
Malam harinya keluarga Henry terlihat sedang menikmati makan malamnya. Tapi, yang membedakan kali ini adalah tambahan satu orang lagi yang ikut di makan malam kali ini.
"Kau jadi iku mommy besok?" tanya Emma pada menantunya.
"Tentu saja, mom," sahut Henrietta.
"Makan yang banyak Alice," ucap Henrietta pada Alice.
"Iya aunty," sahut Alice dengan malu-malu.
"Apa mommy tak mau ikut dengan kita besok? Daddy akan mengajak kita ke taman bermain," ucap Maisie.
"Tidak bisa, mommy akan menemani nenek kalian besok. Tapi, kalau mommy sudah selesai dengan nenek, mommy akan menyusul kalian," ujar Henrietta.
"Oke mom," sahut Maisie dengan senang.
Henrietta menyunggingkan senyumnya melihat anak perempuannya yang terlihat sangat senang.
"Apa Alice juga ikut?" tanya Emma pada Maisie.
"Tentu saja," sahut Maisie.
"Bolehkah aku tidak ikut?" tanya Asher.
"Kenapa?" tanya Henry memicingkan alisnya.
"Malas, aku ingin di rumah saja," jawab Asher dan kembali melanjutkan makannya.
"Kau tak seru, Ash," ujar Maisie.
Henrietta melihat putranya yang duduk tepat di sampingnya.
"Ikutlah dengan adikmu dan Alice," ucap Henrietta dengan lembut.
"Baiklah," pasrah Asher dengan terpaksa.
Dan mereka pun kembali melanjutkan makan malam itu dengan tenang dan damai.
Setelah makan malam Maisie mengajak Alice untuk masuk kedalam kamarnya.
"Dimana Maisie?" tanya Henry yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri sang istri yang ada di ruang keluarga.
"Di kamarnya bersama Alice," jawab Henrietta.
__ADS_1
Henry duduk di samping sang istri dan merangkul bahunya, sementara di sebelah kiri Henrietta ada Asher yang bersandar di tubuh sang ibu.
"Daddy besok akan ikut juga dengan mommy?" tanya Henry pada sang ayah yang ada di hadapannya.
"Tidak, daddy sudah ada janji dengan teman daddy untuk pergi memancing besok," sahut Elijah.
"Ayahmu lebih senang dengan hobi dan teman-temannya dari pada menemani istrinya," cibir Emma mengejek sang suami.
"Tidak begitu, baiklah aku akan menemani kalian saja besok dan tak jadi pergi," ujar Elijah mengalah dari pada harus mendengar istrinya yang merajuk.
"Tak perlu, aku akan pergi sendiri saja dengan Rietta," sahut Emma.
Henry dan Henrietta hanya bisa tersenyum saja melihat tingkah kedua orang tua itu.
"Mom, aku akan masuk ke kamarku," ucap Asher.
Bocah laki-laki itu beranjak dari atas sofa dan berjalan menuju kamarnya.
"Dia terlalu kaku, lebih parah dari pada Henry waktu kecil," ujar Emma sembari melihat kepergian cucunya.
"Mungkin setelah dewasa dia akan berubah, karna akan lebih banyak bertemu dengan orang baru," ucap Henrietta.
"Menurut mommy tidak. Lihat saja suamimu, sikapnya masih sama," sahut Emma.
"Mommy juga akan masuk ke kamar," ujar Emma dan beranjak dari duduknya.
"Jadi, sekarang hanya ada kita berdua?" ujar Henry.
Henry mengeratkan rangkulannya di bahu sang istri dan mengecup pipi Henrietta.
Henrietta menaikan kakinya keatas sofa dan semakin merapatkan dirinya di dalam pelukan Henry.
"Setelah pesta pernikahan kita, ayo kita pegi bulan madu," ucap Henry.
"Kita sudah pernah bulan madu," kata Henrietta.
"Itu bukan bulan madu sungguhan, saat itu aku bekerja. Lagi pula kita tak melakukannya saat di sana," sahut Henry.
Henrietta tersenyum karna tahu apa yang di maksud oleh suaminya.
"Kita bisa titipkan anak-anak mommy dan daddy," kata Henry.
"Baiklah, aku akan pikirkan dulu kita akan pergi kemana," sahut Henrietta tersenyum.
__ADS_1
Dan Henry pun ikut tersenyum, pria itu pun mengecup bibir sang istri yang sudah seperti candu baginya.
"Ayo kita ke kamar," ucap Henry.
Henry menggendong Henrietta ala bridal style dan membawanya ke kamar mereka.
Di tengah-tengah jalan menuju kamar Henry beberapa kali mencium bibir sang istri.
"Henry stop! Bagaimana kalau anak-anak melihat kita," protes Henrietta karna suaminya itu terus saja mencium dirinya.
"Mereka sudah tidur," ujar Henry.
Pria itu membuka pintu kamarnya dan menutupnya lagi menggunakan satu kakinya.
Henry merebahkan tubuh Henrietta di atas ranjang dan Henry kembali ke pintu untuk menguncinya.
"Baiklah! Sekarang adalah giliranku bermain denganmu," kata Henry.
Henry menyunggingkan senyum miringnya sambil menatap Henrietta yang ada di depannya.
"Kemarilah," ujar Henrietta dengan nada centilnya sambil tersenyum menggoda pada Henry.
"Aku tak akan melepaskan mu untuk malam ini, honey," sahut Henry.
Henrietta tertawa pelan dan menyambut ciuman dari suami tercintanya.
Ciuman Henry menjalar sampai ke leher jenjang nan putih milik Henrietta, dia menghisap dalam-dalam aroma yang sudah menjadi kesukaannya dari tubuh sang istri.
Henrietta mendongakkan kepala seolah memberi akses lebih pada Henry.
Tangan besar Henry bahkan sudah bermuara di balik pakaian yang di kenakan oleh Henrietta.
"Ahhh ..."
Henrietta melenguh merasakan tangan besar Henry yang menangkap dan meremas benda bulat miliknya.
"Aku suka ******* seksimu itu, honey," bisik Henry di sela-sela ciumannya pada leher Henrietta.
Tangan Henrietta juga tak tinggal diam, wanita dua anak itu memasukan tangannya ke dalam kaos yang di kenakan oleh Henry dan meraba-raba perut six-pack Henry dengan tangan lentiknya.
"Kau mulai nakal, honey," kata Henry karna Henrietta merabanya dengan sangat pelan.
"Aku belajar darimu," bisik Henrietta dengan suara seksinya.
__ADS_1
Henry menyunggingkan senyumnya dan langsung melahap bibir Henrietta yang sedari tadi melenguh.
Kamar yang tadinya dingin berubah menjadi kamar yang panas karna percintaan mereka berdua.