs sedang berada di taman belakang bersama Jared.
Sedangkan Henrietta sedang memilih pakaian yang akan di bawa oleh putrinya besok.
Tak banyak pakaian yang di masukan Henrietta kedalam tas milik Maisie. Karna, kedua anaknya hanya akan menginap satu malam saja.
Sementara itu di taman belakang Maisie terlihat menghampiri kakak dan juga kakeknya.
"KAKAK ..." teriak Maisie.
"Jangan berteriak Maisie," ucap Asher yang sedang bermain basket dengan sang kakek.
Maisie tidak memperdulikan perkataan Asher, dan malah menghampiri sang kakek.
"Kakek buyut, apa kau tidak akan sakit selalu menemani Asher bermain basket?" ujar Maisie yang kasihan melihat kakeknya.
"Tidak! karna kakek masih kuat untuk bermain dengan kakakmu," ujar Jared.
"Kakak! lain kali jangan mengajak kakek lagi. Karna, nanti kakak bisa bermain dengan daddy saja," ucap Maisie dengan wajah polosnya.
"Apa maksudmu sayang?" tanya Jared.
"Mommy bilang, setelah kita kembali dari acara sekolah mommy akan membawa daddy kemari," ucap Maisie dengan wajah senangnya sambil loncat-loncat.
"Kau serius?" tanya Asher.
"Tentu saja, kalau tidak percaya tanya saja mommy," jawab Maisie.
__ADS_1
"Tapi, kita harus jadi anak baik dan tidak boleh merepotkan uncle selama disana," lanjutnya.
Sementara Jared melihat wajah senang dari cicit perempuannya itu, Jared juga tahu sebenarnya Asher juga merasa senang. Tapi, anak itu terlalu gengsi untuk mengungkapkannya.