PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #32


__ADS_3

Hari-hari Henrietta lewati dengan suka cita, hubungannya dengan Henry semakin hari semakin baik.


Sejak percintaan pertama mereka Henry semakin gencar melakukannya dengan Henrietta.


"Kau akan ke perusahaan hari ini?" tanya Henrietta sambil menyerahkan mantel pada suaminya.


"Mm ... Aku hanya sebentar tidak akan lama," ujar Henry.


Karna sekarang sudah memasuki musim dingin jadi jalanan sudah penuh dengan salju.


Dan setiap musim dingin perusahaan Henry memberi kebijakan untuk beroperasi hanya sampai jam makan siang saja.


"Jangan berkendara terlalu cepat, pelan-pelan saja ... Jalanan di luar sangat licin," ujar Henrietta memperingati Henry.


"Aku tahu, kau selalu mengatakan itu setiap hari," ujar Henry.


"Aku hanya memberitahu," gerutu Henrietta.


"Kau akan keluar hari ini?" tanya Henry.


"Tidak, aku hanya akan berada di mansion," jawabnya.


"Baguslah," pungkas Henry.


"Aku sudah janji pada Della untuk mengajarinya membuat kue," ucap Henrietta.


Henry sudah terlihat rapih dengan jas dan juga mantelnya.


"Kau tak membawa sarung tangan," ucap Henrietta.


Lantas Henry mengeluarkan sarung tangan yang ada di saku mantelnya dan memperlihatkannya pada Henrietta.


"Pakailah, ini bukan untuk menghiasi sakumu, tapi untuk kau pakai," pungkas Henrietta dan memakaikan sarung tangan itu di tangan besar Henry.


"Kenapa tanganmu selalu hangat," ujar Henry yang malah menggenggam tangan Henrietta.


"Aku tidak tahu," jawab Henrietta.


Henry mengecup bibir Henrietta sebelum pergi ke perusahaan.


"Jangan pulang terlalu lama," seru Henrietta.


Henry keluar dari kamar dan berjalan menuju pintu utama, disana sudah ada mobil dan juga sopir yang akan mengantarkannya ke perusahaan.


Pekarangan mansion Henry sudah di bersihkan dari salju, sejak seminggu yang lalu salju pertama turun dengan lebat, walaupun terkadang akhir-akhir ini salju selalu turun walau tidak selebat saat pertama kali.


Setelah Henry pergi, Henrietta membereskan ranjang bekas tidur mereka.


Setelah selesai dia berjalan meninggalkan kamar dan berjalan menuju dapur, disana dia melihat Della yang baru saja kembali dari berbelanja kebutuhan dapur.


"Kau sudah kembali?" tanya Henrietta.


Dia melihat Della yang mengeluarkan seluruh isi dalam tas belanjaan besar di bantu oleh dua orang pelayan lainnya.


Saat Della mengeluarkan satu kotak ice cream Henrietta langsung mengambilnya.


"Nyonya, anda belum sarapan ... jangan dulu memakan ice cream, apalagi cuaca di luar sangat dingin," cegah Della.


"Tapi aku ingin," pungkasnya.

__ADS_1


"Nanti saja kalau nyonya sudah sarapan, kalau tuan tahu beliau akan marah," ucap Della takut.


"Dia sudah berangkat ke kantor, jadi dia tak akan tahu," ujar Henrietta santai.


"Sarah, bisa kau ambilkan sendok untukku," ujar Henrietta meminta tolong pada pelayan yang bernama Sarah itu.


"Baik nyonya," sahut Sarah.


"Tapi nyonya--" Della hendak melarang, tapi Henrietta mencegahnya menggunakan tangannya.


Saat Henrietta sedang menunggu sendok yang sedang di ambil Sarah, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Ada apa?" tanya Henrietta setelah dia mengangkat teleponnya.


"Jangan memakan ice cream jika kau belum sarapan," ujar Henry tegas di sebrang telpon.


"Tapi--"


"Berikan ponselnya pada Della," potong Henry saat Henrietta akan berbicara.


Dengan terpaksa Henrietta memberikan panggilannya pada Henry.


"Buang semua ice cream yang ada di kulkas dan kau beli tadi," tegas Henry.


Dengan gugup Della pun menjawab perkataan Henry.


"Ba-baik tuan," jawab Della dengan gugup sekaligus takut.


Della kembali memberikan ponsel itu pada Henrietta.


"Mulai sekarang, jangan lagi makan ice cream saat musim dingin," tegas Henry.


"Tapi--"


"Apa-apaan dia ini," gerutu Henrietta karna Henry mematikan panggilannya secara sepihak, padahal Henrietta belum mengatakan apapun.


"Maaf nyonya, saya harus mengambil ini," ucap Della dan mengambil ice cream yang ada di depan Henrietta.


"Tapi kenapa? Aku belum memakannya," ucap Henrietta dengan sorot mata sendu.


Della seketika menjadi tak tega, tapi dia langsung teringat dengan suara majikannya yang menyeramkan.


"Maafkan aku nyonya," seketika itu juga Della langsung mengambilnya dan membawanya ke dapur.


"Ada apa?" tanya salah satu pelayan yang datang menghampiri Della.


"Buang ini," ujar Della.


Dia mengeluarkan semua ice cream yang berada di dalam lemari pendingin, semua itu adalah stok ice cream semua rasa yang di inginkan oleh Henrietta.


"Kenapa di buang? Bukankah ini semua milik nyonya?" ujar pelayan itu dengan bingung.


"Ini perintah tuan," balas Della.


Seketika pelayan itu pun langsung membantu Della dan mengeluarkannya.


Sementara itu di meja makan Henrietta tidak henti-hentinya menggerutu kesal pada Henry.


"Awas saja kalau pria itu pulang, aku tak akan mau memberinya jatah," gumam Henrietta.

__ADS_1


Henrietta melihat Della yang datang menghampirinya dengan wajah menyesal.


"Maafkan saya nyonya, itu semua perintah tuan," ujar Della.


"Mm ... Tak apa, aku tidak marah padamu, aku hanya kesal dengan pria itu," sahut Henrietta.


Della akhirnya bisa tersenyum senang karna nyonya-nya tidak marah padanya.


"Nyonya, bagaimana kalau kita membuat kue, anda sudah janji untuk mengajari saya," ujar Della.


"Tentu saja," balas Henrietta.


"Sebelum mengajari saya, anda harus sarapan terlebih dahulu, atau tuan akan menelpon anda lagi jika tahu anda belum sarapan," pungkas Della.


Henrietta menganggukkan kepalanya dan Della pun mulai menyiapkan sarapan untuk Henrietta.


"Selamat makan nyonya," seru Della.


"Della, apa bibi Ely belum kembali?" tanya Henrietta.


"Belum nyonya," jawab Della.


"Kalau begitu saya permisi kebelakang nyonya," ujar Della dan meninggalkan Henrietta sendirian.


Henrietta terlihat mengusap perutnya yang masih rata.


"Semoga kau cepat tumbuh, karna daddy-mu sudah mencicilnya hampir setiap hari," gumam Henrietta tersenyum senang.


Henrietta sudah memiliki rencana jika nanti sewaktu-waktu Julia sadar dari komanya.


Henrietta kembali melanjutkan acara makannya, dari kejauhan seseorang sedang mengawasi dirinya.


Ponsel Henrietta berbunyi dan muncul sebuah pesan dari nomer yang tidak bernama, dia langsung membalasnya dan langsung menghapus bekas pesannya.


Henrietta kembali melanjutkan makannya dan menghabiskannya.


Dia membawa piring kotor itu ke wastafel.


"Nyonya biar saya saja," ujar seorang pelayan yang tiba-tiba datang dan mengambil piring kotor itu dari tangan Henrietta.


Henrietta tak mengatakan apapun dia membiarkan pelayan itu melakukan tugasnya.


Henrietta memutuskan untuk menonton televisi di ruang keluarga sembari menunggu Della selesai dengan pekerjaannya.


Semenjak memasuki musim dingin kegiatan Henrietta semakin terbatas, Henry selalu melarangnya keluar dengan alasan cuaca di luar dingin dan jalanan licin.


Dia hanya dapat mengobrol dengan Lucy melalui panggilan telpon ataupun video.


Terkadang ibu mertuanya juga menelpon sekedar menanyakan kabarnya.


Henrietta menyalakan televisi dan menonton film kartun kesukaannya.


Lagi-lagi ponsel Henrietta berbunyi dan itu pesan dari nomer yang sama dangan nomer yang sebelumnya mengirim pesan, Henrietta membalasnya dan kembali menghapus pesan itu.


"Nyonya," panggil Della dari arah belakang Henrietta.


"Kau sudah selesai? Kita membuat kue-nya nanti saja, aku sedang fokus dengan tontonan-ku," jawab Henrietta.


"Baik nyonya," sahut Della.

__ADS_1


Duduklah dulu, setelah selesai ini baru kita membuat kue," ucap Henrietta.


Della akhirnya mendudukan dirinya di dekat Henrietta dan melihat film kartun yang di tonton nyonya-nya itu.


__ADS_2