PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #22


__ADS_3

"Kenapa kau selalu melihat kesana?" ujar Clara yang merasa jika Luke tak melihat kearahnya.


Dia pun berbalik dan mengikuti arah pandang Luke.


"Berhentilah menatap kesana, bola matamu akan keluar jika melihat mereka terus," kesal Clara, karna sedari tadi Luke memperhatikan interaksi antara Henrietta dan Henry.


Luke akhirnya melihat kearah Clara dengan wajah dingin.


"Aku hanya ingin tahu ada hubungan apa antara Rietta dan Henry," kata Luke.


Luke cukup tahu dan kenal siapa pria yang sedang bersama Henrietta sekarang, pria yang sedang naik daun di dunia bisnis.


"Itu urusan mereka," sungut Clara.


Luke melihat Clara dengan tajam.


"Aku mau pulang," ucap Clara akhirnya.


"Pulanglah, aku masih ingin disini," balas Luke dengan santai nya dan tak merasa bersalah sedikit pun.


Clara di buat menganga dengan perkataan Luke, dia berdiri dari duduknya dengan rasa kesal yang menumpuk di kepalanya.


Dia berjalan pergi dan meninggalkan Luke sendirian.


Saat berjalan melewati meja Henrietta dan Henry, Clara terlihat berhenti dan menatap Henrietta dengan kesal.


'Awas kau, ini semua karna kau,' pikir Clara.


Sementara Henrietta yang merasa di tatap seperti itu pun tak terlalu memperdulikannya dan kembali melanjutkan makannya.


Sementara Henry juga melihat kearah Clara yang berhenti sebentar saat melewati mereka, dia melihat Clara dengan mata tajamnya.


"Siapa dia? Kau mengenalnya?" tanya Henry.


"Tidak, dia cuma pacar baru Luke," jawab Henrietta dengan santai.


Henry memicingkan matanya saat mendengar nama Luke.


Saat Henry sudah selesai dengan makanannya, tiba-tiba ada yang menghampirinya dan menyapanya.


"Tuan Henry!" sapa Luke yang sudah ada di antara mereka.


Henry melihat kearah pria tinggi yang berdiri di depannya.


"Saya tidak menyangka jika anda akan datang kesini," Luke hanya sekedar berbasa-basi sambil menyunggingkan senyumnya.


"Perkenalkan saya Luke Robinson, orang tua kita dulu pernah menjalin kerjasama," lanjutnya.


Henry menerima jabatan tangan dari Luke sebagai tanda memperkenalkan diri.


Henry mengalihkan tatapannya pada Henrietta.


Luke yang sadar akan itu pun kembali membuka mulutnya.


"Saya juga tidak menyangka jika anda mengenal adik saya," ujar Luke.


'Pria ini kenapa banyak bicara sekali,' pikir Henrietta sambil menatap tajam Luke agar tidak mengatakan apapun lagi.


"Adik?" ucap Henry.


"Iya adik, ahh ... Mungkin lebih tepatnya calon suami yang langsung di tolak olehnya," seloroh Luke.


Dengan sengaja Henrietta menginjak kaki Luke cukup keras.


Luke yang merasakan itu pun mencoba untuk menahannya dan masih mempertahankan sikap jantannya.

__ADS_1


Henry menatap tak suka pada perkataan yang baru saja di ucapkan oleh mulut Luke.


"Kalau boleh tahu dengan siapa anda datang kesini?" tanya Luke.


"Dengan dia," tunjuk Henry santi pada Henrietta.


Henrietta di buat terkejut dengan ucapan yang terlewat jujur dari Henry.


"Ohh benarkah?" ucap Luke yang langsung melihat kearah Henrietta seolah-olah sedang mencari jawaban.


Henrietta yang merasa mulai tersudut pun mengalihkan pandangannya kearah lain dan tak melihat dua pria itu.


"Kebetulan sekali jika anda mengenal Rietta-ku, datanglah bersama saat makan malam di rumah kami," ujar Luke.


"Tentu," pungkas Henry.


Henrietta tak percaya jika Henry akan langsung menyetujui ajakan dari Luke.


Henrietta dan Luke saling pandang seolah-olah mata mereka bisa saling berkomunikasi.


Dan akhirnya Luke pun pamit pada mereka berdua dan akan membahas masalah ini dengan ayahnya, karna bagaimana pun Henrietta sudah seperti keluarga bagi dirinya dan ayahnya.


"Dia Luke yang kau bicarakan akan di jodohkan dengan dirimu itu?" tanya Henry setelah Luke pergi.


"Mm ..."


Entah mengapa Henry merasa ada rasa tak suka saat mengatakannya.


"Tapi itu dulu, Itu hanya ungkapan spontan uncle James, karna ingin menjadikan aku putrinya," jelas Henrietta.


"Kau akan pulang sekarang?" ujar Henrietta untuk mengganti topik pembicaraan lain.


"Tidak, kita akan pulang bersama," putus Henry mutlak.


"Tunggulah sebentar lagi, aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu," ucap Henrietta dan meninggalkan Henry sendirian.


Sembari menunggu Henrietta, Henry memesan segelas kopi.


Hingga pukul dua siang Henrietta baru menyelesaikan pekerjaannya.


Dia keluar dari ruang kerjanya, berjalan menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri Henry hang sedang fokus dengan ponselnya.


"Ayo kita pulang! Aku sudah selesai," kata Henrietta.


Henry mengalihkan pandangannya dari ponsel ke Henrietta, dia langsung berdiri dari duduknya dan membenarkan pakaiannya yang terlihat kusut.


"Maaf, aku terlalu lama," ungkap Henrietta yang merasa bersalah karna membuat Henry menunggunya terlalu lama.


"Tak masalah," balas Henry.


Sebelum pulang Henrietta memanggil Milly terlebih dahulu.


"Milly! Aku titip restoran, besok aku akan kembali lagi," ujar Henrietta.


"Baik nona, hati-hati dijalan," pungkas Milly menyunggingkan senyumnya.


Milly sempat melihat kearah Henry yangs sedari tadi bersama Henrietta.


"Apa itu pacar nona?" gumam Milly.


Henry berjalan terlebih dulu dan di ikuti oleh Henrietta di belakangnya.


"Kau tak membawa mobil?" tanya Henrietta.


"Tidak, aku suruh orang semalam membawanya lagi," jawab Henry.

__ADS_1


"Kalau begitu kita naik taksi saja," usul Henrietta.


Henrietta memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat di depan mereka.


Setelah taksi berhenti Henrietta masuk dan duduk di kursi belakang, dan begitupun dengan Henry yang duduk di samping Henrietta.


Taksi melaju dengan kecepatan sedang, setelah Henrietta memberitahu alamat rumahnya.


Tapi, tanpa mereka sadari, sedari tadi saat mereka masih berada di dalam restoran dari kejauhan terlihat seseorang yang mengambil gambar mereka berdua beberapa kali dan menghubungi seseorang setelah mengirimkan hasil gambarnya.


Tak terasa akhirnya taksi yang di tumpangi oleh Henrietta dan Henry berhenti tepat di pekarangan rumah milik Henrietta.


Setelah Henry membayar, taksi itu pun langsung pergi menjauh meninggalkan rumah Henrietta.


mereka pun langsung masuk kedalam.


Saat masuk Henrietta kaget, karna terdapat banyak sekali paper bag dari yang ukurannya besar sampai ukuran kecil.


"Punya siapa ini?" gumam Henrietta.


Henry yang masih mendengar dengan jelas gumaman Henrietta pun membalasnya.


"Punyaku,"


"Aku menyuruh orang-ku yang ada disini untuk membawakan aku baju ganti," lanjutnya.


"Sebanyak ini?" Henrietta di buat menganga oleh Henry.


"Tentu saja, aku juga akan menyimpannya disini, siapa tahu nanti aku kembali lagi kesini," ujar Henry dan melengos pergi menuju kamar milik Henrietta.


Setelah tersadar dari rasa terkejutnya, Henrietta mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Lucy jika dia sudah sampai di Swiss.


Cukup lama mereka mengobrol, bahkan sesekali Henrietta akan tertawa mendengar cerita dari sahabatnya itu.


Tok ... Tok ...


"Aku tutup dulu teleponnya, ada yang mengetuk pintu rumahku," ujar Henrietta.


"Baiklah, bye!" sahut Lucy di sebrang telpon.


Henrietta pun mengakhiri panggilannya dan berdiri dari duduknya.


Dia pun berjalan kearah pintu masuk dan membukanya.


"Nenek Mey?" ujar Henrietta.


"Ada apa nenek?" sambungnya.


"Aku membawakan puding untukmu dan juga temanmu," ujar nenek Mey.


"Seharusnya kau tak perlu repot-repot nenek," ungkap Henrietta merasa tak enak.


"Tidak apa-apa, kau juga sudah membantuku tadi pagi," ujar nenek Mey.


"Kalau begitu aku tak akan sungkan nenek," canda Henrietta sambil tertawa kecil.


"Jangan memakan semuanya, sisakan untuk temanmu," goda nenek Mey.


"Aku akan memakan semuanya nenek,"


Nenek Mey dan Henrietta pun tertawa mendengar candaan Henrietta.


Setelah nenek Mey pamit pergi Henrietta membawa puding yang di dalamnya terdapat beberapa buah-buahan.


Dia menaruh puding itu kedalam lemari pendingin dan akan memakannya setelah mandi.

__ADS_1


__ADS_2