PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #48


__ADS_3

Henrietta mengendarai mobilnya memasuki area taman kanak-kanak tempat anaknya bersekolah.


Henrietta menunggu di dalam mobil dan keluar setelah melihat anaknya keluar dari dalam sekolah.


Henrietta melambaikan tangannya pada kedua anak kembarnya.


"Oh, dia sangat populer ternyata," ujar Henrietta yang melihat Asher di ikuti oleh beberapa gadis kecil seusianya, mereka juga terlihat memberikan sesuatu pada anak laki-lakinya.


"Gen yang sangat mendominasi," gumam Henrietta menatap putranya yang begitu mirip dengan Henry.


"MOM!" teriak Maisie yang berlari kearah sang ibu.


"Jangan berlari nanti jatuh," teriak Henrietta dengan suara yang lumayan keras.


Dan benar saja baru saja di peringati Maisie hampir terjatuh karna tersandung, dan untungnya hal itu tidak sempat terjadi karna ada yang membantunya, hingga dia tak sampai jatuh tersungkur ke tanah.


Maisie mengelus dadanya karna merasa terkejut, dia melihat seseorang yang menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.


"Terima kasih," ucap Maisie dengan dengan mata bulan yang menatap seseorang yang membantunya.


"Mm ..." jawab seorang bocah laki-laki seusia-nya.


Anak laki-laki itu pun langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun pada Maisie.


"Dasar ceroboh," gumamnya sambil berjalan menjauhi Maisie.


"Apakah itu menjadi kebiasaanmu Maisie? Jangan pernah berlari lari, nanti kau akan tersandung lagi," ujar Asher yang sudah ada di dekat Maisie sambil membawa beberapa coklat yang ada di tangannya.


"Ini untukmu," ucap Asher memberikan coklat itu pada adiknya.


"Dari fans-mu lagi kak? Kalau setiap hari seperti ini aku bisa kenyang karna coklat," ujarnya.


Mereka berdua berjalan menghampiri Henrietta yang sedang berdiri di samping mobilnya.


"Sudah mommy peringati jangan berlari," kata Henrietta pada Maisie setelah mereka sudah ada di hadapannya.


"Sorry mom," ucap Maisie menundukkan kepalanya.


Henrietta mengelus kepala putrinya. "Jangan di ulangi lagi. Oke?" tutur Henrietta dengan suara lembutnya.


"Iya mom," jawab Maisie sambil melihat kearah Henrietta.


Henrietta melihat kearah tangan putrinya yang membawa beberapa coklat.


"Coklat lagi?" ujar Henrietta.


"Ini dari fans-fans kakak," sahut Maisie.

__ADS_1


Maisie melihat putra tampannya dan sekarang dia tahu dari mana datangnya coklat-coklat yang Maisie bawa pulang.


Henrietta pikir Maisie memang sengaja membelinya, karna tidak setiap hari mereka membawa coklat. Tapi, ternyata itu ulah putranya.


"Jangan terlalu banyak memakan coklat, gigimu bisa berlubang nanti," tutur Henrietta pada putrinya.


"Oke mom,"


"Sekarang masuk ke mobil," pungkas Henrietta sambil membukakan pintu penumpang untuk kedua anak kembarnya.


"Kalian jadi pergi besok?" tanya Henrietta setelah melajukan mobilnya.


"Tentu saja mom, uncle bahkan sudah bilang sendiri pada miss Bella," ujar Maisie.


"Ash?" panggil Henrietta pada putranya yang sedari tadi hanya diam saja.


Asher memang tipe anak yang pendiam dan tidak terlalu banyak bicara, dia hanya akan bicara seperlunya saja dan banyak menghabiskan waktunya di kamar.


"Iya mom," sahut Asher.


"Ada apa?" tanya Henrietta.


"Apa terjadi sesuatu di sekolah?" lanjutnya.


Maisie melihat kearah saudaranya yang duduk di samping dirinya.


"Tidak ada," jawan Asher.


Asher melihat kearah saudarinya yang membahas tentang daddy-nya.


Henrietta menepikan mobilnya dan memberhentikan mobilnya di pinggir jalan setelah mendengar perkataan putrinya.


Henrietta tidak pernah tahu soal ini. Karna, anak-anaknya selalu bersikap seperti biasa saja dan tidak mengatakan apapun. Karna, semenjak dirinya bekerja dia memang menjemput kedua anaknya sekolah.


"Apakah ini sering terjadi?" tanya-nya pada Maisie dan di angguki oleh gadis kecil itu.


"Kenapa tidak bilang pada mommy?" ujar Henrietta.


"Karna mommy selalu menangis jika membahas Daddy," ujar Asher yang kini membuka suaranya.


Selama ini Asher selalu mendapati sang ibu menangis diam-diam setelah membahas tentang ayah mereka dengan sang kakek.


Henrietta melihat kearah kedua anaknya secara bergantian.


Maisie menundukkan kepalanya dan saling menautkan jari-jemarinya.


"Kami dengar daddy ada di Spanyol," tutur Maisie dengan pelan.

__ADS_1


"Kalian dengar dari mana?" tanya Henrietta dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Tapi, dia menahannya sekuat mungkin agar tidak menangis di depan kedua anaknya.


"Saat mommy berbicara dengan kakek kemarin," jawabnya.


"Kami ingin bertemu dengan daddy," lanjutnya dengan pelan.


Henrietta mengalihkan pandangannya pada Asher yang kembali terdiam sambil melihat kearah luar kaca mobil.


Henrietta tahu di balik keterdiaman putranya, dia juga pasti ingin bertemu dengan ayahnya.


Tanpa mengatakan apapun Henrietta kembali melajukan mobilnya, sesekali dia akan menyeka air mata yang keluar dari tempatnya tanpa sepengetahuan kedua anaknya.


Tapi tidak bagi Asher, dia tahu jika sang ibu sedang menangis, dan dia tidak suka jika ibunya menangis.


Mobil yang di kendarai Henrietta memasuki mansion mewah dan memarkirkan mobilnya di depan pintu utama mansion.


Sebelum turun Henrietta memastikan bahwa air matanya suda tidak keluar.


Henrietta membukakan pintu mobil untuk kedua anaknya.


"Ganti baju kalian, setelah itu kita makan siang,", tutur Henrietta dengan senyuman dan suara lembutnya.


"Iya mom," tutur keduanya.


Asher menghentikan langkahnya saat sudah ada di depan pintu utama, dia berbalik dan menghampiri Henrietta.


"Maaf soal yang tadi mom. Kami tak apa jika tidak bertemu dengan daddy, asal mommy jangan menangis," ujar Asher dengan bijak di usianya yang baru lima tahun.


Henrietta membalas pelukan putranya dan tidak bisa menahan air matanya lagi saat mendengar penuturan putranya.


"Maafkan mommy sayang," hanya itu yang bisa Henrietta ucapkan.


"Sekarang masuklah, dan ganti bajumu," ujar Henrietta setelah menyeka air matanya.


Asher mengusap bekas air mata yanga ada di pipi sang ibu dan mencium pipinya sebelum pergi meninggalkan Henrietta.


"Mereka sudah tahu tentang ayah mereka?" tebak Jared yang tiba-tiba muncul.


"Grandpa dari mana?" tanya Henrietta.


"Hanya habis jalan-jalan di sekitar mansion," jawab Jared.


"Kau belum menjawab pertanyaan grandpa. Rietta," tuturnya.


"Mereka mendengar pembicaraan kita kemarin," jujur Henrietta.


"Sebaik apapun kau menutupinya, mereka juga pasti akan tahu juga, mereka memang masih kecil. Tapi, di saat-saat seperti itulah mereka membutuhkan sosok seorang ayah,"

__ADS_1


"Kau juga tidak bisa melupakan Henry, bayang-bayang Henry pasti selalu muncul di dalam kepalamu, apa lagi jika melihat wajah Asher. Rasa cintamu lebih besar dari pada rasa bencimu untuknya, kau bahkan menaruh nama tengah Henry di belakang nama Asher," lanjutnya.


"Temui lah dia dan katakan yang sebenarnya, mungkin dia akan marah padamu karna tidak memberitahunya jika kalian sudah punya anak. Dan, jangan pernah memikirkan tentang orang-orang itu, karna kau sudah tidak punya hubungan apapun dengan mereka," ujar Jared dan meninggalkan Henrietta sendirian dengan pikiran yang berkecamuk.


__ADS_2