PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #47


__ADS_3

"Kau tidak ke perusahaan?" tanya Dorothy pada putrinya.


"Tidak, aku malas untuk bekerja," jawab Julia.


"Kenapa akhir-akhir ini kau jadi pemalas? Kau mau jika nanti ayahmu tidak percaya lagi padamu untuk mengurus perusahaannya dan malah mempercayakannya pada salah satu anak dari bibimu," ujar Dorothy.


"Mom, berhentilah bicara seperti itu. Hampir setiap hari mommy mengatakannya," kesal Julia.


"Julia! Kau sudah berani pada mommy? Mommy mengatakan itu untuk kebaikanmu kedepannya," pungkas Dorothy yang mulai tersulut emosinya.


Julia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sendiri.


"Maafkan aku mom, aku hanya sedang kalut. Henry selalu menolak ku," tutur Julia.


"Berhentilah mengejarnya dan cari-lah laki-laki lain, banyak pria kaya yang mau denganmu," ujar Dorothy.


"Tidak bisa mom ... Mommy tahu sendiri aku sangat mencintai Henry," seru Julia.


"Kalau kau sangat mencintai Henry, kau tidak akan mungkin hamil anak pria lain waktu itu," kesal Dorothy jika mengingat pengakuan putrinya sendiri jika anak yang waktu itu dia kandung adalah anak dari pria lain.


Dan untungnya hanya dirinya saja yang tahu, jika sampai Marco tahu habislah mereka.


"Mom ... sudah aku bilang, aku mabuk waktu itu. Aku tidak tahu jika akan berakhir di kamar hotel dengan pria lain," kilah Julia.


"Untung hanya mommy saja yang tahu, jika sampai daddy-mu tahu habislah kita," ujar Dorothy.


"Pergilah ke perusahaan sekarang, jika tidak ingin ayahmu marah. Satu lagi, Henry pergi ke Spanyol," ujar Dorothy dan keluar dari kamar putrinya.


Julia berjalan keluar dari kamarnya guna mengejar sang ibu.


"Mom!" panggil Julia.


"Ada apa lagi?" tanya Dorothy.


"Kenapa mommy baru bilang sekarang jika Henry ke Spanyol," ucap Julia.


"Mommy juga baru tahu tadi, mungkin dia berangkat kemarin dan sekarang sudah sampai," jawabnya.


"Ada urusan apa dia ke Spanyol?" tanya Julia.


"Mommy tidak tahu, mungkin urusan pekerjaan. Jika kau ingin tahu susul-lah dia kesana. Tapi, sebelum itu selesaikan dulu pekerjaanmu di kantor jika tidak ingin mendengar omelan ayahmu karna kau pergi," jawab Dorothy dan kembali melanjutkan langkahnya.


Julia kembali masuk kedalam kamarnya dan mulai mengganti pakaiannya dengan stelan kerja, dengan sangat terpaksa dia harus menuruti perintah sang ibu untuk masuk kerja.

__ADS_1


****


Karna Henrietta tidak kunjung kembali, Henry memutuskan untuk pulang dan akan kembali lagi besok. Karna dia yakin Henrietta akan kembali lagi ke restoran ini.


Henry berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah dimana kasir berada.


"Meja nomer 14," tutur Henry.


"Minuman anda sudah ada yang membayar," ujar pegawai kasir tersebut.


"Siapa?" tanya Henry masih dengan wajah datarnya.


"Pemilik restoran ini, katanya khusus untuk anda tidak usah bayar," jawabnya.


"Siapa nama bos kalian?"


"Nona Rietta," jawab pegawai tersebut.


Henry terdiam sejenak, otaknya tampak mencerna yang baru saja dia dengar.


"Lalu dimana dia sekarang?" tanya Henry.


"Beliau baru saja pergi," ujarnya.


Sontak saja Henry langsung keluar dari restoran tersebut tanpa bertanya kemana Henrietta pergi.


"Kau berkembang dengan sangat pesat, bahkan tanpa bantuan dariku," gumamnya dengan pandangan yang masih terfokus pada depan, kiri dan kanan guna mencari keberadaan Henrietta


Sudah hampir satu jam Henry menyusuri jalanan. Entah kemana perginya Henrietta.


Sementara itu orang yang sedari tadi di cari malah sedang duduk di bawah pohon rindang yang berada di taman sambil menghadap kearah danau.


Pandangan Henrietta terfokus pada air danau yang begitu tenang, bunga-bunga di sekitar taman mulai bermekaran karna sudah memasuki musim semi.


Sesekali Henrietta akan memejamkan matanya guna merasakan angin yang menerpa wajah cantiknya.


Bayang-bayang Henry yang di lihatnya tadi selalu melintas setiap kali dia memejamkan matanya, wajah tampan Henry yang tidak berubah sejak enam tahun lalu, bibir yang tidak pernah tersenyum padanya.


Selama enam tahun ini dia selalu menghindari semua berita yang berkaitan tentang pria itu.


Jika dia kembali pada Henry apa yang akan terjadi kedepannya.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Henrietta yang mulai merasa bimbang.

__ADS_1


Disisi lain dia memikirkan nasib kedua anaknya. Bagaimanapun juga mereka berhak tahu siapa ayah mereka dan begitupun dengan Henry yang berhak tahu jika dia memiliki dua orang anak.


"Sejauh manapun kau menghindar, kau tetap akan bertemu dengannya Rietta," monolog Henrietta pada dirinya sendiri.


Henrietta melihat jam yang berada di ponselnya. "Masih ada satu jam lagi untuk menjemput anak-anak," ucapnya.


Henrietta tidak langsung pergi, dia masih betah duduk di hamparan rumput sambil melihat air danau.


Dari kejauhan tampak sesosok pria yang sedari tadi memperhatikan Henrietta.


"Bagaimana pun cara kau menghindar kita akan tetap selalu bertemu. My wife," ucapnya dengan pandangan yang tidak terlepas sedikitpun dari Henrietta.


Pria itu memberanikan dirinya untuk menghampiri Henrietta dan mendudukan dirinya di samping wanita itu.


"Bukankah kita berjodoh," ucapnya dengan suara beratnya.


Mata indah Henrietta membola, tubuhnya seakan menjadi kaku saat mendengar suara yang dia kenal lagi-lagi menghiasi indra pendengarnya.


Dia tidak punya pilihan lain, dia sudah tidak bisa lari lagi dari hadapan Henry, dia sudah tak bisa kabur lagi dan harus menghadapi semua masalahnya bersama pria itu.


"Sepertinya kau hidup dengan sangat baik setelah pergi dariku," ucap Henry membuka percakapan di antara mereka berdua.


"Kau semakin cantik dan lebih dewasa," pungkasnya.


Dan itu adalah pujian pertama yang di lontarkan Henry untuk Henrietta.


Tapi, masih tak ada sahutan dari wanita yang ada di sebelahnya.


"Kau pasti sangat membenciku, maafkan aku Rietta. Maaf jika aku sering menyakitimu dan maaf atas perkataan buruk-ku padamu waktu itu,"


"Ini adalah pertama kalinya aku meminta maaf pada seseorang selain pada ayah dan ibuku," jujur Henry.


"Kau tahu, sejak kedua orang tuaku tahu jika kau pergi meninggalkan rumah, mereka langsung memaki-ku, bahkan mereka juga meninju wajah dan perutku. Mommy bahkan tidak pernah bicara padaku sepatah kata pun," ucap Henry berharap Henrietta akan merespon perkataanya.


Namun sayang, usahanya tidak membuahkan hasil. Henrietta masih saja tidak menyahuti semua perkataan Henry.


"Maafkan aku Rietta, aku bersalah padamu," ujarnya.


Pandangan Henrietta masih terfokus kedepan. Tapi, tiba-tiba saja dia berdiri dari duduknya dan berjalan menjauhi Henry yang masih duduk di tempatnya dengan pandangan yang terarah pada Henrietta.


"Sebenci itu kah dia padaku?" gumamnya.


Henrietta berjalan kearah mobilnya yang terparkir tanpa melihat kearah belakang sama sekali.

__ADS_1


Henrietta menghapus air matanya setelah masuk kedalam mobil.


Dia mengirim pesan pada seseorang sebelum akhirnya menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sekolah kedua anaknya.


__ADS_2