PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #13


__ADS_3

Pagi hari yang terasa sedikit berbeda bagi Henrietta, biasanya dia akan membuat sarapan bersama Della, bibi Ely, atau pelayan-pelayan lain. Tapi, sekarang dia di temani oleh ibu mertuanya.


Sesekali ibu mertuanya akan mengajaknya berbincang sembari membuat sarapan.


"Ah, mommy senang sekali hari ini, dari dulu mommy sangat ingin memasak bersama istri Henry," ujar Emma dengan riangnya.


Wajah cerah penuh senyum itu tak pernah luntur dari wajah cantiknya, sesekali kerutan kecil akan muncul saat Emma tertawa ataupun tersenyum.


Henrietta tersenyum melihat wajah bahagia Emma. "Makanan seperti apa yang daddy suka mom?" tanya Henrietta.


"Daddy-mu sangat suka makanan Spanyol, dulu mantan sekretarisnya sering memasak-kan makanan itu untuk daddy," jawab Emma.


"Mommy tak cemburu?" tanya Henrietta.


Emma terkekeh kecil. " Tentu saja tidak, mereka menjadi rekan kerja jauh sebelum mommy bertemu dengan daddy, daddy sudah menganggapnya seperti adik sendiri dan begitu pun sebaliknya, jika daddy mau sudah dari dulu dia berpacaran atau menikah dengannya,"


"Apakah dia cantik?" tanya Henrietta.


"Ya, dia sangat cantik, seperti-mu" puji Emma.


"Bahkan mommy bisa memasak karna dia, awalnya mommy hanya wanita karir yang jarang sekali masuk ke dapur, tapi dia mengajarkan mommy dengan sangat sabar, dia wanita yang sangat lembut," ucap Emma.


"Lalu kemana dia sekarang? Aku jadi ingin bertemu dengannya," ujar Henrietta.


"Kami tidak tahu, dia dengan tiba-tiba berhenti dari pekerjaannya dan entah pergi kemana, Elijah sudah mencarinya kemanapun tapi hasilnya nihil," balas Emma.


"Dulu, saat usia Henry masih lima tahun, dia punya keinginan jika nanti dia memiliki anak perempuan dia akan menjodohkan-nya dengan Henry kecilku," kata Emma sambil tertawa bahagia.


"Dia juga akan menamakan anak perempuannya dengan nama yang mirip dengan Henry, agar kami bisa dengan mudah mengenalinya," lanjut Emma.


Sambil mengaduk-aduk masakan yang sedang di buatnya.


"Elijah bahkan sangat protektif padanya, dia tak membiarkan pria tak jelas untuk mendekatinya, karna nanti dia sendiri yang akan mencarikan calon suami untuk sekretarisnya," ujar Emma tertawa kecil mengingat sikap Elijah dulu.


"Siapa namanya mom?" tanya Henrietta yang sangat penasaran dengan nama wanita yang selalu di ceritakan ibu mertuanya.


"Ruth ... Namanya Ruth Miller," jawab Emma.


Henrietta langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang memotong tomat saat mendengar nama yang di sebut oleh ibu mertuanya.


Emma melanjutkan lagi ceritanya tanpa menyadari perubahan raut wajah Henrietta yang hanya sepersekian detik saja.


"Elijah bilang Ruth adalah seorang pendatang, dia datang ke New York untuk mencari pekerjaan, saat itu usianya masih 23 tahun, dia bertemu dengan Elijah saat membantu ibu Elijah yang hampir di rampok, lalu nenek Henry membawa Ruth pulang kerumahnya dan mempekerjakan Ruth di perusahaan keluarga," jelas Emma.

__ADS_1


Henrietta tak mengatakan apapun lagi setelah mendengar cerita yang di ceritakan oleh ibu mertuanya.


Emma kembali melanjutkan memasaknya, tiba-tiba seakan teringat sesuatu Emma langsung melihat kearah Henrietta.


'Wajah itu, masakan yang sama, nama yang hampir mirip dengan Henry,' pikir Emma.


Tiba-tiba bayangan masa lalu saat dirinya menghabiskan waktu berdua dengan Ruth sambil melihat Henry yang sedang berlarian dengan Elijah, kata-kata yang kembali terulang di dalam benak Emma.


"Jika nanti aku sudah menikah dan memiliki anak perempuan, aku akan memberi nama yang mirip dengan Henry, aku berharap mereka akan berjodoh suatu hari nanti, aku yakin Henry akan tumbuh menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab. Dan, seandainya nanti aku pergi mengikuti suamiku dan kita berpisah dalam waktu yang lama, aku ingin kalian mengenali putriku dengan nama yang mirip dengan Henry,"


Ingatan di masa lalu Emma buyar ketika dia tersadar dari keterdiaman-nya.


Emma sudah cukup sering bertanya tentang ibu Henrietta dan Henrietta selalu menceritakannya, tapi Emma lupa untuk menanyakan namanya.


"Henrietta?" panggil Emma sambil menekan kata Henri di awal kalimatnya.


"Iya mom?" sahut Henrietta yang masih fokus dengan irisan sayurannya.


"Siapa nama ibumu?" tanya Emma, seketika Henrietta langsung mengalihkan fokusnya pada sang ibu mertua.


"Leona ... Leona Rodri," jawab Henrietta dengan yakin.


Emma tak tahu saja jika Henrietta sedang meremas kuat ujung dress-nya untuk menghilangkan rasa gugup-nya.


"Tentu saja mom, sedari kecil aku bersama dengannya mana mungkin aku salah dengan nama ibuku sendiri," tungkas Henrietta.


"Memangnya ada apa mom?" tanya Henrietta.


"Tidak ada apa-apa, mommy hanya ingin tahu nama ibumu saja," jawab Emma.


Henrietta hanya mengangguk saja dan tak mengatakan apapun, dia kembali melanjutkan tugasnya dan begitu pun dengan Emma.


Lantas tak membuat keyakinan Emma luntur soal ibu Henrietta, dia akan mencari tahu-nya nanti.


"Sayang, apa masih lama?" tanya Elijah yang datang menghampiri mereka.


"Tunggu sebentar lagi," jawab Emma.


Elijah mencium bibir Emma tepat di hadapan menantunya.


Emma mencubit pinggang Elijah yang tak tahu malu.


"Disini ada Rietta, kau tak malu?" ujar Emma.

__ADS_1


"Biarkan saja, Rietta juga tidak keberatan, iya kan?" ucap Elijah.


"Iya dad," jawab Henrietta yang merasa sedikit canggung.


"Dimana Henry?" tanya Emma.


"Dia di ruang gym-nya," jawab Elijah.


"Panggil aku jika sudah selesai, aku akan ada di ruang kerja Henry," ucap Elijah, dia mencium bibir sang istri sebelum pergi meninggalkan dua wanita tersebut.


"Daddy-mu memang seperti itu, mungkin nanti Henry juga akan mengikuti jejaknya," ujar Emma bermaksud untuk menggoda Henrietta.


Henrietta tak menanggapi ucapan ibu mertuanya, dia sudah cukup malu dan canggung berada di tengah- tengah antara suami istri tersebut.


Tidak lama kemudian masakan yang di masak oleh mereka berdua pun jadi.


"Mommy akan panggil daddy dulu, kau bisa memanggil Henry," kata Emma.


"Baik mom," balas Henrietta.


Henrietta berjalan kearah ruang gym Henry yang berada di dekat taman belakang.


Tapi, saat dia sampai disana dia tak melihat keberadaan Henry.


"Permisi, kau lihat Henry?" tanya Henrietta yang menghentikan seorang pelayan.


"Tuan mudah tadi pergi ke kamarnya," jawab pelayan tersebut.


Setelah mengucapkan terima kasih Henrietta langsung pergi menuju kamarnya.


Dia membuka pintu kamar itu bertepatan dengan Henry yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Henrietta langsung menghentikan langkahnya saat menyadari itu, dia memalingkan wajahnya kearah lain tanpa melihat Henry.


"Ada apa?" tanya Henry.


"Sarapan sudah siap, turunlah jika sudah selesai," jawab Henrietta.


"Mm ... Aku akan turun nanti," ucap Henry.


Setelah Henry mengatakan itu Henrietta langsung keluar dari kamar itu, dan tanpa sadar dia menutup pintu dengan cukup keras hingga membuat Henry kaget.


"Ada apa dengannya?" heran Henry.

__ADS_1


__ADS_2