PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #46


__ADS_3

Pukul sepuluh, Henrietta sudah bersiap-siap untuk pergi ke restoran miliknya.


Sejak empat tahun tinggal di Spanyol, Henrietta memutuskan untuk membangun restoran miliknya sendiri, restoran miliknya yang berada di Swiss sudah berpindah kepengurusan semenjak Milly menikah.


Dan sekarang, Henrietta ingin memperluas usahanya lagi di beberapa kota di Spanyol.


"Rietta!" panggil Imelda.


"Iya aunty?" sahut Henrietta yang masih berada di pertengahan anak tangga.


"Apa maksudmu dengan tadi aunty akan segera memiliki menantu?" tanya Imelda yang begitu penasaran karna perkataan Henrietta belum selesai.


Henrietta terkekeh melihat bibinya yang begitu semangat.


"Anak-anak sedang menjodohkan paman mereka dengan guru mereka," ujarnya.


"Benarkah itu?" tanya Imelda memastikan.


"Apa dia cantik? Baik?" tanya-nya.


"Dia paket lengkap aunty, kau tenang saja," ujar Henrietta.


"Kalau mereka berdua sampai berhasil, aunty akan memberikan mereka hadiah," ucap Imelda penuh semangat.


"Kau tenang saja aunty, mereka tidak akan gagal. Karna, mereka tidak ingin kehilangan calon bibi sepertinya," balas Henrietta.


"Itu bagus, aunty akan membantu mereka," ujarnya.


"Kau akan kemana?" tanya-nya.


"Restoran, aku akan melihatnya sebentar," jawab Henrietta.


"Aunty ingin menitip sesuatu?" tanya Henrietta.


"Tidak," jawab Imelda.


Setelah berpamitan pada sang bibi, Henrietta pun pergi menuju restoran menggunakan mobil miliknya.


Dia mengendarai mobil itu dengan kecepatan sedang dan tidak terburu-buru.


****


Sementara itu Henry bar saja keluar dari perusahaan cabang milik keluarganya.


Rencananya dia akan menuju sebuah restoran, yang selalu di datangi oleh Henrietta.


Henry berjalan masuk kedalam mobilnya yang sudah di siapkan oleh penjaga di perusahaannya.

__ADS_1


Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju restoran tersebut.


Tidak sampai lima belas menit akhirnya Henry sampai di salah satu restoran yang terbilang cukup mewah.


Setelah keluar dari mobil, Henry berjalan masuk kedalam restoran tersebut dan saat sudah berada di dalam ternyata restoran tersebut lebih di dominasi oleh kalangan muda, apalagi banyak mahasiswa dan juga pelajar di dalamnya.


Henry pikir restoran tersebut hanya di peruntukan untuk kalangan atas dan juga private, karna melihat desain bangunan dari luar yang begitu berkelas dan modern.


Henry memilih tempat duduk yang berada di lantai dua restoran, karna di sana tidak terlalu banyak orang.


"Permisi tuan, anda ingin pesan apa?" tanya seorang pelayan yang datang menghampiri Henry.


"Kopi hitam biasa tanpa gula," jawan Henry datar dan tidak melihat menu sama sekali.


"Apa ada lagi tuan?" tanya pelayan tersebut dengan sopan dan ramah.


"Tidak, itu saja dulu," jawabnya.


Pelayan itupun pergi dengan sopan dari hadapan Henry.


Sedari tadi mata Henry tak henti-hentinya melihat ke lantai bawah untuk mengetahui Henrietta sudah datang atau belum. Tapi, tidak ada tanda-tanda jika Henrietta muncul dari balik pintu utama.


Henry mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Samuel, dia tidak peduli orang itu masih tidur atau tidak, mengingat di New York sekarang pukul empat pagi.


Setelah Henry mengirim pesan, pandangannya kembali jatuh ke lantai bawah dan itu bertepatan dengan Henrietta yang baru saja masuk kedalam restoran.


"Dia semakin cantik dan dewasa," gumam Henry memperlihatkan senyumannya.


Sementara itu di lantai bawah, Henrietta memberhentikan seorang pelayan yang sedang membawakan pesanan milik Henry tanpa Henrietta ketahui.


"Itu pesanan nomer berapa?" tanya Henrietta ke salah satu pegawainya.


"Nomer 14 lantai dua nona," jawab pegawai tersebut.


"Biar aku saja, aku juga akan ke lantai dua. Tolong buatkan saja pesananku seperti biasa," ujar Henrietta.


"Baik nona," jawabnya.


Henrietta mengambil nampan yang berisi kopi itu dan berjalan ke lantai dua.


Sedangkan dari atas Henry melihat Henrietta yang mulai berjalan ke lantai dua, dia menutup wajahnya dengan menu restoran agar Henrietta tidak melihatnya.


Setelah sampai di lantai dua, Henrietta mencari-cari nomer meja yang akan di tujunya.


Setelah menemukannya Henrietta berjalan kearah meja tersebut, dari kejauhan Henrietta dapat melihat seorang pria yang wajahnya tertutup oleh buku menu.


"Permisi tuan, ini pesanan anda," suara merdu nan lembut mengalun indah di telinga Henry.

__ADS_1


Suara yang sudah lama tidak dia dengar selama enam tahun terakhir ini.


Karna tidak mendapat jawaban dari orang tersebut, Henrietta menaruh kopi itu di depan Henry.


Seketika Henry dapat mencium aroma khas vanilla yang selalu di pakai oleh Henrietta, wangi yang tidak akan pernah hilang di indra penciumannya, wangi yang selalu mengingatkan dirinya tentang istrinya, wangi yang membuatnya rindu akan sosok Henrietta.


"Apakah ada yang ingin anda pesan lagi? Kami punya camilan pendamping yang sangat enak," ujar Henrietta dengan ramah.


Sekali tidak ada jawaban dari Henry, pria itu hanya diam sambil sesekali menghirup wangi milik Henrietta.


"Kalau tidak ada lagi saya permisi. Selamat menikmati," ujar Henrietta.


Saat Henrietta akan pergi, tiba-tiba pergelangan tangannya di cekal oleh pria tersebut.


"Tuan! jangan macam-macam, lepaskan tangan saya," tutur Henrietta, karna pelanggan tersebut memegang tangannya.


Henry tidak melepaskan tangan Henrietta, walau wanita itu mencoba untuk melepaskannya.


Henry akhirnya menaruh buku menu yang sedari tadi menutupi wajah tampannya.


Sedangkan Henrietta belum menyadari itu. Karna, masih terfokus untuk melepaskan tangannya.


"Tuan, bisakah anda lepaskan tangan saya? Anda benar-benar tidak sopan," ucap Henrietta yang mulai kesal.


"Tanganmu akan sakit jika di lepas paksa seperi itu," ujar Henry dengan suara berat yang masuk ke dalam telinga Henrietta.


Henrietta mengalihkan pandangannya pada pemilik suara yang di kenalnya, suara yang dulu selalu berkata dingin padanya, suara yang dulu pernah memaki dirinya dan suara yang pernah berbicara lembut padanya.


"Sudah lama tidak bertemu," tutur Henry. karna, melihat Henrietta yang terdiam saja dan hanya melihat kearahnya.


"Apa aku masih setampan dulu hingga kau tidak mengalihkan perhatianmu?" goda Henry.


Henrietta langsung mengalihkan perhatiannya dan melepas paksa pergelangan tangannya yang di pegang oleh Henry.


Tanpa mengatakan sepatah katapun Henrietta berlalu pergi begitu saja dari hadapan Henry.


Sedangkan Henry tidak mencoba untuk mengejar Henrietta, dia mencoba untuk memberi waktu pada Henrietta yang mungkin merasa terkejut dan belum siap untuk bertemu dengan dirinya.


Henry menyesap kopi yang sudah sedikit dingin karna terlalu lama di biarkan.


Sementara itu Henrietta berjalan dengan cepat menuruni anak tangga dan berjalan kearah ruang kerjanya yang berada di lantai satu restoran.


Dia menutup pintu itu dan menguncinya, dia menyandarkan punggungnya di pintu dan memejamkan matanya.


Tangannya memegang dadanya yang berdetak sangat cepat seolah-olah dirinya baru saja melihat hantu.


"Kenapa dia disini? Kenapa harus bertemu sekarang?" gumam Henrietta yang sepertinya belum siap untuk bertemu dengan Henry.

__ADS_1


Seketika perkataan kakek dan pamannya melintas begitu saja seperti sebuah kereta.


__ADS_2