PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #18


__ADS_3

Keesokan paginya Henrietta mendapati Henry yang sudah bangun lebih dulu dari dirinya.


"Siapkan barang-barangmu, kita akan ke Swiss pagi ini," ucap Henry.


Henrietta sontak saja kaget karna Henry tak memberitahunya di awal.


"Kenapa mendadak sekali? Orang tua-mu juga masih ada di sini," ujar Henrietta.


"Mereka juga akan kembali ke Kanada pagi ini," seru Henry.


Henrietta langsung berlari keluar dari kamarnya untuk menemui ibu mertuanya.


Biasanya ibu mertuanya akan berada di dapur.


"Mom ...." ujar Henrietta dengan nada suara sedikit keras.


"Iya sayang," sahut Emma.


"Mom, Henry bilang kalian akan kembali hari ini," ujar Henrietta.


"Iya, Henry bilang dia akan membawa-mu ke Swiss, daddy juga ada urusan besok, jadi kami harus segera kembali," ucap Emma.


"Kenapa mendadak sekali, kalian tak memberitahu-ku sebelumnya," lirih Henrietta.


"Daddy juga dapat panggilannya mendadak," ucap Emma.


"Cepatlah bereskan barang yang akan kau bawa, Henry orang yang tak suka menunggu," ujar Emma.


Henrietta hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Setelah selesai kembalilah kemari, kita sarapan dulu sebelum pergi," teriak Emma karna Henrietta sudah berada di ujung tangga.


Henrietta kembali ke kamarnya, dia melihat Henry yang sudah rapi dengan pakaian santainya.


"Kau tak mengemasi barang-barangmu?" tanya Henrietta karna dia tak melihat koper-koper milik Henry.


"Tidak, aku tinggal membelinya saja, lebih baik kau juga jangan membawa banyak pakaian, bawa saja barang yang memang kau perlukan, sisanya kita bisa membelinya disana," ujar Henry.


"Tidak, itu namanya pemborosan, aku akan tetap membawa baju-bajuku sedikit, lagi pula disana juga ada rumahku, jadi aku tak perlu membeli baju baru," balas Henrietta.


"Terserah kau saja," tungkas Henry.


"Setelah selesai turunlah kebawah," ujar Henry dan mendapat anggukan dari Henrietta.


Henrietta mengemasi beberapa pakaiannya kedalam koper kecil, dia juga membawa beberapa barang seperti laptop.


Rencananya Henrietta juga akan membawa beberapa pakaian dari sana untuk dibawa kembali ke New York.


Setelah semuanya sudah beres dan tertata rapi di dalam koper Henrietta akhirnya keluar dari kamar sambil membawa koper tersebut.


Seorang pelayan yang kebetulan lewat di depan pintu kamar Henrietta melihat itu dan membantunya.

__ADS_1


"Biarkan saya saja nyonya," ujar pelayan tersebut.


"Tidak apa, biar aku saja, lagi pula ini juga tidak berat," tungkas Henrietta.


"Tak apa nyonya, biar nanti saya langsung bawa ke mobil," ujar pelayan tersebut.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih Mia," ucap Henrietta sambil menampilkan senyumannya.


"Sama-sama nyonya, ini memang sudah tugas saya," ujar pelayan yang bernama Mia itu dengan sopan.


Henrietta kembali melanjutkan jalannya menuju ruang makan yang ternyata sudah ada Henry beserta ayah dan ibunya.


"Maaf aku terlalu lama," ujar Henrietta.


"Tidak apa-apa sayang, duduklah," ujar Emma.


Henrietta duduk di samping Henry.


"Selama kalian disana tinggal-lah dirumah Rietta," ujar Elijah pada Henry.


"Iya dad," jawab Henry.


"Mommy harap saat kalian pulang dari Swiss mommy dapat mendengar kabar baik dari kalian," ujar Emma tersenyum senang.


"Mom, aku kesana bukan untuk bulan madu, aku hanya akan melihat pembangunan hotelku dan Rietta sekalian melihat restorannya," ucap Henry.


"Apa salahnya kalian sekalian bulan madu disana, tak akan ada yang tahu masa depan Henry, siapa tahu kau melakukan sesuatu nanti pada Rietta," ucap Emma dengan gamblangnya.


Ibu mertuanya begitu menginginkan dia dan Henry dekat, secara tak langsung ibu mertuanya juga berharap dia bisa hamil.


"Rietta makanlah, kenapa kau diam saja? Apa makanannya tak enak?" ujar Emma.


"I-ini sangat enak mom, aku hanya berpikir saja, berapa lama kita disana?" ujar Henrietta sedikit gugup, kini fokus Rietta tertuju pada Henry.


"Mungkin satu minggu," balas Henry.


Henrietta hanya menganggukkan kepalanya dan kembali menyantap makan pagi yang di masak oleh ibu mertuanya.


"Jam berapa kalian akan berangkat?" tanya Emma.


"Setelah makan pagi, apa daddy dan mommy akan langsung pulang?" tanya Henry.


"Kami akan mengantar kalian ke bandara dulu, setelah itu daddy akan mengantar mommy-mu untuk bertemu dengan teman lamanya, dan mungkin kami akan kembali setelah makan siang," jelas Elijah.


Henry mengangguk tanda dia mengerti dengan perkataan sang ayah.


"Jaga Rietta selama dia disana," ujar Emma pada Henry.


"Ya mom ..." Sahut Henry.


"Rietta, selama kau tinggal disana apa kau punya teman?" tanya Emma.

__ADS_1


"Sayang habiskan dulu makananmu baru kau bisa ajak Rietta bicara," tegur Elijah pada sang istri.


"Aku juga sedang makan, aku hanya bertanya karna penasaran, lagi pula kita tidak sempat mengobrolkan ini," ujar Emma pada suaminya.


Sebenarnya Elijah sangat tak suka jika ada yang mengobrol saat makan, tapi pada sang istri itu menjadi pengecualian, apalagi istrinya sangat menyukai Rietta.


Elijah hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah sang istri.


"Ada, kami cukup dekat," balas Emma.


"Siapa namanya?" tanya Emma penuh semangat.


"Luke," jawab Henrietta sambil tersenyum.


"Oh ... Apa kalian pernah menjalin hubungan sebelumnya hingga kalian bisa dekat," goda Emma.


Henry dengan refleks melihat kearah sang ibu.


"Tidak, kami tak memiliki hubungan apapun, itu semua bermula karna uncle James ayah Luke menyukai mommy sebelumnya," ujar Henrietta setelah menyelesaikan sesi makan paginya.


"Oh benarkah?" kaget Emma.


"Iya, dulu saat kami baru beberapa bulan tinggal di Swiss dan mommy sudah membuka restoran, uncle James sering kesana hanya untuk sekedar makan atau bertemu mommy, uncle James juga sempat melamar mommy, tapi mommy selalu menolaknya karna mungkin waktu itu mommy belum siap, tapi uncle James tak pernah menyerah agar bisa mendapatkan mommy, tapi saat mommy akan menerima lamaran uncle James ternyata Tuhan lebih sayang pada mommy," jelas Henrietta dengan lirih.


Henrietta kembali melanjutkan ceritanya saat melihat semua mata tertuju pada dirinya.


"Dulu bahkan saat mommy sudah tak ada uncle berencana untuk menjodohkan aku dengan anaknya," ujar Rietta sambil terkekeh kecil.


"Ohh … Benarkah itu?" ucap Emma.


"Ayo, kita pergi sekarang," timpal Henry yang sudah menyelesaikan makannya sedari tadi dan menghentikan Henrietta untuk bercerita lagi.


"Hey ... Kenapa buru-buru sekali," ujar Emma tak suka pada putranya karna menghentikan cerita Henrietta.


"Kita akan ketinggalan pesawat," kilah Henry.


"Jangan banyak berkilah Henry, mommy tahu kau pakai pesawat pribadi," ujar Emma menatap tajam putra tunggalnya itu.


"Biarkan mereka pergi, kau bisa mengobrol lagi dengan Rietta di mobil," ujar Elijah menengahi.


"Awas kau ..." ujar Emma memperingati putranya.


"Koper-mu sudah di mobil kan?" tanya Henry.


"Hmmm,"


"Kalau begitu ayo ..." ujar Henry.


Mereka berempat keluar dari mansion dan berjalan kearah mobil yang sudah disiapkan.


Dan ditengah-tengah perjalanan pun Emma menyuruh Henrietta untuk melanjutkan lagi ceritanya.

__ADS_1


Elijah hanya tersenyum melihat wajah datar Henry.


__ADS_2