
Setelah makan malam usai, Emma mengajak Henrietta untuk mengobrol di ruang keluarga sembari menonton film, sementara Elijah dan Henry sedang berada di ruang kerja milik Henry.
"Dari mana kau belajar memasak?" tanya Emma antusias.
"Ibuku, dia sangat pandai memasak, aku bahkan menulis sendiri resepnya sesuai petunjuk mommy," jawab Henrietta sambil menyunggingkan senyum cantiknya.
Dia pikir ibu Henry tak akan menyukainya, mengingat dia hanya sebagai pengganti Julia. Dia juga berpikir jika ibu Henry adalah tipe wanita sosialita yang suka bergaul dengan sesama istri konglomerat lainnya, tapi dia salah, ibu Henry sangat baik dan ramah.
"Pasti ibu-mu seorang chef yang handal," ujar Emma.
"Tidak, mommy hanya wanita rumahan yang menghabiskan waktunya hanya di restoran dan di rumah sambil mengurusku," balas Henrietta.
"Ibu-mu pasti wanita yang hebat," ujar Emma.
"Aku jadi ingin bertemu dengan ibu-mu, bukankah kau keponakan Marco? Seingat ku Marco hanya punya dua adik perempuan yang tak suka berada di dapur," sambung Emma.
Seketika Henrietta gugup, dia bingung harus menjawab apa pada Emma.
"Ibu-ku adalah sepupu jauh paman Marco, lagi pula ibu-ku sudah meninggal empat tahun lalu," tungkas Henrietta lirih agar membuat Emma tak bertanya lagi tentang hubungan ibunya dengan Marco.
"Oh sayang, maafkan aku, aku sungguh tidak tahu," ucap Emma dengan nada bersalah dan menyesal.
Emma mendekati Henrietta dan memegang kedua tangannya.
"Maafkan mommy Rietta," ujar Emma.
"Mm, tidak apa mom," Henrietta tersenyum pada Emma agar dia tak merasa bersalah.
"Kalau ada waktu mainlah ke Kanada, jika Henry kesana mommy akan suruh dia juga membawamu, kita bisa memasak bersama,"
"Kau suka berkebun?" tanya Emma dan di balas anggukan kepala oleh Henrietta.
Emma bertepuk tangan dan berseru dengan riang. "Itu sangat bagus, kita akan menghabiskan waktu berdua nanti,"
Henrietta juga tersenyum dengan senang mendengar perkataan mertuanya, dia senang karna Emma memperlakukannya dengan baik padahal mereka baru bertemu kemarin, itupun hanya sebentar.
"Kau sangat berbeda dengan Julia, andai Henry bertemu denganmu lebih dulu dan bukan Julia, pasti kau sudah menjadi menantuku sejak lama," tutur Emma.
Henrietta tak mengatakan apapun, karna dia memang tidak terlalu mengenal dan tidak terlalu tahu bagaimana sifat Julia, dia hanya pernah bertemu Julia sekali, itupun saat ayahnya membawa selingkuhannya kerumah mereka.
"Tapi, aku senang Henry menikah denganmu sekarang," sambung Emma.
"Mommy tidak senang jika Julia menjadi istri Henry?" Henrietta mencoba bertanya pada ibu mertuanya tentang semua perkataan yang baru saja di ucapkan olehnya.
"Aku hanya kurang puas dengan Julia, kami hanya bertemu tiga kali dengan Julia, yang pertama saat Henry membawa Julia Kanada, itupun bukan di mansion tapi di restoran, yang kedua saat menentukan pertunangan mereka dan ketiga saat pertunangan mereka, bagaimana pun kami selaku orang tua harus hadirkan?" jelas Emma.
__ADS_1
Henrietta menganggukkan kepalanya. "Mungkin karna Julia sibuk," ujar Henrietta memberi jawaban aman.
Menurut berita yang dilihat Henrietta di internet Julia adalah direktur dan juga pewaris SG CORP, perusahaan milik ayah kandungannya, Marco Sergei.
"Mm ... Mungkin juga," ucap Emma mengedikan bahunya acuh tak acuh.
"Tapi, sekarang mommy senang karna kau menjadi istri Henry, mommy berharap pernikahan kalian awet dan Henry bisa mencintaimu," ucap Emma dan Henrietta hanya membalasnya dengan tersenyum getir.
Emma tampak mendukung sepenuhnya jika Henrietta menjadi istri Henry selamanya.
Sedangkan dua pria berbeda usia tampak sedang mengobrol dengan serius.
Terlihat jika sang ayah sedang menasehati Henry seputar pernikahan. "Daddy ingin kau menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab untuk Rietta selama kalian menikah, daddy tak tahu kedepannya hubungan kalian akan bagaimana tapi, selama Henrietta menjadi istrimu perlakukan dia dengan baik, daddy yakin dia wanita yang baik, jika suatu hari nanti Julia sudah sadar dan kau ingin kembali padanya bicaralah dengan Henrietta dan selesaikan dengan baik, dan jika sebaliknya jika suatu hari nanti kau mulai mencintai Henrietta selesaikan masalahmu dengan Julia, daddy tak ingin nantinya akan ada dendam di antara kalian," jelas Elijah panjang lebar.
"Daddy juga sudah tahu mengenai Julia yang tidak bisa memiliki anak karna kecelakaan waktu itu," ujar Elijah
"Bijaklah dalam mengambil keputusan, jangan menyakiti hati wanita manapun suatu hari nanti," Elijah menepuk pundak putranya dan keluar dari ruang kerja Henry.
Dia akan menemui istrinya yang sedang bersama menantu mereka.
Sedangkan Henry belum beranjak sedikitpun dari duduknya walau sang ayah sudah meninggalkan ruangannya.
Henry tampak merenung, dan kemudian berdiri dari duduknya, dia tak ingin memikirkan apapun dulu untuk saat ini.
'Bahkan Julia saja tak bisa seperti itu,' batin Henry.
Henry berjalan kearah mereka dan duduk bersebrangan dengan ketiga orang itu.
"Kapan daddy dan mommy akan pulang?" tanya Henry.
"Kau mengusir mommy-mu sendiri?" Emma menatap tajam pada putra satu-satunya itu.
"Tidak, aku hanya bertanya saja," jelas Henry.
Henrietta melihat interaksi antara ibu dan anak itu, dia melihat Henry sangat berbeda jika sedang bersama orang tuanya.
"Setelah di pikir-pikir mommy dan daddy akan pulang besok saja, mommy ingin menghabiskan waktu sebentar dengan Rietta, mommy sudah janji besok akan mengajak Rietta berjalan-jalan, bukankah selama ini dia tinggal di Swiss? pasti dia sudah lupa dengan jalanan New York jadi mommy akan mengajaknya jalan-jalan," kata Emma panjang lebar dengan semangatnya.
"Daddy menyetujuinya?" tanya Henry pada sang ayah.
"Tentu saja, perkataan ibu-mu adalah mutlak dan tak bisa dibantah," jawab Elijah tersenyum.
"Mommy dengar dari bibi Ely jika kau tadi ke kantor," ucap Emma.
"Mm ..." gumam Henry sebagai jawaban.
__ADS_1
"Oh God, mommy sudah bilang ambil libur-mu, kau baru saja menikah dan kau langsung meninggalkan istrimu sendirian?" Emma tak habis pikir dengan anaknya yang gila kerja ini.
"Mom, disini dia tak sendirian, disini banyak pelayan yang menjaganya," ucap Henry.
Henrietta langsung menyela ucapan Emma yang akan mengomeli Henry lagi.
"Mom, aku tak apa sungguh," sela Henrietta.
Emma melihat kearah Henrietta dan menatapnya. "Kau jangan terlalu lembek padanya, lebih keraslah lagi padanya, mengerti?" ucap Emma.
Henrietta tersenyum dan menjawab perkataan ibu mertuanya. "Iya mom,"
Henry tampak memicingkan matanya mendengar Henrietta yang dengan mudahnya menurut pada mommy-nya.
"Karna kita tak jadi pulang, jadi daddy akan melihat perusahaan sebentar besok, sudah lama daddy tidak kesana," ucap Elijah.
Hingga tak terasa waktu pun sudah menunjukan pukul 10 malam, mereka berempat pun memutuskan untuk masuk ke kamar mereka masing-masing.
"Rietta, bukankah kamar Henry disana? Kenapa kau masuk kesini," ujar Emma yang melihat Henrietta membuka pintu lain.
"Kalian tidak tidur bersama?" tanya Emma pada Henrietta dan Henry yang ada di belakang Henrietta.
Henrietta tampak terdiam dan tak mengatakan apapun.
"Kami memang tidak tidur bersama mom," jujur Henry.
Emma melihat kearah putranya dengan pandangan yang tak bisa di jelaskan.
"Masuklah ke kamar Henry, Rietta," titah Emma.
Henrietta melihat kearah Henry. "Masuklah Rietta," ujar Henry menyuruh Rietta masuk kedalam kamar milik Henry.
Henrietta memutuskan untuk masuk ke kamar Henry.
"Jangan pernah membiarkan Rietta tidur di kamar lain sendirian, kalian sudah menikah sekarang, dan bagaimana pun kalian harus tidur satu kamar," ujar Emma tegas.
"Aku tahu mom," ujar Henry.
"Masuklah son," ujar Elijah pada putranya.
Henry masuk kedalam kamarnya karna tak mau mendengar protesan ibunya lagi.
"Kau terlalu berlebihan sayang," ujar Elijah pada istrinya setelah Henry pergi.
"Kalau aku tidak seperti itu, mereka akan terus tidur terpisah, bagaimana kita mau punya cucu kalau begitu," balas Emma.
__ADS_1