
Henrietta keluar dari mobil yang pintunya sudah di bukakan oleh Henry.
Mereka baru saja tiba di New York setelah menempuh penerbangan selama tujuh jam dari Spanyol.
Dan kini pandangan Henrietta tertuju pada bangunan mewah yang ada di hadapannya.
"Rumah siapa ini?" tanya Henrietta pada Henry yang ada di sampingnya.
Henry menggenggam tangan Henrietta dan mengecupnya beberapa kali.
"Rumah kita," jawab Henry.
"Kau suka?" tanyanya.
"Suka," jawab Henrietta.
"Tapi, ini terlalu besar," ujar Henrietta.
"Aku sengaja membuat yang besar. Bukankah kita akan membuat banyak anak?" goda Henry di akhir kalimatnya.
"Aku serius," rajuk Henrietta.
"Aku juga serius, honey," sahut Henry.
"Kita akan mengisi mansion besar ini dengan anak-anak yang lucu," ujar Henry dan mengecup pipi Henrietta.
"Aku juga sudah menyiapkan kamar untuk mereka berdua," kata Henry.
"Benarkah? Kapan kau menyiapkannya?" tanya Henrietta melihat kearah Henry.
"Sejak aku tahu darimu jika aku sudah memiliki anak, aku langsung menghubungi orang mansion dan menyuruh mereka merombak dua kamar," jawab Henry.
"Ayo kita masuk kedalam, kurasa mereka sudah sangat lelah," ujar Henry yang melihat kedua anaknya sudah tertidur di dalam mobil.
"Biar aku yang menggendong Asher, dan kau gendong Maisie," ucap Henrietta.
Mereka berdua akhirnya masuk kedalam mansion besar itu dengan anak-anak yang berada di gendongan mereka berdua.
"Kita naik lift saja, aku takut kau cape karna harus menggendong Asher dan naik tangga," ujar Henry.
Mereka berjalan kearah lift yang letaknya dekat dengan tangga besar itu.
"Dimana kamar mereka?" tanya Henrietta setelah mereka masuk kedalam lift.
"Di lantai dua," jawab Henry.
TING ...
Pintu lift terbuka dan mereka berjalan kearah kamar.
"Ini kamar kita," tunjuk Henry pada pintu pertama.
__ADS_1
"Disana kamar Maisie, dan di sebelah kamar Maisie adalah kamar Asher," tunjuk Henry.
"Baiklah, aku akan menaruh Asher di kamarnya dulu," kata Henrietta.
Henrietta berjalan kearah kamar putranya dan membuka pintunya yang memang sengaja tak di kunci.
Pandangan Henrietta terperangah melihat kamar untuk putranya.
"Ini terlalu besar untuk kamar anak berusia lima tahun," gumam Henrietta.
Bahkan kamar itu lebih besar dari kamar putranya yang ada di Spanyol.
"Dia benar-benar sudah menyiapkan semuanya," ujar Henrietta sambil merebahkan tubuh putranya di ranjang yang cukup besar untuk anak lima tahun.
Henrietta menaikan selimut hingga sebatas dada Asher dan mengecup kening putranya.
"Good night baby boy," bisik Henrietta.
Henrietta mematikan lampu tidur di kamar putranya dan menutup pintu itu.
"Oh God ... Kau mengejutkanku!" ujar Henrietta yang terkejut karna Henry ada di belakangnya saat dia selesai menutup pintu.
"Kamar itu terlalu besar untuk anak-anak," ucap Henrietta.
"Tidak apa, aku sengaja melakukannya," sahut Henry.
"Aku jadu ingin lihat apa yang kau lakukan untuk kamar Maisie," ujar Henrietta yang akan berjalan menuju kamar putrinya.
"Nanti saja besok pagi, sekarang Maisie sudah tidur, kau bisa mengganggunya," ujar Henry.
"Aku hanya melihat kamarnya tak akan membangunkannya," tutur Henrietta.
"Besok saja. Sekarang ayo, kita masuk ke kamar kita," kata Henry dan menarik tangan istrinya untuk masuk kedalam kamar mereka.
Henry menutup dan mengunci pintunya setelah mereka masuk kedalam kamar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Henrietta kesal.
Henry berjalan mendekat pada Henrietta yang sedang menatapnya
"Aku hanya ingin berduaan denganmu," ujar Henry dan menyentuh pipi Henrietta.
"Nanti saja, aku mau mandi," sahut Henrietta dan berjalan kearah kamar mandi.
"Kau tak ingin mandi bersamaku, honey?" ujar Henry.
"Tidak. Mandi denganmu akan memerlukan waktu yang lama dan aku sudah sangat lelah karna perjalanan jauh," jawab Henrietta dan masuk kedalam kamar mandi.
Henrietta menutup dan mengunci pintunya, agar Henry tak masuk kedalam saat dia sedang mandi.
Henry menghembuskan napasnya dengan berat dan berjalan kearah ranjang.
__ADS_1
Dia mendudukkan dirinya di ranjang dan melihat ponselnya sembari menunggu Henrietta.
Henry terlihat membuka email yang baru saja masuk ke ponselnya.
Hingga setengah jam kemudian Henrietta baru keluar dari kamar mandi.
Wanita dua anak itu melihat suaminya yang terlihat fokus dengan ponsel yang ada di tangannya.
"Henry," panggil Henrietta.
Henry memalingkan kepalanya dan melihat sang istri yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Ya, honey?" sahut Henry.
"Mandilah dulu sebelum tidur," ujar Henrietta.
"Baiklah," patuh Henry.
Henry beranjak dari ranjang dan menghampiri istrinya yang masih ada di depan pintu kamar mandi.
Pria itu mengecup bibir Henrietta sebelum masuk kedalam kamar mandi.
Henrietta berjalan ke arah walk in closet dan sudah ada kopernya disana.
"Aku akan membereskannya besok pagi saja," gumam Henrietta.
Lalu pandangan Henrietta tertuju pada pakaian wanita yang sudah tertata rapi di tempatnya.
Henrietta mengambil salah satu gaun tidur berwarna hitam beserta pakaian dalamnya.
"Dia bahkan sudah menyiapkan semuanya," gumam Henrietta karna semua yang dia ambil pas di tubuhnya.
Setelah selesai, Henrietta keluar dari walk in closet dan berjalan kearah meja riasnya.
Dan disana juga sudah tertata rapi alat-alat kecantikan wanita sesuai merek yang sering di gunakan oleh Henrietta.
Henrietta menyisir rambutnya, dan memoleskan skincare sebelum dia tidur.
Henrietta berjalan kearah ranjang dan merebahkan dirinya disana sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Dua puluh menit kemudian Henry keluar dari kamar mandi dan mendapati sang istri sudah tertidur sambil membelakanginya.
Henry berjalan ke walk in closet dan memakai celana pendeknya tanpa mengenakan baju.
Dia berjalan kearah ranjang dan membaringkan tubuhnya disana.
Henry membawa tubuh Henrietta semakin merapat dengan tubuhnya dan memeluknya dari belakang.
"Good night, my wife," bisik Henry tepat di telinga Henrietta.
Pria itu mengecup bahu terbuka sang istri sebelum menyusul Henrietta ke alam mimpi.
__ADS_1