PENGGANTI ADIK TIRIKU

PENGGANTI ADIK TIRIKU
Chapter #37


__ADS_3

Mobil yang membawa Henrietta kini memasuki area bandara.


Seorang pria keluar dari dalam mobil dan membukakan pintu untuk Henrietta, Henrietta keluar dengan mantel yang berbeda dan sebuah topi berwarna hitam yang menutupi kepalanya.


Sedangkan pria yang tadi membukakan pintu terlihat berbicara dengan dua orang pria yang menaiki mobil berbeda.


"Singkirkan mobilnya, terserah mau buang kemana atau sekalian bakar saja," ujar pria tersebut.


"Baik tuan," jawab dua orang pria itu.


Henrietta menghampiri ketiga pria tersebut dan menyerahkan ponselnya yang sudah mati.


"Sekalian buang ini paman Lucas," ucap Henrietta.


"Baik nona," jawab pria yang bernama Lucas itu.


Dua orang itu pun pergi mengikuti mobil yang tadi membawa Henrietta.


"Mari nona, pesawat anda sudah siap," ujar Lucas.


Henrietta mengikuti Lucas dari belakang menuju area pesawat yang akan mengantarkan mereka.


Henrietta dapat melihat sebuah pesawat besar dengan lambang sebuah klan keluarga.


Lucas memasuki pesawat itu dan diikuti oleh Henrietta.


"Silahkan duduk nona ... Tuan besar juga sudah menyiapkan seorang dokter kandungan jika sewaktu-waktu anda merasa tidak nyaman," ucap Lucas dengan sopan.


"Terima kasih paman Lucas," sahut Henrietta.


"Apa anda memerlukan sesuatu lagi?" tanya Lucas.


"Tidak, aku hanya ingin tidur saja," jawab Henrietta.


Lucas memanggil salah satu pramugari untuk mengantarkan Henrietta.


"Kalau begitu saya pamit undur diri nona ... Saya akan membangunkan anda jika kita sudah sampai," ucap Lucas.


Henrietta hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, dia mengikuti pramugari tersebut menuju sebuah kamar yang ada di dalam pesawat.


"Silahkan beristirahat nona, jika anda memerlukan sesuatu, anda bisa menekan tombol yang ada di dekat ranjang," jelas pramugari tersebut.


"Mm ... Aku mengerti, terima kasih," ucap Henrietta.


Pramugari itu pun undur diri dari hadapan Henrietta, Henrietta menutup pintu kamarnya dan berjalan kearah ranjang, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Di dalam selimut lagi-lagi Henrietta menumpahkan semua tangisannya.


**


**


Setelah mendapat kabar dari Marco jika Julia sudah sadar Henry bergegas menuju rumah sakit untuk melihat kondisi Julia.


"Kau sudah datang?" ujar Marco.


"Mm ..."


"Bagaimana kondisinya?" tanya Henry.

__ADS_1


"Dokter masih memeriksanya," jawab Marco.


"Kau tidak datang bersama Rietta?" ujar Dorothy yang tiba-tiba mengungkit Henrietta.


"Tidak," jawab Henry datar.


"Dasar anak itu, dia bahkan tidak datang untuk melihat adiknya yang baru saja sadar," sinis Dorothy.


Di balik perkataannya barusan, sebenarnya Dorothy menyimpan kepuasan sendiri melihat sikap Henry saat dia menyebutkan nama Henrietta.


Seorang dokter yang di ikuti oleh dua perawat keluar dari ruangan Julia.


"Bagaimana kondisi putri saya?" tanya Marco tidak sabaran.


"Kondis putri anda sudah stabil, semua organ tubuhnya bekerja dengan baik, mungkin nanti hanya merasa kaku karna terus-terusan berbaring ... Kita akan menjadwalkan terapi untuk putri anda setelah semuanya dirasa sudah membaik," jelas dokter tersebut.


"Apa kami bisa menemuinya?" tanya Dorothy.


"Tentu saja, harap jangan terlalu berisik dan biarkan pasien tetap merasa tenang," ujar dokter tersebut.


Dokter itu pun pamit undur diri dan membiarkan keluarga pasien untuk masuk.


"M-mom ..." ucap Julia dengan suara lemah dan terbata-bata.


"Ohh sayangku," ujar Dorothy menghampiri putrinya.


"Apa yang kau rasakan? Apa ada yang sakit?" tanya Dorothy.


Sedangkan Julia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja dengan perlahan.


Kini pandangannya terfokus ke arah ayah dan juga Henry.


"D-dad," ujar Julia dengan suara pelan.


"Jangan terlalu banyak bicara dulu," ujar Marco dengan perhatian.


"H-henry," gumam Julia.


Henry menatap Julia dengan pandangan yang sulit di artikan, dia masih berdiri di dekat pintu dan belum menghampiri Julia.


"Kemarilah Henry," titah Marco.


Dengan langkah berat Henry pun menghampiri Julia dan berdiri di samping Marco.


"Ma-maafkan a-aku," ucap Julia.


"Sayang ... Jangan terlalu banyak bicara, kau masih harus istirahat," ujar Dorothy.


"Kau masih bisa bicara dengan Henry nanti, sekarang istirahatlah," lanjutnya.


Julia menganggukkan kepalanya, tapi pandangannya masih fokus pada Henry.


"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Henry pada Marco.


"Nanti saja, Julia baru saja sadar," sungut Marco.


Dorothy menatap Marco dan Henry bergantian, dia cukup penasaran dengan apa yang akan di bicarakan Henry dengan Marco.


Dorothy terus saja menemani anaknya sampai Julia tertidur.

__ADS_1


"Kau ingin bicara apa? Katakanlah sekarang," ujar Dorothy.


Henry menatap datar pada Marco dan juga Dorothy.


"Aku ingin membatalkan pertunangan-ku dengan Julia," tegas Henry.


Sontak saja perkataan Henry barusan membuat kaget Marco dan juga Dorothy.


"Apa yang barusan kau katakan Henry," marah Dorothy.


"Kita bicara di luar," ujar Marco datar.


Kedua orang itu pun mengikuti langkah Marco yang berjalan keluar dari kamar inap Julia.


"Kenapa kau ingin membatalkan pertunangan ini?" ujar Marco.


"Karna aku sudah menikah," jawab Marco.


Dorothy berdecak dan menatap tidak suka pada Henry.


"Pernikahan kalian hanya sementara, dan wanita itu hanya sebagai pengganti Julia untuk sementara," kesal Dorothy.


"Apa hebatnya wanita itu di bandingkan dengan putriku," marah Dorothy.


Sementara Marco menatap tajam pada Henry, dia tidak menyangka jika Henry akan terjebak dengan pernikahan sementara ini.


"Kau tidak bisa mengakhiri pertunangan-mu begitu saja, kau tidak dengar apa kata dokter barusan?" ujar Marco.


"Tunggulah sampai Julia benar-benar pulih, baru kau bisa berbicara sendiri dengannya," kilah Marco.


"Suamiku, apa yang kau bicarakan?" kesal Dorothy.


"Aku tidak ingin ada perdebatan hari ini ... jika kau ingin mengakhiri hubunganmu, maka bicara sendiri dengannya jika dia sudah sembuh nanti,"


"Untuk sekarang tetaplah disini sampai dia bangun, dia akan mencarimu jika tahu kau tidak disini," ujar Marco.


Henry pun akhirnya menyetujui usul Marco, dia kembali masuk kedalam ruang rawat inap Julia dan mendudukan dirinya di sofa.


Henry mengeluarkan ponselnya dan seketika foto Henrietta menjadi wallpaper utama di layar ponselnya.


Seketika hatinya kembali memanas mengingat Henrietta yang berpelukan dengan pria lain.


Sementara itu di luar kamar Dorothy sedang menatap tajam pada suaminya.


"Ini semua karna anak itu dan juga ide gila-mu, jika saja dulu kau tidak menyuruh Henrietta kemari dan menggantikan Julia semua ini tidak akan terjadi," kesal Dorothy.


"Aku juga tidak menyangka jika Henry akan mengakhiri hubungannya dengan Julia," ujar Marco.


"Kau bergerak terlalu lambat Marco," ucap Dorothy.


Dorothy mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi Henrietta.


"Tidak akan aku biarkan anak itu merusak kehidupan putriku," ucap Dorothy.


Dorothy terlihat berbicara pada Henrietta dengan senyum miring yang tercetak jelas di bibirnya.


"Dan satu lagi, kau ingin tahu sesuatu? sekarang Henry ada disini," ujar Dorothy.


"Kau tenang saja, aku jamin kau tidak akan melihatku lagi," itulah kata-kata yang di keluarkan oleh Henrietta.

__ADS_1


Dorothy langsung menutup telponnya setelah mendengar jawaban Henrietta.


"Seharusnya aku melakukan ini sejak dulu," gumam Dorothy.


__ADS_2