
Suasana pagi hari kali ini di kediaman milik Stev sangat berisik oleh kehebohan yang di buat oleh si cantik Maisie.
Gadis itu sedari tadi berlarian kesana-kemari karna saking senangnya.
"Mommy akan buatkan bekal untuk kalian makan selama di perjalanan nanti," ucap Henrietta pada putranya.
"Iya mom," balas Asher.
"Panggil saudarimu, sedari tadi mommy pusing melihatnya berlarian terus," ujar Henrietta.
"Iya mom," sahut Asher.
Asher pergi menghampiri Maisie yang sedang berlarian sambil memutari pamannya.
"Ohh, berhentilah gadis kecil. Uncle pusing melihatnya," keluh Aiden.
Maisie tidak mendengarkan kata-kata pamannya, dia terus saja berceloteh dan tidak berhenti.
"Uncle, uncle ... Apa kau senang pergi jalan-jalan dengan kami," ujarnya dengan suara cemprengnya.
"Tidak!" jawan Aiden asal.
"Maisie ..." panggil Asher.
Maisie pun menghentikan aksinya dan menghampiri saudaranya.
Saat Maisie sudah pergi, Aiden mendudukan dirinya di sofa dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
Tiba-tiba Imelda datang menghampiri putranya dan mendudukkan dirinya di samping sang putra.
"Ada apa mom?" tanya Aiden.
"Tidak ... Mommy hanya ingin bilang berhati-hatilah selama disana dan jaga kedua keponakanmu itu," ujar Imelda.
"Oh ya ... sering-seringlah berinteraksi dengan guru mereka agar kau bisa membantunya disana untuk menjaga dua bocah itu," ucapnya lagi.
"Aku tahu mom," ujar Aiden.
Sementara itu kedua anak Henrietta sudah mengisi kursi kosong yang ada di meja makan.
"Mom, boleh aku membawa coklat dan ice cream?" tanya Maisie.
"Boleh. Tapi hanya satu ice cream saja ya? Karan itu akan meleleh," jawab Henrietta.
"Baik mom,"
"Mom, apa jika kita pulang besok daddy akan sudah ada disini?" tanya Maisie lagi.
"Iya sayang, kau sudah menanyakan itu sejak semalam," ujar Henrietta.
"Rae hanya tidak sabar untuk segera bertemu dengan daddy," ucap Maisie dengan semangatnya yang tinggi.
Sementara Asher hanya diam saja dan tidak mengatakan apapun, sebenarnya dia juga sama seperti Maisie yang tidak sabar untuk segera bertemu dengan ayah mereka.
Henrietta melihat binar bahagia di mata kedua anaknya saat dia mengatakan akan membawa Henry bertemu dengan mereka.
"Mom?" panggil Asher.
__ADS_1
"Iya sayang?" sahut Henrietta.
"Siapa nama daddy kami?" tanya Asher sedikit ragu.
Henrietta hampir melupakan masalah ini, selama ini dia tidak tidak pernah memberitahu siapa nama ayah mereka.
"Henry ... Henry Milo Walter," tutur Henrietta dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.
"Milo?" tanya ulang Maisie dan di angguki oleh Henrietta.
"Itu sama dengan nama tengah Asher," ujarnya dengan senang.
"Karna di belakang nama Asher memang mma daddy," ucap Henrietta sambil mencolek hidung mungil putrinya.
Asher menyunggingkan senyum tipisnya saat mendengar nama tengahnya sama dengan nama tengah sang ayah.
Satu persatu penghuni mansion pun mulai berdatangan ke ruang makan.
"Apa yang kalian bicarakan? kenapa seru sekali," ujar Stev yang mendudukan dirinya di kursi meja makan.
"Kami sedang bertanya nama daddy pada mommy," jawan Maisie.
"Benarkah?" ujar Stev dan di angguki semangat oleh Maisie.
"Maisie yakin tidak mau pergi dengan grandpa ke acara sekolah Maisie?" tanya Stev yang masih dengan kekeh dengan usahanya.
"Tidak!" jawab Maisie sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kami akan pergi dengan uncle. Grandpa selalu membawa banyak penjaga kemana-kemana," ujarnya lagi.
"Aku seperti terabaikan oleh cucuku sendiri," ucap Stev mendramatisir perkataannya.
"Lagi pula kau sangat sibuk, jadi tidak akan punya waktu untuk pergi dengan mereka," lanjutnya.
"Luangkan saja waktumu untuk minggu depan karna Matthew dan Lucy beserta anaknya akan kemari," kata Imelda.
"Aku harap rumah ini akan menambah satu cucu lagi," ucapnya yang belum berhenti berbicara.
"Mommy mulai lagi," bisik Aiden pada Henrietta yang duduk di sebelahnya.
Henrietta terkekeh kecil mendengar perkataan jengah dari kakak sepupunya.
"Itu tandanya aunty sedang memberi kode untuk mu agar segera memiliki anak," timpal Henrietta.
"Setelah kau bertemu dengan Henry, segeralah membuat bayi lagi agar mommy tidak menyindirku terus," ujar Aiden.
Henrietta langsung menyikut pinggang Aiden karna perkataan barusan.
"Aku berani bertaruh pria tengik itu pasti akan langsung menyerang mu setelah kalian berbaikan," bisik Aiden lagi.
Dan kali ini Henrietta menginjak kaki Aiden dengan lumayan keras hingga membuat Aiden meringis kesakitan.
"Diam lah kakak," kesal Henrietta.
"Kalau terus bicara lagi, aku akan menyuruh aunty untuk melakukan kencan buta," ancam Henrietta agar membuat Aiden bungkam.
"Kau menyebalkan," ujar Aiden.
__ADS_1
"Kau lebih menyebalkan," balas Henrietta.
"Diam lah! kenapa kalian seperti anak kecil," ujar Imelda menaikan nada suaranya.
Dan seketika dua orang itu langsung terdiam setelah mendengar perkataan Imelda.
"Jangan terus-terusan menggoda adikmu. Aiden," ucap Jared yang baru saja datang.
"Iya kakek," patuh Aiden.
Dan mereka semua pun mulai memakan sarapan mereka dengan tenang dan tidak berisik lagi, yang ada hanya ada suara alat makan yang silih beradu.
"Ayo, uncle akan menunggu kalian di mobil," ucap Aiden, setelah mereka semua menyelesaikan sesi makan pagi.
"Tapi Rae ingin naik bus sekolah," ujar Maisie.
"No ... No, kita akan naik mobil sendiri, dan kita tidak akan naik bus sekolah," tolak Aiden cepat.
"Tapi ... Itu tidak seru, Rae ingin satu mobil dengan yang lain," ucap Maisie sendu.
"Turuti saja," timpal Imelda, sang ibu.
"Iya turuti saja," ujar Stev menyetujui perkataan istrinya.
"Baiklah, baiklah ..." pasrah Aiden akhirnya.
"Ayo, biar mommy yang mengantar kalian ke sekolah," ujar Henrietta.
"Benarkah? Ye ..." kata Maisie bersorak kegirangan.
"Hati-hati ..." teriak Imelda.
"Biar aku yang menyetir," ujar Aiden, setelah mereka berada di dekat mobil.
Henrietta membukakan pintu penumpang untuk kedua anaknya, sementara dirinya akan duduk di samping Aiden.
Setelah dirasa semuanya sudah masuk kedalam mobil, Aiden melajukan mobilnya menuju tempat sekolah kedua anak Henrietta.
Selama di perjalanan Maisie tak Henti-hentinya bernyanyi mengikuti lagu anak-anak yang di putar oleh Henrietta di dalam mobil.
Sementara Asher, anak itu sibuk dengan buku bacaan yang dia bawa.
Asher tampak tak terganggu sedikit pun dengan suara sumbang dari saudarinya dan masih bisa tetap fokus pada bukunya.
"Jika sudah besar nanti, jangan kau biarkan Maisie menjadi seorang penyanyi," bisik Aiden pada sepupunya.
"Suaranya benar-benar tidak enak," lanjutnya dengan sangat pelan.
Sedangkan Henrietta hanya bisa terkekeh melihat wajah tersiksa kakak sepupunya saat mendengar suara Maisie bernyanyi.
"Jangan seperti itu, bagaimana pun dia itu keponakanmu ... Siapa tahu jiak sudah besar nanti suaranya merdu," ucap Henrietta.
"Semoga saja," ujar Aiden.
Dan tidak sampai setengah jam pun mobil yang di kendarai oleh Aiden memasuki area sekolah kedua keponakannya.
Henrietta dan kedua anaknya turun terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ingat? Jangan merepotkan paman kalian ... Menurut-lah pada miss Bella dan paman kalian selama disana," ujar Henrietta mengingatkan kedua anaknya.
"Baik mom," ucap kedua anaknya serempak.