
"Kau sudah mencari tahu siapa yang sudah melakukan itu pada Julia?" tanya Henry pada pria yang ada di depannya.
Tanpa melihat kearah pria itu Henry masih sibuk dengan memeriksa beberapa berkas yang ada di atas mejanya.
"Sudah," jawab pria tersebut.
"Siapa?" tanya Henry yang masih tetap fokus dengan berkasnya.
"Pesaing bisnis-mu, mereka menargetkan Julia untuk menekan-mu dan menghancurkan kelemahan-mu," balas pria tersebut dengan santai.
"Lalu dimana mereka sekarang?" tanya Henry.
"Anak buahku sedang mengejarnya," pungkasnya.
"Kalau sudah tertangkap langsung habisi saja, semakin sedikit musuhku semakin bagus bukan?" ujar Henry yang akhirnya menatap pria itu dengan tajam dan senyum smirknya.
"Hmm, aku mengerti," sahut pria itu.
"Apa masih ada lagi?" tanya Henry.
"Tidak ada," jawabnya.
"Kalau begitu kau bisa pergi sekarang, aku akan menghubungimu nanti," ucap Henry.
Pria dengan rambut ikal itu pun keluar dari ruangan Henry.
Saat pria itu menutup pintu ruangan Henry dia berpapasan dengan asisten Henry.
"Selamat pagi tuan Sam," sapa Owen, asisten Henry.
"Selamat pagi juga Owen," sapa balik pria yang bernama Sam itu.
Dia menepuk pundak Owen lalu berjalan meninggalkan lantai dimana ruangan Henry berada.
Owen membuka pintu ruangan Henry dan meletakan beberapa dokumen di atas meja kerja Henry.
"Sudah berapa persen pembangunan hotel kita yang ada di Swiss?" tanya Henry.
"Hampir 65 persen tuan," jawab Owen.
"Dan ada salah satu pekerja kita yang mengalami kecelakaan kerja, dia hampir terjatuh dari lantai 10 karna tali pengaman yang tak terpasang dengan benar," jelas Owen.
"Kalau begitu bilang padanya jika semua biaya pemulihannya akan di tanggung oleh perusahaan, dan pastikan lagi semua peralatan sesuai standar keamanan kalau bisa lebih aman lagi, keselamatan pekerja adalah prioritas utama bagi perusahaan, dan aku tak mau kejadian seperti ini terulang lagi," jelas Henry menatap serius pada Owen.
"Baik tuan, saya mengerti," balas Owen.
"Satu lagi tuan, tadi tuan Marco menghubungi saya, beliau ingin membuat janji temu dengan anda," ucap Owen.
"Kalau begitu hubungi dia, temui aku saat jam makan siang di Moore Resto, pesankan ruang VIP," ucap Henry.
"Baik tuan," tungkas Owen.
Setelah dirasa tak ada lagi yang akan dibicarakan Owen pamit undur diri dan keluar dari ruangan milik Henry.
__ADS_1
Henry kembali disibukan dengan semua pekerjaan yang menumpuk, padahal hanya ditinggal satu hari tapi pekerjaannya sudah bertambah banyak, itulah mengapa waktunya dia habiskan untuk bekerja, karna dia tak suka menunda pekerjaan.
*
Sementara itu ditempat yang berbeda Henrietta tampak sedang mencari keberadaan sahabatnya.
Sahabat yang sudah lama tidak dia temui, sahabat satu-satunya sejak dia pindah ke Swiss, tapi karna sebuah pekerjaan sahabatnya itu memutuskan untuk pindah ke New york.
"Rietta," teriak seorang wanita cantik berambut pirang melambaikan tangannya pada Henrietta.
Henrietta pun menghampiri asal suara tersebut dengan senyum yang terbit di bibir cantiknya.
"Aku merindukanmu," Lucy memeluk erat Henrietta saat wanita itu sudah berada di hadapannya.
"Aku juga," sahut Henrietta.
"Duduklah," ucap Lucy.
Henrietta mendudukkan bokongnya di kursi yang bersebelahan dengan Lucy.
"Kenapa kita bertemu disini?" tanya Henrietta, karna Lucy mengajaknya bertemu di sebuah salon kecantikan.
"Aku ingin memanjakan rambut dan wajahku, seharian dirumah sakit membuat aku jarang mengurus diri," ucap Henrietta.
"Kupikir menjadi dokter anak tak sesibuk itu," ucap Henrietta.
"Memang, tapi, aku harus selalu ada di rumah sakit saat dibutuhkan, kau tahukan aku masih baru," ujar Lucy sambil terkekeh kecil.
Henrietta dan Lucy pun mengikuti pegawai wanita itu, mereka mendudukkan dirinya di kursi yang berhadapan dengan cermin besar.
Pegawai wanita yang lain datang menghampiri Henrietta. "Ada yang bisa saya bantu nona?"
"Aku ingin memotong rambutku, sampai di bawah bahu saja, jangan terlalu pendek," ujar Henrietta.
Lucy yang mendengar perkataan Henrietta pun sontak langsung melihat kearahnya.
"Anda yakin nona? Rambut anda sangat bagus dan sehat, sayang jika harus di potong sependek itu," ucap pegawai wanita yang menangani Henrietta.
"Hmm," gumam Henrietta.
Pegawai wanita itu tidak bohong, rambut yang dimiliki Henrietta memang indah dan bagus, rambut berwarna coklat gelap bergelombang yang menjuntai indah, setiap helai rambut itu terasa halus dan lembut di tangan.
"Kau yakin Rietta? Kau tak pernah memotongnya sampai sependek itu," ujar Lucy.
"Aku yakin? Apakah salah jika aku ingin rambut pendek?" tanya Henrietta.
"Tidak, hanya tak biasanya saja kau seperti ini," jawab Lucy.
"Aku hanya ingin mencoba suasana baru di tempat yang baru saja," tungkas Henrietta.
"Hmm, terserah kau saja," ucap Lucy.
Henrietta melihat kearah Lucy, dia akan menceritakan masalahnya pada Lucy tapi bukan disini.
__ADS_1
"Rambut anda sangat halus nona, pasti anda merawatnya dengan baik," ujar pegawai tersebut.
"Terima kasih atas pujiannya," balas Henrietta. sambil menyunggingkan senyum cantiknya.
"Nona," panggil pegawai tersebut.
"Iya?" sahut Henrietta.
"Bolehkah kami menyimpan rambut anda untuk di donasikan pada pasien-pasien kanker yang menjalani kemoterapi," tungkas pegawai wanita tersebut.
"Tentu, tentu saja boleh, kalian boleh menyimpannya," ujar Henrietta dengan wajah riangnya.
"Kalau begitu potong juga rambutku," timpal Lucy.
Dua pegawai itu pun langsung mengangguk senang, karna biasanya yang datang ke salon mereka adalah wanita-wanita kaya, entah itu model, anak pengusaha, ataupun artis yang memamerkan kekayaan mereka jika bertemu.
"Salon kami juga melakukan donor darah setiap sebulan sekali," ucap pegawai tersebut sambil melakukan tugasnya.
"Benarkah? Kalau begitu aku akan mampir nanti," ucap Henrietta.
Cukup lama mereka habiskan disalon, lebih tepatnya Henrietta yang menunggu Lucy.
"Sekarang kita akan kemana?" tanya Henrietta saat mereka sudah masuk kedalam mobil milik Lucy.
"Makan siang, aku lapar," tungkas Lucy.
Lucy menjalankan mobilnya untuk mencari restoran ataupun cafe.
"Kau tahu jika Julia mengalami kecelakaan? Beritanya sudah tersebar kemana-mana, ayahmu membuat konferensi pers untuk.menunda pernikahan Julia dan tunangannya, dia memanfaatkan nama besar Henry agar semakin di kenal orang," sindir Lucy.
"Biarkan saja," ucap Henrietta acuh tak acuh.
Dia mengalihkan pandangannya pada jalanan kota yang cukup ramai, ditambah ini sudah masuk jam makan siang.
Lucy mengalihkan pandangannya kearah luar jendela dan dia melihat orang yang di kenalnya keluar dari dalam mobil masing-masing di waktu bersamaan.
Saat itu mobil Lucy berhenti karna lampu merah. "Bukankah itu ayahmu?" tanya Lucy.
Henrietta langsung mengalihkan pandangannya kearah yang dilihat Lucy, disana ayahnya sedang bersama Henry masuk ke salah satu restoran mewah.
"Hmm, mungkin mereka akan membahas bisnis," ujar Henrietta tak terlalu perduli.
"Kita cari cafe saja," sambungnya.
"Baiklah," sahut Lucy.
Dia tak ingin terlalu banyak membahas tentang ayah Henrietta, karna Lucy tahu seberapa tak sukanya Henrietta pada ayahnya sendiri.
"Setelah dari cafe kita ke apartemenmu, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ujar Henrietta.
"Baiklah ... Tapi, di apartemenku ada Matthew tak masalah?" tanya Lucy.
"Tak masalah," tungkas Henrietta.
__ADS_1