
Samuel berjalan masuk menuju unit apartemennya setelah kembali dari perusahaan.
Ceklek ...
Samuel berjalan masuk kedalam apartemennya dan menuju arah dapur.
"Sedang apa kau disini?" tanya-nya pada seorang gadis yang ada di dapurnya.
"Kau sudah pulang?" bukannya menjawab, gadis itu malah bertanya balik.
"Aku bilang, kenapa kau bisa ada disini?" ulangnya.
"Aku akan tinggal disini, bolehkan? Ayahku mengusirku karna aku meninju wajah kakakku dan membuatnya masuk rumah sakit karna hidungnya patah," jawabnya.
"Rumahku bukan tempat penampungan. Jadi, tinggal-lah di rumah temanmu," pungkas Samuel.
"Aku tidak punya teman," sahutnya.
Samuel terlihat menghembuskan napasnya dengan kasar.
"Dengar! Kau di usir itu adalah masalahmu sediri jadi selesaikan dan jangan menggangguku,"
Samuel berjalan kearah lemari pendingin dan mengambil botol air di dalam sana.
"Tadi ibumu datang kemari," ucap gadis tersebut.
Samuel langsung mengalihkan pandangan pada gadis yang kini berdiri tak jauh darinya berada.
"Dia bertanya aku siapa-mu dan kenapa aku disini. Lalu, aku bilang jika aku adalah pacarmu dan aku di usir oleh ayahku," sambungnya dengan senyuman yang terbit di wajahnya.
Seketika saja Samuel langsung tersedak air yang dia telan.
"Kau gila ya!"
"Aku tidak punya pilihan lain," ujar gadis tersebut.
Dan tidak lama kemudian ponsel Samuel berbunyi, dia melihat nama sang ibu tertera di layar ponsel.
"Halo mom--"
"SAMUEL ... Dasar anak nakal bisa-bisanya kau menjerat gadis muda dan polos untuk menjadi pacarmu dan di usir oleh ayahnya," maki sang ibu di sebrang telpon.
"Mom, dia bukan pacarku," sangkal Samuel.
"Kau pikir mommy akan percaya padamu? Mommy lebih percaya pada gadis manis itu dari pada kau,"
Sontak saja Samuel langsung melihat kearah gadis tersebut.
'Mania dan polos bagian mana-nya?' pikir Samuel melihat wajah itu tersenyum kearahnya.
"Mom, aku ini anakmu. Tapi kau malah percaya pada seseorang yang baru kau temui sekali," protes Samuel.
"Mommy tidak mau tahu, bawa gadis itu kemari, biarkan dia tinggal di mansion bersama kami. Mommy tidak akan membiarkan dia tinggal bersamamu sampai kalian menikah, untungnya gadis itu akan berusia 20 tahun," ujarnya.
"Bisa-bisanya kau memacari daun muda," lanjutnya.
"Mom, biar aku jelaskan. Dia itu bukan pacarku," kekeh Samuel. Tapi sayang, sang ibu tidak menggubrisnya sama sekali.
"Pokonya kau harus membawa Rael pulang ke mansion," putus sang ibu dan langsung mematikan sambungan telponnya tanpa menunggu jawaban dari putranya.
Samuel menatap tajam pada gadis yang di ibunya panggil Rael itu.
__ADS_1
"Keluar dari sini dan carilah temanmu," ujar Samuel.
"Tidak! Kalau aku keluar dari sini maka aku akan datang ke mansion orang tuamu," sahut Rael sambil memperlihatkan kartu nama ayahnya.
"Shittt ..." umpat Samuel.
Sedangkan Rael dia hanya tersenyum melihat wajah Samuel yang tidak berdaya.
Ponsel Samuel berbunyi lagi, dia mengangkatnya tanpa melihat nama si penelpon.
"Ada apa lagi mom?" ujar Samuel dengan jengah.
"Aku bukan ibumu," maki seorang pria di sebrang telpon.
Samuel langsung melihat nama si penelpon setelah mendengar suara pria yang dia kenal.
Samuel langsung berjalan masuk kedalam kamarnya dan meninggalkan Rael sendirian.
"Ada apa?" tanya Samuel.
"Kau sudah memberitahu keberadaan adikku pada pria itu?" tanya pria tersebut.
"Sudah, mungkin sekarang dia sudah berangkat ke Spanyol," pungkas Samuel.
"Ck ... Kalau bukan karna perintah kakekku aku tidak akan mau untuk memberitahu keberadaan Rietta padanya," kesal pria itu.
"Kau tidak menambahkan data yang lain kan?" tanyanya.
"Tidak, hanya amplop yang kau berikan saja," jawab Samuel.
"Bagus,"
"Apa masih ada lagi?" tanya Samuel.
"Baiklah, aku harus menyelesaikan penyusup yang ada di apartemenku," ucap Samuel dan mematikan sambungan teleponnya.
Samuel berjalan keluar dari kamar dan masih melihat Rael yang sedang menonton tv sambil tertawa.
"Dia pikir ini rumahnya apa?" cibir Samuel.
"Ayo!" ujar Samuel tiba-tiba.
"Kemana?" tanya Rael bingung.
"Menjadikanmu pelayan di rumah orang tuaku," jawab Samuel asal.
"Apa aku tidak bisa tinggal disini saja?" tawar Rael.
"TIDAK!"
"Aku tidak mau di repotkan oleh bocah ingusan sepertimu," pungkasnya datar.
"Aku bukan bocah, sebentar lagi usiaku akan 20 tahun," ralat Rael membenarkan perkataan Samuel.
Karna tidak ingin mendapat jawaban apapun lagi dari Rael, Samuel membawa paksa gadis itu agar keluarr dari tempat tinggalnya.
****
Henry keluar dari pesawat pribadi miliknya, setelah melakukan pendaratan di Bandar Udara Internasional Adolfo Suarez Barajas Madrid.
Tampak dari kejauhan asisten sang ayah sudah menunggunya di samping mobil Rolls Royce Phantom yang sudah di siapkan sebelumnya.
__ADS_1
"Selamat datang tuan muda," ujar pria yang usianya hampir sama dengan sang ayah.
"Bagaimana kabar paman?" tanya Henry dengan ramah.
"Saya baik tuan," jawabnya.
"Mari tuan muda," ujar pria tersebut membukakan pintu untuk Henry.
Henry masuk kedalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
"Apa aku akan tinggal di apartemen milik daddy dulu?" tanya Henry.
"Iya tuan," jawabnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Madrid.
Henry mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku jasnya, dia melihat foto itu dan sesekali menyentuhnya.
"Kita akan segera bertemu," gumamnya.
Mobil yang membawa Henry akhirnya sampai di sebuah hunian elit bekas ayahnya dulu tinggal selama berada di Spanyol.
Henry keluar dari dalam mobil setelah pintunya dibuka oleh asisten ayahnya.
"Terima kasih paman," pungkasnya.
"Saya sudah mengirim semua proyek kerja samanya dan jadwal apa saja yang akan anda lakukan selama disini lewat email," jelasnya.
"Iya paman," jawab Henry.
"Karna anda sudah ada disini, maka saya akan langsung kembali ke New York," ujarnya.
"Baik paman, aku juga akan mengecek perusahaan cabang besok," ujar Henry.
Henry tidak membawa barang apapun dalam perjalanannya ini ke Spanyol, dia akan menyuruh salah satu pegawai di perusahaannya yang ada di Spanyol untuk mengantarkan pakaian ganti untuknya.
Setelah asisten ayahnya pamit pergi, Henry berjalan ke arah lift yang akan membawanya menuju lantai apartemennya berada.
Ting ...
Pintu lift terbuka, Henry keluar dari dalam lift dan berjalan kearah kamarnya.
Dia membuka pintu itu setelah menekan beberapa digit angka.
Ceklek ...
Ruangan yang hampir di dominasi oleh warna coklat itu menjadi pemandangan pertama Henry, ruangan besar tanpa sekat dan menyatukan antara dapur dan ruang tamu menambah kesan luas di dalamnya.
Henry berjalan kearah pintu berwarna hitam dan membukanya.
Ceklek ...
Sebuah kaca besar menjadi pemandangan pertama Henry saat masuk kedalamnya.
Henry berjalan kearah jendela kaca itu dan berdiri di depannya, dia dapat gedung-gedung dengan lampu-lampu yang menyala.
Setelah cukup puas berdiri disana, Henry berjalan kearah ranjang dan merebahkan dirinya disana sambil menutup wajahnya dengan tangannya.
Ponsel Henry berbunyi dan itu adalah pesan dari sang ibu, dia langsung membalasnya dan menaruhnya kembali.
Sesekali Henry akan menutup matanya sambil membuang napas kasar.
__ADS_1
Hingga tanpa sadar dia tertidur karna saking lelahnya.