
"Apa! Mereka ada di Swiss? Hanya berdua?"
Setelah mendengar dari suaminya jika Henry dan Henrietta sedang berada di Swiss seketika membuat Dorothy kesal.
"Mereka hanya sedang ada urusan bisnis," ujar Marco yang menanggapinya dengan santai.
Karna itu bukanlah masalah besar bagi Marco, selagi dia masih bisa mengawasi Henrietta maka apapun yang di melakukannya bukan sesuatu yang serius.
Justru Marco akan membuat rencana agar Henrietta bisa hamil anak Henry.
Harapan satu-satunya hanya ada pada anak yang akan di kandung oleh putri kandungnya.
Marco menghidupkan rokok dan mulai menghisapnya.
Dorothy yang melihat suaminya bisa sesantai itu menjadi kesal sendiri.
"Kau bisa-bisanya masih bersikap sesantai ini?"
"Henry hanya sedang melakukan perjalanan bisnis, dan Rietta hanya melihat restoran. Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku masih mengawasi anak itu jadi kau tenang saja," ujar Marco.
"Aku tak bisa tenang jika anak itu hanya berduaan dengan Henry," kesal Dorothy.
"Kau takut Henry jatuh cinta pada Rietta?" selidik Marco memicingkan alisnya.
"Bisa saja kan? Dia menggoda Henry agar meninggalkan putriku," ujar Dorothy.
"Itu tidak akan terjadi, jika Rietta berani macam-macam aku sendiri yang akan menyingkirkannya," tegas Marco.
"Aku harus pergi, masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan,"
Marco berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari mansionnya.
Dorothy melihat kepergian suaminya dengan wajah kesal dan sorot mata tajamnya.
Semalam ada seseorang yang meninggalkan paket atas namanya.
Saat Dorothy membukanya alangkah terkejutnya dia mendapati foto sang suami sedang bersama wanita yang lebih muda darinya tanpa memakai sehelai benang pun.
Dia mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih jika mengingat foto-foto menjijikan itu.
Dorothy tak bisa berbuat apapun, yang bisa dia lakukan hanya diam seribu bahasa mengingat pengkhianatan suaminya.
*
*
Sementara itu di negara lain, terlihat Henry baru saja masuk kedalam restoran milik istrinya.
Dia mengedarkan pandangannya melihat suasana restoran yang ramai.
Henry melihat Henrietta yang baru keluar dari arah dapur.
"Kau sudah datang?" ucap Henrietta yang sadar sudah ada Henry disana.
"Kau sudah makan? Mau makan dulu sebelum kita pulang," tawar Henrietta.
__ADS_1
"Kita makan dirumah saja," ujar Henry.
"Baiklah! Tunggu disini, aku akan mengambil tasku,"
Henrietta berlari kecil kearah tangga menuju ruang kerjanya.
Setelah mendapatkan tasnya dan pamit pada Milly, Henrietta berjalan kearah Henry yang sedang menunggunya.
"Ayo," kata Henrietta.
Henry berjalan keluar sambil menggandeng tangan Henrietta.
"Kau ingin makan apa untuk nanti malam?" tanya Henrietta.
Ini adalah pertama kalinya dia bertanya pada Henry tentang yang ingin di makan oleh pria itu.
"Paella," jawab Henry.
"Kalau begitu kita harus belanja bahan-bahannya dulu sebelum pulang," Henrietta mengayun-ayunkan tangannya yang di genggam oleh Henry.
Henry membukakan pintu mobil untuk Henrietta. "Terima kasih,"
Henry mengenakan seatbelt-nya saat dia sudah masuk dan duduk di balik kemudi.
"Aku tahu dari mommy jika kau sangat suka makanan Spanyol," kata Henrietta.
"Mm, dulu saat aku kecil ada seseorang yang sering memasakan nya untukku," jawab Henry.
Henrietta senang karna Henry mulai terbuka padanya, dan tidak sedingin pertama kali mereka menikah.
"Oh ya ... Tadi Luke ke restoran dan dia mengajak kita untuk berkemah di pinggir danau besok," ujar Henrietta.
"Tidak, pekerjaanku hampir selesai, mungkin kita bisa berlibur disini sehari," pungkas Henry.
Dan itu sukses membuat Henrietta semakin senang.
"Kau juga bisa mengajak salah satu pegawai-mu untuk ikut, mungkin pria yang waktu itu menjemput kita, kau bisa mengajaknya, dia cukup tampan," ujar Henrietta.
Henry langsung menaikan sebelah alisnya mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh istrinya.
"Kenapa kita harus mengajaknya?"
"Karna aku akan mengajak Milly bersama kita, Luke juga akan mengajak kekasihnya," jawab Henrietta.
"Lalu apa hubungannya dengan pegawaiku," bingung Henry.
"Agar bisa menemani Milly," jawab Henrietta.
"Cepat sekarang hubungi pegawaimu," suruh Henrietta.
"Nanti saja di rumah," sahut Henry.
Dan tak berapa lama pun mereka sampai di salah satu pusat perbelanjaan di kota itu.
Setelah memarkirkan mobilnya di basemen, Henry membawa Henrietta untuk masuk.
__ADS_1
Mereka memasuki area khusus keperluan dapur dan makanan.
Henrietta terlihat membeli beberapa udang, ayam, kentang, sayur, nasi dan bahan-bahan lainnya.
"Apakah sudah selesai?" tanya Henry yang sedang mendorong troli yang berisi belanjaan.
"Belum," jawab Henrietta.
Pasalnya sudah satu jam mereka berada disana sejak pertama kali masuk.
Henrietta kembali menyuruh Henry untuk mendorong troli itu dan mengikutinya.
"Ayo bayar, aku sudah selesai," pungkas Henrietta yang masih berkeliling sambil melihat-lihat tapi tidak ada yang menarik lagi.
Setelah Henry membayar semua belanjaan milik Henrietta, dia kembali mendorong troli itu menuju basemen dan memasukan semua kantong belanja itu kedalam mobil.
"Mobilmu terlalu sempit," ucap Henrietta yang memasukan belanjaannya dengan paksa.
Henry memutar bola matanya jengah mendengar perkataan Henrietta yang menyalahkan mobilnya.
"Kau yang belanja terlalu banyak, sudah tahu aku memakai mobil sport," balas Henry.
Henrietta masuk kedalam mobil sambil memangku satu kantung belanjaannya.
Henry mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar mereka bisa cepat sampai di rumah.
Henry memarkirkan mobilnya di halaman rumah Henrietta setelah mereka sampai.
"Aku akan membuka pintu dulu," Henrietta keluar dari mobil dan membuka kunci pintu rumahnya.
Setelah pintu terbuka Henrietta kembali lagi ke mobil dan membantu Henry membawa barang bawaannya.
Henry menaruh dua kantung belanjaan besar itu di atas meja makan dan begitu pun dengan Henrietta.
"Aku akan mengganti baju dulu,"ujar Henrietta.
"Ah ... Sebaiknya kau segera menghubungi pegawaimu itu," sambungnya yang masih mengingat hal itu.
Henry menghembuskan napasnya dengan kasar, dengan sangat terpaksa dia menghubungi salah satu pegawainya atas perintah Henrietta.
Dia mendudukan dirinya di sofa ruang tamu dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
Henry memejamkan matanya guna menghilangkan rasa lelahnya karna seharian mengontrol pembangunan hotel dan meeting dengan beberapa koleganya di sini.
"Mandilah jika kau lelah, aku sudah mengisi bathtub dengan air hangat," ucap Henrietta yang ada di belakang Henry.
"Mm ..." gumam Henry.
Lantas Henry segera berdiri dan berjalan kearah kamar milik Henrietta yang sekarang juga di tempati olehnya selama mereka berada di Swiss.
Henry masuk kedalam kamar mandi dan langsung mencium wangi vanilla yang sering di pakai oleh Henrietta.
Dia melepas semua pakaiannya dan memasukannya dirinya kedalam bathtub, Henry tampak menikmati waktu berendamnya dan memejamkan kedua matanya.
Sedangkan Henrietta sedang disibukan membuat makan malam sesuai keinginan Henry.
__ADS_1
Tangan lentiknya dengan cekatan memegang pisau dan mulai memotong semua bahan-bahannya.
Sesekali Henrietta akan bersenandung untuk menemani acara memasaknya.