PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #78


__ADS_3

Hari ini Henrietta pergi untuk mengantar anak - anaknya ke sekolah.


"Mom," seru Maisie.


"Yes, honey," sahut Henrietta.


"Aku ingin memiliki adik seperti Ital," ujar Maisie


"Bisakah mommy memberikannya?" tanya Maisie.


"Kau akan mendapatkannya nanti, baby," ucap Henrietta.


"Benarkah?" tanya Maisie dengan nada yang terdengar sangat bahagia.


"Hmm," sahut Henrietta.


Hingga pembicaraan itu pun berlanjut dengan Maisie yang menceritakan teman temannya di sekolah.


Mobil yang membawa Henrietta dan kedua anak kembarnya memasuki halaman taman kanak kanan dimana si kembar belajar.


"Belajar yang rajin. Mommy akan menjemput kalian nanti," kata Henrietta.


"Iya, mom ..." sahut Asher dan Maisie bersamaan.


Asher dan Maisie keluar dari dalam mobil dan diikuti oleh Henrietta.


Wanita cantik yang kini sudah menjadi seorang ibu itu menciumi pipi kedua anaknya.


"Jangan nakal. Jadilah gadis manis dan baik," Henrietta mencolek hidung kecil Maisie dan tersenyum.


"Oke, mom," ucap Maisie.


"Jaga adikmu," ujar Henrietta pada Asher.


"Iya, mom," sahut Asher dengan eskpresi wajah seperti biasanya.


"Bye, mom ..." pamit Maisie sambil melambaikan sebelah tangannya pada sang ibu, dan begitu pun dengan Asher.


"Bye, honey ..." balas Henrietta yang juga melambaikan tangannya.


Maisie memegang tangan Asher sembari berjalan masuk kedalam gedung sekolah mereka.

__ADS_1


Setelah memastikan kedua anaknya sudah masuk kedalam sekolah, Henrietta pun masuk kedalam mobil.


"Kita ke rumah sakit, Julius," kata Henrietta.


"Baik, nyonya," sahut Julius.


Julius pun menancapkan gas mobil hingga mobil melaju meninggalkan area sekolah kedua anak Henrietta.


Ponsel Henrietta berdering dan itu menandakan ada panggilan masuk, setelah melihat nama yang tertera di layar ponsel Henrietta pun langsung mengangkatnya.


"Ya, honey ..." ujar Henrietta.


"Kau sudah mengantarkan anak anak?" tanya Henry.


"Ya," jawab Henrietta.


"Kau akan langsung pulang?" tanya Henry lagi.


"Tidak, aku akan melihat kondisi Olivia di rumah sakit," jawab Henrietta.


"Kedua orang tuanya akan sampai New York besok dan akan langsung membawanya ke Jepang jika kondisinya memungkinkan," kata Henry.


"Benarkah?" tanya Henrietta.


"Setelah dari rumah sakit langsung pulang saja. Biar aku yang menjemput anak anak," ucap Henry.


"Kau tidak sibuk?" tanya Henrietta.


"Tentu saja tidak. Aku hanya ada meeting pagi ini saja," jawab Henry.


"Baiklah," ucap Henrietta.


"Sampai ketemu di rumah. I love you," ujar Henrietta.


"I love you too," balas Henry hingga panggilan pun berakhir.


*


*


Setengah jam kemudian Henrietta sudah sampai di rumah sakit milik keluarga suaminya.

__ADS_1


Wanita cantik itu keluar dari mobil dan berjalan masuk menuju lobby rumah sakit.


Sementara Julius memarkirkan mobilnya.


Henrietta masuk kedalam lift yang akan membawanya ke lantai di mana Olivia di rawat.


TING


Henrietta keluar dari dalam lift setelah pintu lift terbuka dengan sendirinya.


Henrietta melangkahkan kakinya menuju kamar di kamar perawatan Olivia yang masih koka sampai saat ini.


"Dokter?" sapa Henrietta saat melihat dokter yang menangani Olivia keluar dari kamar perawatan.


"Nyonya," balas dokter tersebut sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Apakah ada perkembangan?" tanya Henrietta.


"Kondisinya masih sama," jawab dokter yang bisa di perkirakan seusia dengan Henrietta.


"Boleh aku melihatnya?" tanya Henrietta yang meminta izin terlebih dahulu.


"Silahkan, nyonya," jawab dokter tersebut.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Jika ada sesuatu anda bisa memanggil melalui bell yang ada di dekat ranjang pasien," ujar dokter tersebut.


"Baik, terima kasih dokter," ucap Henrietta.


Henrietta pun masuk kedalam kamar perawatan Olivia, dia melihat berbagai alat yang menempel di tubuh Olivia untuk menunjang kehidupan gadis muda tersebut.


Henrietta duduk di kursi yang ada di samping ranjang.


Wanita itu memegang tangan Olivia yang terpasang alat medis.


"Terima kasih karena sudah menyelamatkanku," ucap Henrietta dengan lirih.


"Cepatlah pulih. Aku berhutang nyawa padamu," ujarnya lagi.


Henrietta mengusap ujung matanya saat air matanya akan keluar.


"Kau tahu? anak perempuanku sangat ingin bertemu denganmu," pungkas Henrietta dengan anda suara yang mulai bergetar.

__ADS_1


Karena tak mendapat jawaban dan hanya berbicara sendiri, Henrietta pun menghentikan pembicaraannya dan hanya diam sambil memandangi wajah pucat Olivia yang terdapat selang oksigen di mulutnya.


__ADS_2