
Henrietta menggeliat dari tidurnya karna merasakan sesuatu yang mengganggunya.
"Kau tidak ingin bangun?" bisik Henry di telinga Henrietta.
"Jam berapa sekarang?" tanya Henrietta dengan suara seraknya yang terdengar seksi.
"Kenapa suara bangun tidurmu sangat seksi?" goda Henry yang mulai menciumi pipi Henrietta.
"Aku tanya jam berapa sekarang?" ulang Henrietta sambil menyingkirkan wajah Henry di wajahnya.
"Jam delapan pagi," jawab Henry.
"Kapan anak-anak akan pulang dari acara sekolah mereka?" tanya Henry.
"Mungkin nanti siang," jawab Henrietta.
"Minggir lah. Aku ingin bangun," ujar Henrietta menyingkirkan Henry.
Henry menyingkir dan memperhatikan Henrietta yang bangun dari tidurnya.
Wanita itu meregangkan otot tubuhnya yang terasa remuk dan sakit, dan tanpa sadar selimut yang menutupi dadanya melorot.
"Wow... Kau sengaja menggodaku honey?" tutur Henry.
"Tidak!" jawab Henrietta sambil menaikan selimutnya lagi.
"Aku akan mandi dulu," ujar Henrietta dan beranjak dari tempat tidur milik Henry.
Dia berjalan kearah kamar mandi dengan hanya memakai selimut yang menutupi tubuh polosnya.
Saat sudah berada di dalam kamar mandi dan melepas selimutnya Henrietta lupa membawa pakaiannya.
"Henry!" teriak Henrietta dari dalam kamar mandi.
"Iya honey," sahut Henry.
"Bisa kau kemari kan pakaianku? Aku lupa membawanya tadi," ujar Henrietta.
"Baiklah, apakah aku juga harus masuk kesana?" tanya Henry.
Tok ...
Tok ...
Henrietta membuka pintu kamar mandi dan hanya memperlihatkan kepala dan mengulurkan tangannya.
"Kau butuh bantuan di dalam?" tawar Henry.
"Tidak!" jawab Henrietta dan menutup lagi pintunya.
"Aku akan menunggumu di meja makan," ujar Henry.
"IYA ..." teriak Henrietta dari dalam kamar mandi.
Henry keluar dari dalam kamar dengan wajah bahagia dan senyum yang tidak pernah luntur dari wajah tampannya.
Pria itu terlihat mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana jeans-nya dan mengirim pesan pada sang ibu jika dia sudah menemukan Henrietta dan akan membawanya kembali ke New York.
Henry langsung memesan makanan cepat saji lewat ponselnya, agar Henrietta tidak perlu memasak.
__ADS_1
Sepuluh menit kemudian Henrietta sudah keluar dari kamar milik Henry dan menghampiri pria itu yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran dengan secangkir kopi.
"Kau belum sarapan?" tanya Henrietta.
"Aku sedang menunggu makanan datang, aku memesan makanan cepat saji ... Tidak apa kan?" ujar Henry.
"Tidak," jawab Henrietta.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
"Sepertinya itu makanan kita," ujar Henry yang berdiri dari duduknya.
"Biar aku saja," pungkas Henrietta agar menyuruh Henry duduk kembali.
Henrietta berjalan kearah pintu dan membuka pintu itu, dia melihat seorang wanita dengan pakaian seksi dan elegan tengah berdiri di hadapannya.
Wanita itu melihat kearah Henrietta yang memandanginya dari atas hingga bawah.
"Siapa kau? Kenapa kau ada di apartement tunanganku?" tanya wanita itu.
Henrietta menyunggingkan senyumannya dan terlihat meremehkan wanita itu.
Sekarang, dia tidak akan takut lagi pada ayahnya. Karna, sekarang dia memiliki keluarga dari ibunya yang akan selalu melindungi dirinya dan juga anak-anaknya.
"Hey! Kau tuli ya? Siapa kau, kenapa kau ada disini? Dan dimana Henry?" ujar wanita itu yang mulai kesal.
"Henry! Ada yang mencari mu," teriak Henrietta.
Henrietta menghalangi jalan wanita itu yang hendak masuk kedalam apartement milik Henry.
"MINGGIR!" bentak wanita itu.
"Siapa yang mencariku?" tanya Henry yang belum sadar pada apa yang ada di hadapannya.
"Henry ..." panggil wanita itu dengan wajah senangnya.
"Tunanganmu," ujar Henrietta yang seca tidak langsung menyindir Henry.
"Sedang apa kau disini Julia?" tanya Henry dengan wajah datarnya.
Sebenarnya Henry sudah muak dengan wanita yang ada di hadapannya saat ini, wanita itu seperti penguntit yang mengikuti Henry kemana pun.
"Tentu saja menyusul mu," jawab Julia.
"Kau belum mengakhiri hubunganmu dengannya?" selidik Henrietta.
"Aku sudah memutuskan pertunangan dengannya, bahkan sejak lima tahun yang lalu," jawab Henry tanpa memperdulikan jika Julia juga berada disana dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Tapi aku tidak menyetujuinya," timpal Julia.
"Itu terserah kau! Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi denganmu," ujar Henry tanpa perasaan.
"Apa semua ini karna wanita itu?" tunjuk Julia.
"Iya. Karna Henry adalah suamiku," sahut Henrietta dengan keberaniannya.
__ADS_1
Dia tidak ingin mengalah lagi dari wanita itu, wanita itulah yang membuatnya menikah dengan Henry, pikir Henrietta.
"Kau bohong!" ucap Julia tidak percaya.
"Kau tidak percaya? Tanya saja langsung pada orangnya," ujar Henrietta.
Julia mengalihkan perhatiannya pada Henry dan meminta pria itu untuk berbicara dengan jujur.
"Dia memang istriku. Kami sudah menikah enam tahun yang lalu saat kau koma, dan itu semua karna ide dari ayahmu. Jadi, jangan pernah menyalahkan istriku," jawab Henry.
Henrietta melipat kedua tangannya di dadanya dan menatap Julia.
"Apa ayahmu tidak pernah mengatakan yang sebenarnya padamu?" tebak Henrietta.
"Kau pasti bohong! Pasti menggoda dan merayu Henry agar dia mau denganmu," ujar Julia yang mulai memperlihatkan kemarahannya.
Henry mencegah tangan Julia yang akan menampar Henrietta.
"CUKUP JULIA!" bentak Henry.
"Jangan pernah membuat keributan di tempatku. Jika kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan saja ayahmu ... Karna dia yang membuat kami menikah," tegas Henry.
"Sekarang pergi dari sini dan pulanglah, dan berhentilah mengejar-ngejar diriku. Karna aku sudah menikah," ujarnya dengan sorot mata dingin.
Julia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap tajam pada Henrietta, dia mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya memutih.
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu bersama dengan Henry," ujar Julia sebelum pergi dari sana.
Mulut Julia tidak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah dan makian untuk Henrietta.
"Apa dia selalu seperti itu?" tanya Henrietta pada Henry.
"Ya ... Sejak aku membatalkan pertunangan," jawab Henry.
"Mungkin dia sangat terobsesi padamu," timpalnya.
"Mungkin saja," sahut Henry mengedikan bahunya.
"Mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati jika bertemu dengannya, bisa saja dia menjadi nekad setelah pengakuan kita tadi,", ucap Henry.
"Dan aku juga sudah memberitahu mommy tentangmu, dan aku akan segera membawamu dan anak-anak pulang ke New York," lanjutnya.
"Hey ... Aku belum setuju untuk ikut denganmu ke New York," ujar Henrietta yang menyusul Henry masuk kedalam apartement.s
"Kau sudah tidak bisa menolaknya honey. Karna kalau kau tidak mau, aku akan memaksa-mu," tutur Henry.
"Kau benar-benar semakin menyebalkan," ujar Henrietta.
Dan disaat perdebatan itu terjadi, pesanan yang di pesan oleh Henry akhirnya datang.
"Kenapa banyak sekali?" tanya Henrietta karna makanan yang di pesan Henry cukup banyak.
"Agar kau bisa menghabiskannya," jawab Henry.
"Kau pikir aku serakus itu apa?" ujar Henrietta tidak terima.
"Aku tidak bilang kau rakus, aku hanya bilang agar kau dapat menghabiskannya,"
"Dan cepatlah makan, aku ingin segera melihat anak-anak," ujar Henry lagi.
__ADS_1