
Henrietta terlihat sedang bersiap-siap untuk menghadiri pesta pernikahan sahabatnya, Lucy.
Pagi tadi Henrietta juga mendampingi Lucy sebagai bridesmaid-nya dan malam ini dia akan datang sebagai tamu bersama Henry.
Henrietta tampak sedang berkaca di depan cermin, dia memoleskan lipstik bewarna merah di bibirnya dan menambah kesan sexy.
Setelah selesai dengan area wajahnya, Henrietta kini beralih dengan rambutnya yang sudah sedikit lebih panjang, dia akan menggerai rambutnya dan membuatnya sedikit bergelombang.
Saat Henrietta sudah selesai dan akan memakai parfum-nya, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka.
Dari arah cermin Henrietta dapat melihat keberadaan Henry di ambang pintu.
Pria itu berjalan kearah istrinya, dia melihat punggung terbuka Henrietta dan menggeram rendah.
"Kenapa kau memakai pakaian ini," bisik Henry yang ada di belakang Henrietta.
"Memangnya kenapa?" bingung Henrietta.
"Kau tahu kan? Jika udara di malam hari sangat dingin, dan kau memakai pakaian kurang bahan seperti ini,"
Sebenarnya itu adalah alasan Henry saja, dia hanya tidak ingin tubuh istrinya di lihat orang lain.
"Ini di dalam gedung, pasti ada penghangat ruangannya," ujar Henrietta.
Yang menyemprotkan parfum ke beberapa titik tubuhnya.
Henry yang tepat berada di belakang Henrietta pun otomatis dapat mencium wangi dari parfum itu.
"Kenapa wanginya berbeda," ujar Henry yang semakin merapatkan dirinya pada sang istrinya.
"Ini wangi baru, aku membelinya kemarin saat mencari gaun untuk Della," balas Henrietta.
Henry menumpu dagunya di bahu Henrietta dan sesekali mengecup leher jenjang istrinya.
"Sangat harum," bisik Henry.
"Henry hentikan," seru Henrietta yang kegelian karna Henry terus saja menciumi bahu dan lehernya.
Apa kita tetap harus pergi?" tanya Henry.
Dia lebih ingin mengurung Henrietta di dalam kamar dari pada membawa wanita itu keluar.
"Tentu saja kita harus pergi, itu pesta pernikahan sahabatku, dan kau juga di suruh daddy untuk datang kesana, karna Matthew adalah anak dari kenalan daddy," ujar Henrietta.
"Kalau begitu gantilah dengan pakaian yang lebih tertutup," ucap Henry.
"Tidak bisa! Ini sudah sangat cocok, jika aku ganti lagi itu akan memerlukan banyak waktu lagi," tolak Henrietta.
"Ganti atau tak boleh pergi," ancam Henry.
"Aku bisa pergi sendiri," balas Henrietta tak mau kalah.
Henry tampak menghembuskan napasnya dengan kasar, sedangkan Henrietta hanya tersenyum senang.
__ADS_1
"Baiklah, Ayo ... Kita tidak boleh terlambat," ujar Henrietta yang menggandeng tangan Henry dan membawanya keluar dari kamar.
Henry terus saja melihat pakaian yang di kenakan Henrietta. Bagaimana Henry tidak protes jika Henrietta memakai pakaian berbahan satin berwarna merah dengan bertali spaghetti, punggung terbuka dan belahan setinggi paha.
Gaun itu sungguh pas melekat di tubuh ramping Henrietta menambah kesan sexy dan dewasanya.
"Apa Della sudah pergi?" tanya Henrietta sembari menuruni anak tangga bersama Henry.
"Mm ... Bocah itu menjemputnya kemari," ujar Henry.
Yang di maksud dengan bocah itu oleh Henry adalah Leo, Henrietta terkekeh saat Henry tidak mau menyebutkan nama Leo.
"Namanya Leo ... Bukan bocah itu," ujar Henrietta.
"Lagi pula umurnya hanya berbeda satu tahun denganku," lanjutnya.
Henry hanya diam dan tidak membalas perkataan Henrietta.
Mereka berjalan beriringan sampai di luar pintu utama, dan disana sudah ada mobil yang akan membawa mereka.
Henry membukakan pintu mobil untuk Henrietta.
"Terima kasih," ucap Henrietta menyunggingkan senyumnya yang terkesan sexy karna lipstik merahnya.
Henry berjalan kearah lain dan pintunya sudah di bukakan oleh sopir yang akan mengantar mereka.
Henry mendudukkan dirinya disamping Henrietta dan membawa tangan wanita untuk dia genggam.
"Apa kau tak kedinginan? Tanganmu sangat dingin," ujar Henry sembari memberi kehangatan pada tangan Henrietta.
"Setelah ini pakailah pakaian yang lebih tebal, sebentar lagi akan musim dingin," ujar Henry dan mendapat anggukan dari Henrietta.
"Kenapa sahabatmu itu harus menikah saat akan memasuki musim dingin," kesal Henry.
"Berhentilah bicara dan duduk dengan tenang," ujar Henrietta merasa gemas dengan suaminya.
Henrietta membenarkan letak dasi kupu-kupu Henry yang miring.
Di sepanjang perjalanan tidak ada obrolan lagi diantara mereka, hanya tangan mereka saja yang sibuk saling menggenggam.
Hingga tak berapa lama kemudian mobil yang membawa Henrietta dan Henry pun berhenti di sebuah hotel mewah yang berada di pusat kota New York.
Henrietta menolehkan kepalanya guna melihat area sekitar.
Disana dia bisa melihat beberapa orang yang sepertinya baru datang dan juga banyak-nya media.
"Ayo," ujar Henry yang sudah membukakan pintu mobil Henrietta.
Tapi, Henrietta tak terlihat beranjak sedikitpun dari kursinya.
"Apa kau yakin kita akan masuk kedalam bersama?" ujar Henrietta yang terlihat ragu.
"Mm ..." jawab Henry.
__ADS_1
Henry mengulurkan tangannya pada istrinya.
Henrietta terlihat ragu, seketika keberaniannya menyurut saat melihat banyaknya media berkumpul disana.
"Tidak apa-apa," ujar Henry seolah tahu apa keraguan sang istri.
Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya Henrietta menerima uluran tangan milik Henry.
Mereka berjalan berdampingan dengan tangan Henry yang merangkul pinggang ramping Henrietta.
Kini mata semua wartawan tertuju pada sesosok pasangan yang melintas di depan mereka, bahkan ada beberapa wartawan yang mengajukan pertanyaan pada Henry.
Tapi pria itu sama sekali tidak memperdulikan pertanyaan-pertanyaan dari para wartawan dan tetap berjalan masuk kedalam hotel sambil merangkul Henrietta.
Dari kejauhan, tepatnya disudut hotel seseorang sedang memperhatikan mereka berdua.
"Kau gugup?" tanya Henry karna Henrietta memegang ujung jasnya.
"Iya ..." jawab Henrietta.
Setelah mereka sampai di aula pesta semua mata kini juga menyoroti mereka, lebih tepatnya wanita yang di bawa oleh Henry.
"Kalian sudah datang ..." terdengar suara nyaring dari Lucy yang datang bersama Matthew.
Henrietta terlihat menghembuskan napasnya dengan lega setelah melihat kedatangan mereka berdua.
Lucy langsung memeluk Henrietta dan berbisik pada wanita itu. "Kami menyelamatkanmu,"
"Terima kasih sudah mau berkenan hadir di pesta pernikahan saya tuan Henry," ujar Matthew mengulurkan tangannya.
"Selamat atas pernikahan anda tuan Matthew," Henry membalas uluran tangan Matthew.
"Semoga anda menikmati pestanya," ujar Matthew.
"Tentu," jawab Matthew.
Dari kejauhan sepasang mata menatap tak suka akan kehadiran Henrietta.
"Anak itu juga datang kesini," gumam seorang wanita yang tidak lain adalah Dorothy.
Marco yang sedang mengobrol dengan salah satu pengusaha pun mendengar gumaman sang istri yang berada di sampingnya.
Dia mengikuti arah pandang istrinya dan melihat Henrietta yang datang bersama Henry.
Dan pemandangan itu pun di lihat oleh salah satu kenalan Marco yang di ajaknya mengobrol.
"Bukankah itu Henry? Tapi kenapa dia datang dengan wanita lain? Bukankah dia masih tunangan putri anda tuan Marco?" ujar pria pada Marco.
"Benar, dia masih tunangan putri saya ... Mungkin wanita itu hanya teman Henry untuk sekedar menemaninya," kilah Marco.
"Anak itu mulai berani," bisik Dorothy pada suaminya.
"Dia sudah terang-terangan menunjukan dirinya pada semua orang dengan menempel pada Henry," ujarnya memanas-manasi Marco.
__ADS_1
Dari sisi Henrietta pun dia dapat melihat keberadaan ayah dan ibu tirinya yang juga berada di pesta itu.
Dia dapat melihat wajah tak suka ibu tirinya saat melihat datangannya.