
Sudah tiga hari ini Henry tak masuk kerja dan hanya mengontrolnya jadi rumah saja.
Selama tak bekerja Henry menghabiskan waktunya hanya untuk menemani istri dan kedua anaknya, pria tampan itu ingin memiliki waktu lebih banyak dengan anak-anaknya selama dia mengambil libur.
Dan hari ini Henry terpaksa harus datang ke perusahaan karna akan ada meeting dan juga pekerjaannya yang pasti menumpuk.
Henrietta juga hari ini akan mendaftarkan kedua anaknya ke taman kanak-kanak yang tak jauh dari perusahaan Henry.
"Kau tak ada kegiatan lagi setelah mengantar anak-anak?" tanya Henry.
Henrietta menggeleng sembari tangannya memasangkan dasi pria itu.
"Ayo, kita makan siang bersama. Datanglah ke kantor bersama anak-anak," usul Henry dan mengecup bibir sang istri yang ada di hadapannya.
"Apakah itu tak akan mengganggu pekerjaanmu? Kau mungkin akan lupa dengan pekerjaanmu karna ada anak-anak," sahut Henrietta.
Tangan Henrietta masih berkutat dengan dasi yang melingkar di kerak kemeja Henry.
"Done," ucap Henrietta sambil merapikan kemeja suaminya.
Tangan Henry melingkar di pinggang ramping Henrietta dan membawa ibu dari dua anak itu agar semakin dekat dengannya.
"Aku sudah berbicara dengan mommy mengenai pesta pernikahan kita yang tertunda," ujar Henry.
"Lalu?" tanya Henrietta dan menunggu Henry melanjutkan perkataannya.
Henry beberapa kali mengecupi bibir sang istri sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
"Semuanya akan di urus oleh mommy, kita hanya perlu menunggu hasilnya saja," jawab Henry.
"Apa itu tak memberatkan mommy? Aku takut mommy akan lelah karna menyiapkan semuanya," ucap Henrietta.
Henry tertawa pelan dan mencium gemas istrinya.
"Mommy memakai jasa wedding organizer dan itu tak akan membuat lelah. Karna bukan dia yang akan bekerja, apa gunanya membayar mahal orang lain," sahut Henry dengan wajah sombongnya.
Henrietta mencibir dan menggerutu mendengar perkataan terakhir Henry.
"Tapikan tetap saja itu akan membuat waktu mommy tersita karna harus mengontrol-nya," ujar Henrietta.
Henry mengeratkan pelukannya dan menatap mata indah sang istri.
"Jika kau ingin membantu datanglah ke hotel keluarga, pestanya akan di adakan di sana, dan beri tahu pada mommy apa yang kau inginkan," sahut Henry.
"Hmm ... Nanti aku akan menelpon mommy," ujar Henrietta.
Henrietta melepaskan tangan Henry yang melingkar di pinggangnya.
"Dan sekarang, pergilah bekerja dan selesaikan pekerjaanmu yang banyak itu, sebelum pesta pernikahan kita," kata Henrietta.
__ADS_1
"Kau mau kemana, honey?" tanya Henry saat melihat istrinya berjalan kearah pintu.
"Melihat anak-anak," sahut Henrietta.
"Jika sudah selesai segeralah turun ke bawah untuk sarapan," lanjutnya dan keluar dari kamar.
Henrietta berjalan kearah kamar putrinya, dan saat sudah membuka pintunya dia tak mendapati keberadaan sang putri di kamarnya.
"Maaf, apa kau melihat Maisie?" tanya Henrietta pada pelayan yang kebetulan lewat di hadapannya.
"Nona Maisie, sedang bersama tuan dan nyonya besar di ruang makan, nyonya," jawab pelayan tersebut.
"Kalau begitu terima kasih, kau bisa melanjutkan pekerjaanmu," ujar Henrietta memberikan senyuman ramahnya.
Lalu, pelayan itu pun pamit undur diri dari hadapan Henrietta.
Henrietta berjalan masuk kedalam kamar putranya.
"Kau sedang apa Ash?" tanya Henrietta pada Asher yang baru saja mematikan komputernya.
"Aku baru saja melakukan video call dengan teman-temanku di Spanyol, mom," sahut Asher.
Asher berjalan menghampiri sang ibu dan berdiri di hadapannya.
"Kau merindukan mereka?" tanya Henrietta.
Asher menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Iya mom," sahut Asher menganggukkan kepalanya.
"Dan sekarang, ayo kita sarapan," ujar Henrietta.
Henrietta menggandeng tangan sang putra keluar dari kamar, saat melewati kamarnya itu bertepatan dengan Henry yang baru saja keluar dari kamar.
"Dimana Maisie?" tanya Henry.
"Di ruang makan bersama daddy dan mommy," jawab Henrietta.
"Kau tak ingin daddy gendong, son?" tanya Henry.
"Tidak dad, aku sudah besar dan aku bukan Maisie yang selalu minta di gendong," sahut Asher.
Henrietta bahkan di buat tertawa dengan jawaban putranya.
"Benar-benar gen-mu," bisik Henrietta pada Henry.
"Itu karna dia anakku," sahut Henry.
Henry mencium bibir Henrietta di hadapan putranya dan Asher pergi lebih dulu meninggalkan ayah dan ibunya.
__ADS_1
Henrietta mendorong pelan dada suaminya agar menjauh darinya.
"Oh, kau menodai mata putraku," gerutu Henrietta kesal dan menyusul putranya.
"Putra kita honey," ralat Henry dan juga menyusul istri dan anaknya.
"Kenapa kalian sangat lama? Cucuku sampai kelaparan karna menunggu kalian," keluh Elijah pada anak dan menantunya yang baru saja datang.
"Sorry dad, salahkan saja Henry," sahut Henrietta dan mendudukkan dirinya disamping sang putra.
"Kau memang lelet, son," ejek Elijah.
Dan saat mereka sudah akan menyantap makan pagi, tiba-tiba seorang pelayan datang dan memberitahukan jika ada tamu yang datang.
"Permisi tuan, nyonya ... Di depan ada tuan John Taylor, beserta istri dan anaknya," ujar pelayan tersebut dengan sopan.
"Siapa mereka?" tanya Henrietta pada Henry.
"Mungkin tetangga kita, aku belum pernah bertemu karna aku hanya sesekali datang kesini," jawab Henry.
"Suruh saja mereka masuk," perintah Elijah.
Dan tak lama kemudian mereka pun masuk kedalam dengan arahan pelayan.
Henrietta dan Henry beranjak dari duduknya dan menyambut tamu mereka.
"Maaf, mengganggu waktu makan pagi kalian," ujar seorang wanita dengan bayi di gendongannya.
"Kami hanya ingin memberikan ini, karna kami baru pindah kemarin," ucap seorang pria.
"Tak perlu repot-repot," sahut Henry.
"Saya John Taylor, dan ini istri saya Edith," ucap pria tersebut.
"Saya Henry dan ini istri saya Henrietta," jawab Herny menerima jabatan tangan John.
"Kami juga baru pindah beberapa hari yang lalu," kata Henrietta.
"Oh benarkah?" sabut wanita yang ada di hadapan Henrietta.
"Lihatlah, dia sangat lucu dan cantik. Siapa namanya?" tanya Henrietta gemas melihat bayi cantik di dalam gendongan Edith.
"Namanya Crystal dan ini putri pertama kami, Alice," jawab Edith.
"Hay sayang, kau sangat cantik," puji Henrietta pada anak perempuan yang seusia kedua anaknya.
"Terima kasih aunty, aunty juga sangat cantik," ucap Alice dengan malu-malu.
Lalu Henrietta juga mengenalkan kedua anak kembarnya pada tamu mereka.
__ADS_1
Maisie bahkan sampai gemas melihat bayi mungil yang sejak tadi menyita perhatiannya.