PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #57


__ADS_3

Setelah dari restoran Julia memutuskan untuk kembali ke hotel dan kembali pulang ke New York.


"Aku harus menanyakan hal ini langsung pada mommy dan daddy, bisa-bisanya mereka menyembunyikan masalah ini dariku," gerutu Julia di sepanjang lorong hotel.


"Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu karna sudah berani merebut Henry dariku," gumamnya menahan amarah.


Sambil menggeret kopernya Julia memasuki lift, dia bahkan memarahi orang yang baru saja keluar dari lift hanya karna menghalangi jalannya.


"Dia pasti menggunakan kedua anak itu untuk menjerat Henry,"


"SIAL ..." makinya.


*


*


Sementara itu mobil yang di kemudikan oleh Henry memasuki mansion mewah dengan halaman luas.


Setelah mobil berhenti, Maisie langsung keluar begitu saja dan berlari menuju kearah pintu besar itu.


"Maisie," tegur Henrietta karna takut putrinya itu akan tersandung.


"Aku ingin ke toilet mom," sahut Maisie.


Dari arah pintu utama muncul Imelda.


"Kalian baru datang?" tanya Imelda.


"Iya aunty," sahut Henrietta.


"Masuklah dan ajak Henry kedalam," ujar Imelda.


"Kalian sudah makan siang?" tanya Imelda.


"Sudah," jawab Henrietta.


"Sayang gantilah bajumu dan bersihkan tubuhmu," kata Henrietta pada Putranya.


"Baik mom," sahut Asher.


"Dimana Aiden? Apa kalian tidak pulang bersama?" tanya Imelda karna tak melihat putra pertamanya itu.


"Anak-anak menyuruhnya untuk mengantar guru mereka pulang," jawab Henrietta.


"Duduklah disini, apa kau mau kopi?" tanya Henrietta.


"Mm ..." gumam Henry sebagai jawaban.


Henrietta berjalan kearah dapur dan membuatkan kopi untuk Henry.


Henrietta menaruh kopi itu di atas meja yanga ada di hadapan Henry.


Wanita dua anak itu mendudukan dirinya di samping Henry dan berhadapan dengan sang bibi.


"Sepertinya hubungan kalian sudah kembali membaik," goda Imelda dengan menyunggingkan bibirnya.


"Dia menerimaku dengan mudah, aunty," sahut Henry.


"Siapa yang menerimamu dengan mudah," ujar Henrietta.


"Dimana grandpa, aunty?" tanya Henrietta karna sejak tadi dirinya tidak melihat keberadaan sang kakek.


"Dia pergi memancing dengan temannya," jawab Imelda.


"Kalau begitu aunty akan ke dapur dulu, tadi aunty sedang membuat puding untuk si kembar," ujar Imelda.


Imelda pergi dari hadapan Henrietta dan Henry.


"Aku seperti seorang pria yang mendatangi rumah pacar untuk pertama kalinya," kata Henry.

__ADS_1


Henrietta tertawa mendengar perkataan Henry.


"Kau gugup?" tanya Henrietta dan di angguki oleh Henry.


"Santai saja," ujar Henrietta.


Untuk menghilangkan kegugupannya Henry meminum kopi yang di buatkan oleh Henrietta.


"Rasanya masih tetap sama seperti enam tahun yang lalu," ujar Henry.


"Setelah kau pergi. Aku pergi ke Swiss untuk mencari mu, tapi kata pegawaimu kau tidak ada disana," ujar Henry memulai ceritanya.


"Karna aku memang tidak kesana, kakekku langsung membawaku ke Spanyol," kata Henrietta.


"Aku bahkan memukul Matthew karna saking marahnya. Tapi, pria tengik itu tak mengatakan apapun tentangmu," ujar Henry.


"Mungkin dia akan membalasnya setelah bertemu denganmu nanti," ucap Henrietta diiringi dengan tawa.


"Aku ingin secepatnya membawamu ke Amerika dan aku akan membuat pesta pernikahan kita yang belum terlaksana," kata Henry.


Henry mengecup pipi Henrietta yang berada di sampingnya.


"Apakah itu perlu?" tanya Henrietta sedikit ragu.


"Tentu saja, aku ingin mengenalkan-mu dan anak-anak pada semua orang. Mereka harus tahu bahwa aku benar-benar sudah menikah," jelas Henry.


"Kenapa? Apa kau tak senang?" tanya Henry.


"Tidak, aku senang. Hanya saja aku sedikit khawatir tentang anak-anak," ujar Henrietta.


"Kau tenang saja,ada aku yang akan melindungi kalian bertiga, aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti anak-anakku dan juga dirimu," tekad Henry.


"Kenapa anak-anak sangat lama," kata Henry.


"Tunggu disini, biar aku melihat mereka dulu," ujar Henrietta.


"Aku ikut denganmu, aku juga ingin melihat kamar anak-anak," sahut Henry.


Henrietta membuka pintu yang ada di samping kamarnya.


Dia melihat putri kecilnya yang sudah tertidur sambil memeluk boneka beruang kesayangannya.


"Dia tertidur," ucap Henrietta yang mengusap kening putrinya.


Henrietta menyalakan AC yang ada di kamar putrinya agar tak merasa kegerahan.


"Mungkin dia terlalu lelah," ucap Henry.


Setelah dari kamar Maisie, mereka berjalan menuju kamar Asher yang berada di samping kamar saudarinya.


"Asher juga tertidur," ucap Henrietta.


"Ayo kita keluar, mereka sama-sama lelah sepertinya," kata Henry dan di angguki oleh Henrietta.


"Dimana kamarmu?" tanya Henry.


"Itu, di samping kamar Maisie," jawab Henrietta sambil menunjuk pintu yang bercat putih.


Henry menarik tangan Henrietta dan membawanya masuk kedalam kamar wanita itu.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Henrietta.


Henry menutup pintu itu dan menguncinya.


"Henry buka pintunya, bagaimana kalau kakekku datang," kata Henrietta.


"Memang kenapa? Bukankah kakekmu sudah tahu jika kita sudah menikah," jawab Henry dengan santai.


"Tapi--"

__ADS_1


Langsung saja Henry membungkam bibir Henrietta dengan bibirnya.


Pria itu mencium wanita yang ada di dalam dekapannya dengan lembut.


Henrietta bahkan mengalungkan tangannya di leher Henry.


Henry memeluk Henrietta dengan erat, tangan Henry berpindah ke tengkuk Henrietta dan memperdalam ciumannya.


Tok ...


Tok ...


Tok ...


Henrietta menghentikan ciumannya karna ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Aku harus membuka pintu dulu," ujar Henrietta.


"Nanti saja," sahut Henry dan mencium bibi Henrietta lagi.


Tapi, ketukan itu tak berhenti dan malah semakin keras.


"Henry ..." tegur Henrietta.


"Shitt ..." umpat Henry.


"Kau mengumpat padaku?" tanya Henrietta dengan mata tajamnya.


"Tidak honey," sanggah Henry cepat.


Henrietta berjala kearah pintu dan membukanya.


"Kenapa lama sekali?" kesal seorang pria di luar pintu.


"Ada apa kak?" tanya Henrietta.


"Ini kunci mobilmu," ucap Aiden.


"Jika ingin bermesraan nanti malam saja, ini masih siang," gerutu Aiden kesal.


"Diam lah kak ... Cepat pergi sana," usir Henrietta dan menutup pintu itu lagi.


"Ck ... Bisa-bisanya dia mengusir kakaknya, kalau buka karna aku pria itu tidak mungkin ada disini," gerutu Aiden sambil berjalan meninggalkan kamar Henrietta.


Henrietta memalingkan wajahnya dan melihat Henry yang sedang melihat-lihat kamarnya.


"Nanti kita akan membuat foto keluarga dan memajangnya di ruang tamu mansion kita dengan ukuran yang besar," celetuk Henry.


"Aku tak sabar untuk segera membawamu pulang, aku juag sudah membuat mansion baru untukmu," ucap Henry.


"Lalu mansion lama-mu?" tanya Henrietta.


"Aku menjualnya, di mansion itu aku terlalu banyak menyakitimu. Jadi aku menjualnya dan membuat yang baru," jawab Henry.


Henrietta berjalan mendekat kearah Henry dan memeluk pria itu dari belakang.


"Ada untungnya juga aku menggantikan posisi Julia," ucap Henrietta.


"Kenapa begitu,"


"Karna aku bisa bertemu denganmu dan menikah denganmu," jawab Henrietta.


"Sepertinya setelah ke New York aku harus menemui ayahku dan berterima kasih padanya," kata Henrietta di sertai dengan sindiran untuk ayahnya.


"Ayah?" tanya Henry bingung.


"Mm ... Marco Sergei adalah ayah kandungku," jawab Henrietta.


Dan seketika Henry membalikan tubuhnya dan menangkup pipi wanita yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau melewatkan ini?" ujar Henry.


"Ceritanya sedikit panjang dan rumit, aku akan menceritakannya nanti malam," jawab Henrietta sambil mengecup bibir Henry.


__ADS_2